Aspek-Aspek Makna Hidup

A.    Makna Hidup

1.  Pengertian Makna Hidup

Orang yang pertama kali mengemukakan gagasan tentang makna hidup (meaning of life) adalah Frankl (2003) dengan teorinya yang diberi nama Logotheraphy. Gagasan ini muncul berdasarkan pengalaman hidup dan pengamatannya yang sangat menakutkan saat berada dalam sebuah kamp pembantaian milik Hitler. Frankl menyimpulkan bahwa kehidupan yang sehat adalah kehidupan yang penuh makna. Hanya dengan makna yang baik orang akan menjadi insan yang berguna tidak hanya untuk diri sendiri tetapi juga untuk orang lain. Makna hidup dapat diwujudkan dalam sebuah keinginan untuk menjadi orang yang berguna untuk orang lainnya, apakah itu anak, istri, keluarga dekat, komunitas, negara dan bahkan umat manusia.

Menurut Barnes (Prihastiwi, 1994) makna hidup adalah suatu kualitas penghayatan individu terhadap apa yang telah dilakukan sebagai upaya mengaktualisasikan potensinya, merealisasikan nilai-nilai dan tujuan melalui kehidupan yang penuh kreativitas dalam rangka pemenuhan diri (self fulfillment).

Tasmara (1999) juga menegaskan bahwa makna hidup adalah sebuah keyakinan serta cita-cita yang paling mulia yang dimiliki seseorang. Setiap individu menginginkan suatu makna hidup yang akan mewarnai perilaku dan peribatinnya, serta menjadi arahan segala kegiatannya dalam keberadaannya didunia.

Yalom (Bastaman, 1996) menjelaskan bahwa pengertian makna hidup di dalamnya terkandung juga tujuan hidup, yakni hal-hal yang perlu dicapai dan dipenuhi. Pendapat senada disampaikan Bastaman (1996) yang mengartikan bahwa makna hidup adalah hal-hal yang dipandang penting, benar , dan didambakan, memberikan nilai khusus serta dapat dijadikan tujuan hidup seseorang. Apabila berhasil ditemukan dan dipenuhi, maka kehidupannya menjadi berarti dan menimbulkan perasaan bahagia.

Frankl (2003) berpendapat bahwa makna hidup satu orang berbeda dengan yang lainnya, dari hari ke hari dan jam ke jam. Masalahnya, karena yang dimaksud bukan makna hidup dalam arti umum melainkan makna hidup dalam arti khusus dari hidup seseorang pada suatu waktu.

Manusia pada umumnya  mendambakan kehidupan yang bermakna, karena hal ini dapat dijadikan motivasi pada diri sendiri untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Dalam mencapai tujuan hidup, bagi kalangan yang tidak menghargai nila-nilai keagamaan, mungkin saja beranggapan bahwa alam semesta, ekosistem, pandangan filsafat dan ideologi tertentu memiliki nilai universal dan paripurna. Atas dasar ini, kalangan tersebut menjadikannya sebagai landasan dan sumber makna hidup. Sedangkan bagi kalangan yang menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan, maka ketuhanan dan agama merupakan sumber makna hidup yang paripurna, yang seharusnya mendasari makna hidup pribadi, lebih-lebih pada bangsa Indonesia yang umumnya beragama (Bastaman, 1996).

Schultz (1991) menyebutkan bahwa ada tiga sistem nilai yang merupakan sumber makna hidup. Pertama, nilai-nilai daya cipta atau kreasi (creative values), nilai ini intinya memberikan sesuatu yang berharga dan berguna pada kehidupan. Terletak pada sikap dan cara kerja yang mencerminkan keterlibatan pribadi pada pekerjaannya. Kedua, nilai-nilai penghayatan (experiental values), yaitu meyakini dan menghayati kebenaran, kebijakan, keindahan, keadilan, keimanan dan nilai-nilai lain yang dianggap berharga. Dalam hal ini, cinta kasih merupakan nilai yang penting untuk mengembangkan hidup bermakna. Karena dalam hubungan sosial saling mengasihi, seseorang akan merasakan hidupnya sarat dengan pengalaman penuh makna dan membahagiakan. Ketiga, adalah nilai-nilai sikap (attitudinal values), yaitu menerima dengan tabah dan mengambil sikap yang tepat terhadap penderitaan yang tidak dapat dihindari lagi setelah berbagai upaya dilakukan secara optimal, tetapi tidak berhasil mengatasinya. Mengingat peristiwa tragis ini tidak dapat dielakkan lagi, maka sikap menghadapi masalah perlu diubah. Dengan mengubah sikap, diharapkan beban mental akibat musibah berkurang, bahkan  mungkin saja dapat memberikan pengalaman berharga bagi penderita, dalam bahasa sehari-hari disebut hikmah. Maka, orang-orang yang bisa merealisasikan ketiga nilai dalam kondisi menderita sekalipun, berarti telah membuka gerbang ke arah hidup bermakna.

 Menurut Crumbaugh (Koeswara, 1987), kekurangan makna hidup bisa menjadi sebab maupun akibat kondisi depresi, baik dari kekurangan makna maupun kondisi depresi yang bisa ditimbulkan oleh penyebab-penyebab lain. Depresi yang dialami individu sebagai contoh menunjuk kepada situasi bila individu menghadapi makna yang melimpah, tetapi individu tersebut tidak mampu mengarahkan dirinya kepada makna-makna tertentu yang pasti, serta ketidakmampuan individu untuk menyesuaikan diri dan mengatasi masalah-masalah personalnya secara efisien. Sementara itu, individu yang kekurangan makna bisa tidak mengalami depresi karena dia hanyut didalam arus pengalaman yang tidak terorganisasi. Crumbaugh juga merancang kuantifikasi konsep makna hidup berdasarkan pandangan Frankl tentang pengalaman dalam menemukan makna hidup, terdiri dari tujuan hidup, kepuasan hidup, kebebasan berkehendak, sikap terhadap kematian, pikiran tentang bunuh diri, dan kepantasan hidup.  

Dari uraian tersebut di atas, maka yang dimaksud dengan makna hidup adalah hal-hal yang dipandang penting, benar, berharga, dan didambakan,  memberikan nilai khusus serta dapat dijadikan tujuan hidup, yang memotivasi diri sendiri, dalam keadaan apapun, untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat menurut sudut pandang dirinya sendiri.

2.      Sifat-sifat Makna Hidup

            Menurut Frankl (2003) karakteristik makna hidup meliputi tiga sifat, yaitu:

a.    Makna hidup sifatnya unik dan personal.

            Artinya apa yang dianggap berarti bagi seseorang belum tentu berarti bagi orang lain. Bahkan mungkin apa yang dianggap penting dan bermakna pada saat ini oleh seseorang, belum tentu sama bermaknanya bagi orang itu pada saat yang lain. Dalam hal ini makna hidup seseorang dan apa yang bermakna baginya biasanya bersifat khusus, berbeda dengan orang lain, dan mungkin dari waktu ke waktu berubah pula.

b.      Makna hidup sifatnya spesifik dan konkrit.

            Artinya dapat ditemukan dalam pengalaman dan kehidupan nyata sehari-hari dan tidak selalu harus dikaitkan dengan tujuan-tujuan idealis, prestasi-prestasi akademis yang tinggi, atau hasil-hasil filosofis yang kreatif.

c.       Makna hidup sifatnya memberi pedoman dan arah terhadap kegiatan-kegiatan yang dilakukan

   Artinya makna hidup seakan-akan menantang (challenging) dan mengundang (inviting) seseorang untuk memenuhinya. Begitu makna hidup ditemukan dan tujuan hidup ditentukan, maka seseorang akan terpanggil untuk melaksanakan dan memenuhinya. Kegiatan-kegiatan yang dilakukannya pun menjadi lebih terarah. 

Dalam kehidupan ini tidak selalu menawarkan kesenangan dan ketenangan, tetapi sebagai keseimbangan kehidupan ini juga menyediakan ketegangan dan penderitaan. Oleh karena itu, makna hidup harus dicari dan dipenuhi, serta tantangan-tantangan yang ada harus dihadapi dan dijawab. Hal ini terjadi karena setiap orang menginginkan dirinya menjadi orang yang berguna dan berharga bagi keluarga, lingkungan masyarakat, serta bagi dirinya sendiri. Sehingga Bastaman (1996) menjelaskan makna hidup tidak dapat diberikan oleh siapapun melainkan harus dicari dan ditemukan sendiri. Orang lain hanya dapat menunjukkan segala sesuatu yang secara potensial bermakna, namun untuk mencantumkan apa yang dianggap bermakna pada akhirnya terpulang pada orang yang diberi petunjuk itu sendiri.

3.  Ciri-ciri Hidup Bermakna

            Makna hidup harus dicari dan ditemukan sendiri oleh orang yang bersangkutan, maka apabila hasrat hidup bermakna tersebut terpenuhi, orang yang bersangkutan akan merasakan kehidupan bermakna. Menurut Frankl (2003) ciri-ciri orang yang merasakan hidup bermakna, dijelaskan sebagai berikut ini :    

a.       Menjalani kehidupan sehari-hari dengan semangat dan penuh gairah serta jauh dari perasaan hampa.

b.      Tujuan hidup, baik jangka pendek dan jangka panjang jelas, sehingga mereka jadi lebih terarah dan merasakan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai.

c.       Tugas-tugas dan pekerjaan sehari-hari merupakan sumber kepuasan dan kesenangan tersendiri, sehingga dalam pengerjaannya semangat dan bertanggung jawab.

d.      Mampu menyesuaikan diri dengan lingkungan, artinya menyadari pembatasan-pembatasan lingkungan, tetapi dalam keterbatasan itu tetap dapat menentukan sendiri apa yang paling baik untuk dilakukan.

e.       Menyadari makna hidup dapat ditemukan dalam kehidupan betapapun buruknya keadaan, menghadapinya dengan tabah dan menyadari bahwa hikmah selalu ada dibalik penderitaan.

f.       Kemampuan untuk menentukan tujuan-tujuan pribadi dan menentukan makna hidup sebagai sesuatu yang sangat berharga dan tinggi nilainya.

g.      Mampu mencintai dan menerima cinta kasih orang lain serta menyadari bahwa cinta kasih merupakan salah satu nilai hidup yang menjadikan hidup ini indah.

4.  Dimensi-dimensi proses keberhasilan hidup bermakna

            Berdasarkan hasil temuan studi kasus yang dilakukan Bastaman (1996), yaitu mengenai komponen dan proses keberhasilan mengembangkan penghayatan hidup bermakna, ia mengkategorikan ke dalam empat dimensi, yaitu :

a.       Dimensi personal.

Unsur-unsur yang merupakan dimensi personal adalah pemahaman diri dan pengubahan sikap.

b.      Dimensi sosial.

Mencakup dukungan sosial, faktor pemicu  kesadaran diri, dan model ideal pengarahan diri.

c.       Dimensi nilai-nilai

Meliputi pencarian makna hidup secara aktif, penemuan makna hidup, keterikatan diri terhadap makna hidup, kegiatan terarah pada tujuan, tantangan dan keberhasilan memenuhi makna hidup.

d.      Dimensi spiritual.

Komponen dimensi spiritual adalah keimanan sebagai dasar dari kehidupan beragama.

5.  Aspek-aspek dari Makna Hidup

Crumbaugh (Koeswara, 1987) menciptakan PIL Test (The Purpose in Life Test) berdasar pandangan Frankl tentang pengalaman dalam menemukan makna hidup, yang dapat dipakai untuk mengukur seberapa tinggi makna hidup seseorang. Aspek-aspek yang digunakan untuk mengukur tinggi-rendahnya makna hidup tersebut, antara lain:

a.       Tujuan hidup, yaitu sesuatu yang menjadi pilihan, memberi nilai khusus serta dijadikan tujuan dalam hidupnya.

b.      Kepuasan hidup, yaitu penilaian seseorang terhadap hidupnya, sejauhmana ia bisa menikmati dan merasakan kepuasan dalam hidup dan aktivitas-aktivitas yang dijalaninya.

c.       Kebebasan, yaitu perasaan mampu mengendalikan kebebasan hidupnya secara bertanggung jawab.

d.      Sikap terhadap kematian, yaitu bagaimana seseorang berpandangan dan kesiapannya menghadapi kematian. Orang yang memiliki makna hidup akan membekali diri dengan berbuat kebaikan, sehingga dalam memandang kematian akan merasa siap untuk menghadapinya.

e.       Pikiran tentang bunuh diri, yaitu bagaimana pemikiran seseorang tentang masalah bunuh diri. Bagi orang yang mempunyai makna hidup akan berusaha menghindari keinginan untuk melakukan bunuh diri atau bahkan tidak pernah memikirkannya

f.       Kepantasan hidup, pandangan seseorang tentang hidupnya, apakah ia merasa bahwa sesuatu yang dialaminya pantas atau tidak.

6. Faktor-faktor yang mempengaruhi Makna Hidup

            Mengingat pentingnya makna hidup dalam pengembangan pribadi individu, maka Bastaman (1996) mengungkapkan faktor-faktor yang mempengaruhi makna hidup, yaitu: BERSAMBUNG…………………………..

Berminat Dengan Skripsi Versi Lengkapnya?
Judul Asli Penelitian : “Perbedaan Makna Hidup Pada Lansia Yang Tinggal Di Panti Werdha Dengan Yang Tinggal Bersama Keluarga”
Kondisi : Lengkap + Skala Penelitian
Kode Skripsi : SPS-07
DONASI : Rp.50.000,-

PEMESANAN Melalui SMS
Ketik : SPS-07 (spasi) Email anda
Kirim Ke : 081949785959

PEMBAYARAN
Transfer Donasi Anda Ke :
No Rek : 3185-01-000831-50-7
a/n : Nur Fatimah
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
Silahkan Konfirmasikan Kepada Kami Setelah Anda Transfer Donasi Anda, Dan File Kami Kirimkan Langsung Ke Email Anda.
DIJAMIN 100% TIDAK ADA PENIPUAN.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: