HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DENGAN KECEMASAN MENGHADAPI PERTANDINGAN OLAH RAGA

Pendahuluan

Perkembangan olahraga di Indonesia selama enam tahun terakhir ini masih jauh dari harapan, jika tolok ukurnya prestasi olahraga Indonesia dilihat pada kejuaraan se – Asia Tenggara atau lebih dikenal dengan SEA GAMES maka yang didapat adalah bukti konkrit dari kemunduran prestasi olahraga Indonesia. Prestasi Indonesia pada pertandingan multi event Negara – Negara di kawasan Asia Tenggara, sebelum tahun 1999 selalu menyandang gelar juara umum. Selama keikutansertaan Indonesia pada SEA GAMES, Gelar juara umum direbut oleh Thailand yang juga adalah sebagai tuan rumah pertandingan terbesar dikawasan Asia Tenggara itu.

Menurut Agustina (www.suaramerdeka.com), atlet – atlet belum komit terhadap tenis sepenuhnya juga sebagai penyebab lambannya prestasi petenis Indonesia. Salah satu contoh, begitu pemain tiba di tempat pertandingan 5 menit sebelum jadwal bertanding, sehingga untuk stretching dilakukan asal – asalan. Salah satu kelemahan petenis Indonesia adalah kurang konsisten dalam permainan. Hal itu berkaitan dengan kurangnya disiplin baik dalam latihan, pemanasan, maupun persiapan menghadapi turnamen dan lainnya.

Upaya peningkatan mutu prestasi olahraga, memerlukan perhatian yang lebih serius dari semua pihak. Cabang – cabang ilmu pengetahuan seperti kedokteran, psikologi, nutrisi, serta olahraga itu sendiri juga dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi prestasi para atlet Indonesia. Psikologi olahraga sebagai salah satu bidang dalam ilmu psikologi, selama ini kurang mendapatkan tempat untuk dipelajari secara khusus, terlebih lagi secara eksplisit dipelajari dan dikembangkan melalui penelitian. Psikologi olahraga di Indonesia belum mendapatkan perhatian yang khusus untuk dipelajari baik secara teoritis maupun praktis, seperti melalui penelitian yang berguna dalam penerapannya. Hal ini banyak disebabkan kurangnya litelatur baik dalam bentuk buku ataupun jurnal sebagai acuan dalam pelaksanaannya (Gunarsa, 1996).

Padahal psikologi dapat memberikan sumbangan yang besar dan akan sangat berperan dalam usaha peningkatan prestasi dan kualitas atlet olahraga Indonesia. Psikologi olahraga menurut Penberton (1997), adalah studi mengenai psikologi dan faktor – faktor mental yang mempengaruhi dan dipengaruhi oleh partisipasi dan performance dalam olahraga, latihan, dan aktifitas fisik dan aplikasi pengetahuan yang didapat melalui studi di dalam kehidupan sehari – hari.

Psikologi olahraga mempelajari khususnya tentang proses mental – emosional atlet yang menjadi kontributor yang semakin menentukan dalam peningkatan prestasi atlet (Harsono, 1988). Hal ini menunjukkan bahwa atlet yang ingin berprestasi ke tingkat lebih tinggi lagi akan dituntut mempersiapkan diri dengan berlatih lebih keras. Contohnya seorang pemain tenis lapangan, jika ingin mencapai prestasi lebih baik maka ia tidak sekedar dituntut latihan keras, namun ia dituntut pula harus memiliki berbagai teknik pukulan secara sempurna, selain itu juga fisik serta mentalnya juga harus baik.

Dunia olahraga kini tidak lagi sekedar mengandalkan pada bakat, kekuatan, kecepatan dan kelenturan yang didapat dari fisik. Suatu latihan fisik yang telah dilakukan dengan mengikuti semua prosedur dengan benar akan sia – sia tanpa menyertakan faktor psikologis. Salah satu cara meningkatkan mutu prestasi adalah dengan memperhatikan faktor psikis pemain ketika akan berlaga atau bertanding di dalam suatu pertandingan. Hal tersebut haruslah menjadi perhatian banyak pihak terutama pelatih. Pelatih tidak hanya melatih fisik atlet semata melainkan juga ikut memantau sejauh mana kondisi psikis dan mental anak didiknya di dalam mengikuti program – program latihan yang dijalaninya. Pelatih perlu memahami keadaan dan perkembangan atlet dengan pendekatan individual.

Dalam olahraga, latihan mental sama pentingnya dengan latihan fisik. Ini mendukung adanya penekanan bahwa faktor psikologis dalam olahraga memiliki peran yang penting (Unestahl, 1986). Salah satu yang penulis gunakan adalah pendekatan holistik dengan tokohnya Kleinmann (1988) yang menegaskan bahwa prestasi olahraga tidak cukup didekati secara somatik, karena meningkat atau merosotnya prestasi atlet justru banyak ditentukan oleh faktor psikologis. Gejala – gejala psikologis yang biasanya menyebabkan prestasi atlet menurun adalah rasa jenuh, kelelahan, tertekan, stress, kecemasan dan ketakutan akan gagal, emosi yang meledak – ledak dan sebagainya.

Angelique Widjaya adalah petenis yang pernah menjuarai kejuaraan turnamen Wimbledon junior 2001, mengatakan bahwa efek psikologis sangat mempengaruhi permainannya. Pada bulan Juni 2004 pada kejuaraan DFS Classic, Birmingham, di nomor tunggal Angie kalah di babak pertama dari pemain Ukraina, kemudian di nomor ganda berpasangan dengan Maria Vento – Kabchi yang diunggulkan di tempat pertama juga mengalami kekalahan.
“Aku kehilangan konsentrasi, tidak fokus dan sepertinya kurang bisa memberikan perlawanan yang berarti. Fisik tidak ada masalah mungkin lebih kemasalah psikologis,” pernyataan Angie ( Tabloid Bola Jum’at, 18 juni 2004 ).

Download Selengkapnya
Bab I
Bab II -1
Bab II -2

Download Versi Lengkap

About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: