HUBUNGAN ANTARA INFORMASI TENTANG MENOPAUSE DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI MENOPAUSE

Pendahuluan

Perkembangan manusia tidak pernah statis semenjak terjadinya pembuahan hingga ajal, yang ditandai dengan perubahan baik dalam kemampuan fisik maupun kemampuan psikologis. Berbagai perubahan dalam perkembangan bertujuan untuk memungkinkan individu menyesuaikan diri dengan lingkungannya. Dalam mencapai tujuan ini maka realisasi diri atau aktualisasi diri memainkan peranan penting dalam kesehatan jiwa, individu yang berhasil menyesuaikan diri dengan baik secara pribadi dan sosial harus mempunyai kesempatan untuk mengungkapkan minat dan keinginannya dengan cara yang memuaskan dirinya. Walaupun selalu terjadi perubahan-perubahan yang bersifat fisik atau psikologis banyak orang tidak sepenuhnya menyadari kecuali perubahan-perubahan itu terjadi secara mendadak atau jelas mempengaruhi pola kehidupan mereka (Hasan, 1996).

Perubahan yang terjadi pada usia dewasa madya terbagi dalam usia madya dini berumur antara 40-50 tahun dan usia madya lanjut berumur 50-60 tahun. Usia dewasa madya (setengah baya) merupakan masa sulit dalam rentan kehidupan manusia. Baik tidaknya mereka menyesuaikan diri dalam kehidupan ini hasilnya bergantung pada dasar-dasar yang ditanamkan pada awal kehidupan khususnya harapan tentang penyesuaian diri terhadap peran dan harapan sosial dari masyarakat dewasa. Usia madya adalah peralihan dari masa dewasa awal kemasa tua, dimana kegelisahan dan kebingungan timbul kembali. Banyak para wanita sukar menerima kenyataan ini bahwa mereka telah memasuki masa tua, walaupun tanggal dan kalender serta bayangan dalam cermin telah mengingatkannya (Hasan, 1996).

Selanjutnya berbicara tentang usia madya erat kaitannya dengan peningkatan usia harapan hidup bangsa Indonesia yang diperkirakan mencapai 70 tahun, meningkat terus seiring dengan perbaikan taraf ekonomi dan derajat kesehatan. Usia harapan hidup wanita relatif lebih tinggi dibandingkan dengan pria, sehingga akan lebih banyak wanita usia lanjut (wulan) dalam penduduk kelompok lanjut usia (lansia), dengan demikian, akan lebih banyak pula wanita yang mengalami menopause dengan berbagai permasalahannya (Hanafiah, 1999).

Perbincangan mengenai wanita usia lanjut (wulan) dan khususnya tentang menopause tak lepas kaitannya dengan peningkatan harapan hidup penduduk. Pada tahun 1980 umur harapan hidup wanita Indonesia adalah 50,9 tahun, pada tahun 1985 menjadi 52,7 tahun dan di tahun 2000 diperkirakan mencapai 70 tahun dan pada tahun 2010 sekitar 40 % penduduk Indonesia akan mencapai usia lebih dari 60 tahun dan separuhnya adalah kaum wanita. Bila jumlah penduduk Indonesia 300 juta jiwa (dengan asumsi KB tetap berhasil) maka akan terdapat sekitar 50-60 juta wulan berusia diatas 60 tahun. Wanita yang berusia lebih dari 60 tahun, hampir 100% telah memasuki masa menopause (Kompas, 2001). Apabila melihat data dari WHO tampaknya ledakan menopause pada tahun-tahun mendatang sulit sekali dibendung. WHO memperkirakan di tahun 2030 nanti ada 1,2 milyar wanita yang berusia 50 tahun. Sebagian besar dari mereka (sekitar 80 %) tinggal di negara berkembang (Republika, 2001).

WHO telah menjadikan menopause sebagai peristiwa atau kejadian yang perlu mendapat perhatian internasional, pada tanggal 18 Oktober diperingati sebagai hari menopause sedunia, dan tanggal 20 Oktober sebagai hari osteoporosis sedunia. Perkumpulan Menopause Indonesia (PERMI), Persatuan Osteoporosis Indonesia (PEROSI) juga telah berdiri di beberapa kota di Indonesia seperti PERMI Yogyakarta, PERMI Jawa Barat dan Jakarta. Hal ini menunjukkan bahwa permasalahan menopause sudah semakin meluas di masyarakat (Hidayati, 2000).

Fakta lapangan menemukan bahwa 75 % wanita yang mengalami menopause akan merasakan berbagai masalah atau gangguan, sedangkan sekitar 25% lainnya tidak mempermasalahkan (Achadiat, 2003). Hal ini menegaskan bahwa umumnya wanita takut menghadapi menopause karena tidak siap menerima kenyataan, terlebih lagi karena ketidaktahuan informasi yang benar atau mitos-mitos yang keliru. Wanita yang belum mau mengalami menopause akan melakukan cara agar dapat menghambat datangnya menopause. Hal tersebut menyebabkan wanita menjadi cemas, murung, dan menarik diri dari lingkungan sosial ketika mengalami menopause

Sejalan dengan penelitian Triana (2002) yang menyatakan pada 30 orang wanita premenopause yang berkunjung di puskesmas Gondokusuman II dengan rentang usia 35-50 th, didapatkan bahwa 50 % tidak pernah mendengar istilah menopause, 53 % membutuhkan informasi yang benar mengenai menopause dari bidan dan dokter, 80 % tidak mengetahui gejala menghadapi menopause, 84 % tidak mengetahui cara memelihara kesehatan menghadapi menopause, dan 73,3 % tidak mengetahui resiko penyakit setelah menopause.

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: