Aspek-Aspek Penerimaan Diri

B. Penerimaan Diri

1. Pengertian Penerimaan Diri

Hidup adalah misteri, tidak ada yang tahu akan kejadian hari esok termasuk jalan hidup seseorang. Sepanjang perjalanan hidup seseorang, banyak peristiwa yang terjadi. Ada yang sedih, menyenangkan, menyakitkan, dan lain-lain. Tak jarang dari beberapa peristiwa yang dilalui seseorang mampu mengubah jalan hidupnya. Misalnya, seseorang yang semula mampu berjalan, berlari, bahkan menjadi atlet tiba-tiba mengalami musibah yang membuat kakinya harus diamputasi atau seorang anak yang sedang dalam pertumbuhannya tiba-tiba mengalami kelayuahan pada kedua kakinya. Senyum yang mengembang tiba-tiba menghilang ditelan keterkejutan dan kepanikan yang sulit dipahami. Peristiwa tersebut membuat seseorang harus mampu menerima kondisi diri yang baru bila menginginkan hidupnya tetap berjalan. Proses menerima diri tersebut tentunya bukan pekerjaan mudah dan cepat, sebaliknya memerlukan tahapan-tahapan yang berat dan panjang serta relatif lama. Ibarat sebuah rapat, dimana di dalamnya terjadi perdebatan untuk menuju kata mufakat atau sepakat atau menerima. Perdebatan tersebut tentu tidak selalu berjalan lancar, terkadang memerlukan penundaan sehingga memakan waktu berhari-hari. Sama halnya dengan seseorang yang tiba-tiba harus kehilangan kemampuan mobilitasnya. Di dalam dirinya penuh pergolakan psikis yang pada awalnya sulit untuk dipahami. Ada perasaan bingung, panik, khawatir, malu, putus asa, dan lain-lain. Reaksi-reaksi tersebut menunjukkan bahwa diri belum bisa berdamai atau menerima dengan realita yang ada. Perlu waktu bagi diri untuk berproses sampai pada akhirnya mampu menerima kenyataan yang ada.

Menerima diri tidak semudah membalikkan telapak tangan. Proses menerima diri perlu didasari dengan pengetahuan yang mendalam tentang diri. Seseorang sebelum menerima sesuatu biasanya mencoba ingin mengetahui hal-hal yang terkait dengan sesuatu yang hendak diterimanya. Setelah mengetahui barulah seseorang mau menerimanya. Misalnya, seseorang tiba-tiba mendapatkan kiriman kado, setelah mengetahui bahwa yang mengirim adalah teman dekatnya maka dirinya akan senang hati menerima, sebaliknya jika pengirim adalah orang yang tak dikenal atau tidak jelas maka orang tersebut akan waspada bahkan menolak pemberian tersebut. Sama halnya dengan menerima diri. Keberhasilan menerima diri diawali dengan mengetahui dan mengenal secara baik, barulah kemudian dapat menghargai diri selanjutnya penerimaan diri menjadi lebih mudah. Shostrom (Poduska, 1990) menegaskan bahwa menerima diri berarti mengetahui keterbatasan diri, baik kelemahan maupun kelebihan yang dimilikinya.

Berdasarkan kamus lengkap psikologi yang disusun oleh Chaplin (2000), penerimaan diri diartikan sebagai sikap seseorang yang merasa puas dengan diri sendiri, kualitas-kualitas, dan bakat-bakatnya sendiri, serta pengakuan akan keterbatasan diri. Ada dua hal penting dalam arti penerimaan diri tersebut, pertama adanya perasaan puas terhadap apa yang telah dimiliki; kedua, adanya pengakuan akan keterbatasan yang dimilikinya.

Pengakuan dan rasa puas terhadap diri dapat mendatangkan rasa berharga. Misalnya, individu mengakui akan ketidakmampuannya berjalan bila tidak menggunakan alat bantu dan individu dapat menerima keadaan tersebut. Sikap yang demikian membuat individu tidak akan mencela diri sendiri ketika menemukan hambatan beraktivitas akibat cacat kakinya. Individu yang dapat menghargai diri sendiri akan membantu proses penerimaan dirinya. Menurut Supratiknya (1995) menerima diri adalah memiliki penghargaan yang tinggi 

terhadap diri sendiri, atau tidak bersikap merendahkan terhadap diri sendiri. Ini berarti seseorang yang mampu menerima dirinya mampu melihat kebaikan sekaligus kekurangan yang ada di dirinya. Penghargaan yang tinggi bukan berarti memiliki sikap tinggi hati, melainkan dapat menghargai diri sendiri beserta kekurangan dan kelebihannya. Individu yang menghargai dirinya tidak akan mencela diri atas kekurangan yang dimiliki.

Keadaan kurang terkadang membuat individu memimpikan keadaan yang sebaliknya, yaitu kesempurnaan, namun senantiasa berada pada impian akan membuat diri melayang dan lupa diri. Individu perlu menapak pada kenyataan yang ada tentang dirinya, agar proses penerimaan diri menjadi lebih mudah. Mappiare (1982) mengungkapkan bahwa menerima diri dimaksudkan agar individu dapat menerima keadaan diri sebagaimana adanya keadaan diri individu tersebut; bukan khayalan dan impian. Usaha yang perlu dilakukan adalah memelihara keadaan jasmaninya, wajah, kekuatan/kelembutan yang dimilikinya sendiri, serta memanfaatkannya secara efektif. Misalnya, saat individu memiliki memiliki kaki bengkok maka yang lebih utama dilakukan adalah merawat kaki tersebut dan menjaganya agar tidak terkena penyakit yang dapat memperburuk keadaan kakinya, daripada mengkhayalkan dirinya menjadi seorang model. Rogers (Supratiknya, 1993) mengatakan bahwa kesenjangan yang semakin besar antara kenyataan diri dengan diri yang ideal dapat membuat orang tidak puas dan tidak dapat menyesuaikan dirinya. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri dapat berakibat penolakan terhadap dirinya, yang pada akhirnya tidak mampu menerima diri sendiri. Akibat dari dari ketidakmampuan menyesuaikan diri menurut Schneiders (1964) salah satunya adalah ketidakmampuan menerima diri sendiri.

Ketidakmampuan menerima diri sendiri membuat individu sering mengeluhkan hal-hal buruk tentang dirinya kepada orang lain. Keluhan yang tidak berkesudahan dapat membuat orang lain terganggu, sehingga membuat orang lain menjaga jarak dengan individu tersebut. Terganggunya hubungan individu dengan orang lain dapat berakibat individu terrtekan karena merasa tidak memiliki teman, sebaliknya jika individu dapat menerima diri sendiri maka itu dapat memberikan perasaan yang nyaman bagi individu yang bersangkutan dan lingkungannya (Matthews, 2003). Artinya diri sendiri menjadi senang orang lain pun ikut senang. Akibat lain yang ditimbulkan dari kemampuan menerima diri menurut Supratiknya (1995) adalah dapat menimbulkan kerelaan diri untuk membuka atau mengungkapkan aneka pikiran, perasaan, dan reaksi kepada orang lain, pandangan bahwa dirinya disenangi, berharga, dan diterima oleh orang lain, dan mampu menerima orang lain. Individu yang menerima dirinya sadar akan kelebihan dan kelemahannya, sehingga membuat individu mampu menghargai dirinya, serta memiliki pandangan positif terhadap orang lain dan dapat menerima orang lain sebagaimana adanya.

Hurlock (1980) juga berpendapat bahwa menerima diri sendiri dapat menimbulkan perilaku yang membuat orang lain menyukai dan menerima remaja. Ini kemudian mendorong perilaku remaja yang baik dan mendorong perasaan menerima diri sendiri. Sikap menerima diri dapat menentukan kebahagiaan seseorang.

Menjadi diri yang menyenangkan bagi diri sendiri dapat dilakukan dengan cara senantiasa menumbuhkan perasaan suka pada diri, misalnya dengan menghargai kerja keras diri sendiri, sekalipun hasilnya belum maksimal. Matthews (2003) menjelaskan bahwa untuk dapat merasa senang terhadap diri sendiri maka yang perlu dilakukan adalah tidak mengkritik diri sendiri, bersikap wajar dalam menerima pujian, memberikan pujian, meluangkan waktu bersama orang-orang positif, berpikir positif terhadap diri, dan melakukan perubahan prilaku ke arah positif.

Dari berbagai pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa penerimaan diri adalah kemauan individu untuk dapat mengakui dan menerima diri apa adanya diawali proses mengetahui kelebihan, kekurangan, dan atribut pribadi lainnya, sehingga individu mampu membandingkan antara dirinya yang ideal dengan yang riil. Selanjutnya individu mampu menyesuaikan diri dengan keadaannya dengan cara memanfaatkan apa yang dimilikinya secara efektif dan memiliki tangguang jawab untuk melakukan perubahan ke arah positif; tidak mengkritik dan tidak bersikap merendahkan diri; menerima pujian secara wajar dan mampu memberikan pujian, sehingga timbul rasa menghargai diri sendiri, mampu bersikap baik dan berani mengungkapkan diri kepada lingkungan. Dampak yang ditimbulkan adalah perasaan membuat diri sendiri dan orang lain merasa senang.

2. Aspek-Aspek Penerimaan Diri

Aspek-aspek yang terkandung dalam penerimaan diri, diantaranya adalah sebagai berikut:

a.    Pengetahuan diri

Menurut Shostrom (Poduska, 1990) proses penerimaan diri dapat ditempuh melalui pengetahuan terhadap diri sendiri terutama keterbatasan diri sehingga individu tidak berbuat di luar kesanggupannya dan tidak perlu berpura­pura sanggup melakukan sesuatu. Pengetahuan diri dapat dilakukan dengan mengenal diri baik secara internal maupun eksternal. Simorangkir (1987) berpendapat bahwa mengenal secara internal dapat dilakukan dengan cara menilai diri sendiri dalam hal kelebihan, kelemahan, sifat-sifat, dan lain-lain. Secara eksternal pengenalan diri dilakukan dengan cara menilai diri menurut pandangan orang lain.

b.    Penerimaan diri pantulan (reflected self-acceptance)

Yaitu membuat kesimpulan tentang diri kita berdasarkan penangkapan kita tentang bagaimana orang lain memandang diri kita. Hal tersebut bisa dilakukan dengan cara meminta pendapat orang lain tentang diri sendiri (Supratiknya, 1995).

c.       Penerimaan diri dasar (basic self-acceptance)

Yaitu keyakinan bahwa diri diterima secara intrinsik dan tanpa syarat. Penerimaan diri dasar ini lebih berorientasi pada urusan personal individu. Individu mampu menghargai dan menerima diri apa adanya serta tidak menetapkan standar atau syarat yang tinggi di luar kesanggupannya dirinya (Supratiknya 1995).

d.      Pembandingan antara yang real dan ideal (Real-Ideal Comparison) Yaitu penilaian tentang diri yang sebenarnya dibandingkan dengan diri yang diimpikan atau inginkan (Supratiknya, 1995). Kesenjangan antara diri ideal dan riil hanya akan menyebabkan individu merasa tidak puas diri dan mudah frustasi.

e.       Pengungkapan diri

Pengungkapan diri mengandung arti bahwa penerimaan diri dapat ditempuh dengan upaya mengasah keberanian untuk mengungkapan diri (pikiran, perasaan, atau lainnya) kepada orang lain (Supratiknya, 1995). Pengungkapan diri dapat memberi informasi kepada individu tentang siapa dirinya, sebab dari interaksi tersebut individu akan mendapat feed back yang berguna untuk memperkaya pengetahuan tentang dirinya. Pengungkapan pikiran atau perasaan hendaknya dilakukan secara asertif sebab tindakan tersebut lebih mendukung pada perkembangan kepribadian yang sehat daripada cara agresif maupun pasif. Menurut Allport (Sobur, 2003) elemen penting dalam penerimaan diri adalah kemampuan mengontrol emosi. Upaya mengontrol emosi dapat dilakukan melalui tindakan asertif, sebab di dalam asertif terdapat pengontrolan emosi sehingga pengungkapan diri antar individu yang berkomunikasi dapat berjalan seimbang dan tidak ada individu yang tersakiti atau menyakiti.

f.       Penyesuaian diri

Menurut Schneiders (1964) di dalam penerimaan diri terdapat penyesuaian diri. Individu yang tidak mampu menyesuaikan diri menjadi tidak mampu untuk menerima dirinya sendiri. Misalnya, ketika individu memiliki cacat pada tubuhnya, maka individu harus menyesuaikan diri dengan cacat tersebut, agar cacatnya dapat diterima menjadi bagian dari dirinya. Sebaliknya, bila tidak mampu menyesuaikan diri maka individu cenderung mengembangkan reaksi negatif bagi dirinya seperti terus menerus mengeluh, putus asa, frustasi, mengacuhkan dirinya, dan lain-lain. Reaksi tersebut menunjukkan bahwa individu berupaya melakukan penolakan terhadap cacat tubuhnya. Jika keadaan ini dibiarkan maka individu tidak akan mampu menerima dirinya.

g. Memanfaatkan potensi secara efektif

Individu yang dapat memanfaatkan potensi dirinya secara efektif dapat membantu terciptanya penerimaan diri. Mappiare (1982) mengatakan bahwa penerimaan diri berarti mampu menerima diri apa adanya dan memanfaatkan apa yang dimilikinya secara efektif. Pendapat Mappiare mengandung dua hal yaitu pertama, proses penerimaan diri terdapat kemampuan untuk mengenali potensi diri. Kedua ada upaya yang positif untuk memanfaatkan apa yang dimilikinya, hal itu berarti ada rencana untuk mencapai masa depan yang baik.

Kesimpulannya, aspek-aspek dalam penerimaan diri meliputi pengetahuan diri, penerimaan diri pantulan, penerimaan diri dasar, pembandingan antara diri yang riil dengan ideal, pengungkapan diri, penyesuaian diri, penghargaan diri, dan ada rencana ke depan. Aspek-aspek tersebut yang akan digunakan dalam penyusunan modul penerimaan diri. BERSAMBUNG……………………..

Berminat Dengan Skripsi Versi Lengkapnya?
Judul Asli Penelitian : “Pengaruh Pelatihan Penerimaan Diri Terhadap Peningkatan Harga Diri Pada Remaja Penyandang Cacat Tubuh Kaki”
Kondisi : Lengkap + Skala Penelitian
Kode Skripsi : SPS-01
DONASI : Rp.50.000,-

PEMESANAN Melalui SMS
Ketik : SPS-01 (spasi) Email anda
Kirim Ke : 081949785959

PEMBAYARAN
Transfer Donasi Anda Ke :
No Rek : 3185-01-000831-50-7
a/n : Nur Fatimah
BANK RAKYAT INDONESIA (BRI)
Silahkan Konfirmasikan Kepada Kami Setelah Anda Transfer Donasi Anda, Dan File Kami Kirimkan Langsung Ke Email Anda.
DIJAMIN 100% TIDAK ADA PENIPUAN.

About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 45 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: