Kecenderungan Kenakalan Remaja Karena Pola Asuh Otoriter

Perbedaan Kecenderungan Kenakalan Remaja Yang Mengalami Pola Asuh Otoriter Ditinjau Dari Status Sosial Ekonomi
Subyek yang mengalami pola asuh otoriter ada sekitar 40.10% dan 59.90% tidak mengalami pola asuh otoriter. Dari subyek 40.10% atau yang berjumlah 79 tersebut dilakukan uji anova. Hasil penelitian ini mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa ada perbedaan kecenderungan kenakalan remaja yang mengalami pola asuh otoriter ditinjau dari status sosial ekonomi, perbedaan status sosial ekonomi yang menonjol pada kategori Sejahtera I dan Sejahtera III Plus dan ternyata perbedaan tersebut sigifikan. Hal ini berarti bahwa status sosial ekonomi mempengaruhi kecenderungan kenakalan remaja yang mengalami pola asuh otoriter.
Dilihat dari hasil rerata ada perbedaan kecenderungan kenakalan remaja yang mengalami pola asuh otoriter ditinjau dari ststus sosial ekonomi yaitu subyek yang mempunyai kecenderungan kenakalan remaja yang mengalami pola asuh otoriter terdapat pada status sosial ekonomi pra sejahtera dan sejahtera I. Rerata untuk kecenderungan kenakalan remaja yang mengalami pola asuh otoriter pada status sosial ekonomi Pra sejahtera= 72.95, Sejahtera I= 82.15, Sejahtera II= 69.18, Sejahtera III= 62.80, Sejahtera III Plus= 58.25. Status sosial ekonomi Pra Sejahtera dan Sejahtera I diasumsikan termasuk status sosial ekonomi rendah.
Hasil penelitian ini mendukung pernyataan Hawari (1996) yaitu Faktor yang dapat mempengaruhi anak menjadi nakal dan liar kemungkinan besar antara lain berasal dari kondisi dari keluarga itu sendiri yaitu status sosial ekonomi. Hawari (1996) juga mengatakan kenakalan remaja cenderung terjadi pada tingkat sosial ekonomi rendah dan tinggi karena remaja berkembang dalam keadaan bebas, tertekan dan selalu banyak masalah seperti anak kurang atau berlebihan mendapatkan perhatian, kasih sayang dan tuntunan pendidikan orang tua karena kurangnya pendidikan dan pengetahuan, kebutuhan fisik maupun psikis remaja yang tidak terpenuhi sehingga keinginan dan harapan anak tidak bisa tersalur dengan memuaskan.
Anak-anak tidak pernah mendapatkan latihan fisik dan mental yang sangat diperlukan untuk bertindak susila seperti kebiasaan disiplin dan kontrol diri yang baik. Pengaruh demikian ini akan menjadikan jiwa remaja mudah malakukan perilaku nakal. Dalam penelitian ini justru kenakalan remaja bisa terjadi pada golongan status sosial ekonomi manapun, tetapi bila dibandingkan antar golongan tersebut ternyata status sosial ekonomi rendah lebih tinggi kecenderungan kenakalannya dari pada status sosial ekonomi tinggi.
Hasil penelitian ini juga mendukung pernyataan Kartono (2003), bahwa jumlah kenakalan remaja paling banyak adalah terkonsentrasi pada kelas ekonomi rendah yang menghuni daerah perkampungan miskin ditengah dan tepian kota. perbandingan jumlah delinkuensi diantara daerah perkampungan miskin yang rawan dengan daerah yang memiliki banyak privilege diperkirakan 50:1.
Secara tidak langsung anak-anak dari status soaial ekonomi rendah tidak atau kurang sekali diberi tuntutan dan pendidikan yang baik, kurang mendapatkan tuntunan hidup berdisiplin dan susila. Dengan sendirinya anak-anak dan remaja miskin ini kurang untuk bersaing melawan para remaja dari kelas sosial ekonomi menengah dan tinggi, khususnya bersaing ditengah masyarakat kota yang serba keras.
Remaja yang berasal dari status soial ekonomi rendah merasa kecewa tidak bisa mendapatkan obyek yang sangat diinginkannya sehingga mereka mengalami frustasi dan tekanan batin. Karena banyaknya rintangan, tekanan batin dan frustasi tersebut para remaja lalu menolak etik masyarakat dan segala norma sosial serta hukum yang dianggapnya sebagai tidak adil ( Kartono, 2003)
Gerungan (2002) mengatakan bahwa keadaan status sosial ekonomi keluarga mempunyai peranan terhadap perkembangan anak-anaknya. Dengan adanya perekonomian yang cukup, lingkungan material yang dihadapi anak didalam keluarganya akan lebih memadahi, sehingga ia mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan. Hubungan sosial dengan orang tuanya pun agak berlainan coraknya bila orang tuanya hidup dalam status ekonomi serba cukup dan kurang mengalami tekanan-tekanan fundamental seperti dalam hal memperoleh nafkah hidup yang memadai. Orang tuanya dapat mencurahkan perhatian yang lebih mendukung kepada masalah pendidikan anak-anaknya dan tidak dibebani dengan masalah pemenuhan kebutuhan-kebutuhan primer dalam keluarga.
Warner dkk (Soekanto,1990) mengatakan bahwa perilaku sosial para remaja secara fungsional berhubungan dengan posisi kelurganya dalam struktur sosial mereka. Seorang anak yang dilahirkan pada sebuah keluarga yang berstatus sosial ekonomi tinggi akan mengalami pola latihan yang berbeda dengan yang diberikan terhadap anak yang dilahirkan dalam keluarga yang berstatus ekonomi kurang. Hal ini dikarenakan perbedaan dalam skala kehidupan misalnya dalam hal jumlah dan kualitas barang serta jasa yang dikonsumsi. Oleh karena itu pola kebutuhan dan keinginan anak yang berasal dari keluarga berstatus ekonomi tinggi akan berbeda dengan anak-anak dari keluarga yang berstatus ekonomi rendah.
Status sosial ekonomi rendah cenderung menggunakan pola asuh otoriter yang antara lain menggunakan hukuman secara berkala. Status sosial ekonomi tinggi cenderung mengikuti perkembangan zaman, karena status sosial ekonomi tinggi dapat mengikuti perkembangan, pengetahuan atau ilmu tentang pola asuh terhadap anaknya. Seperti halnya status sosial ekonomi yang berbeda akan menggunakan bahasa yang berbeda sehingga akan memperoleh kemampuan komunikasi yang berbeda juga (Erika Hoft,1995).
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa siswa-siswi SLTP N I kelas dua Bandar Batang memiliki tingkat pola asuh otoriter sedang, ini menunjukkan bahwa orang tua siswa memperlakukan anak tidak hanya dengan pola asuh otoriter saja tetapi juga dengan tipe pola asuh yang lain seperti demokratis dan permisif.
Bukti empirik yang diperoleh dari penetian ini juga memperlihatkan bahwa, subjek penetian ini memiliki kecenderungan kenakalan remaja siswa siswi SLTP N 1 Bandar kelas dua memiliki tingkat kecenderungan kenakalan remaja yang relatif rendah. Informasi yang diperoleh dari pihak sekolah mendukung hasil dari penetian ini. Jumlah pelanggaran peraturan sekolah ternyata relative sangat sedikit dan hal tersebut berupa pelanggaran ringan.
Rendahnya jumlah pelanggaran yang dilakukan subjek penetian diduga disebabkan oleh faktor penerapan disiplin sekolah yang cukup baik dan konsisten. Setiap pelanggaran yang dilakukan akan dikenai sangsi dan hukuman, sesuai dengan berat ringannya pelanggaran tersebut. Konsistensi penerapan disiplin tersebut membawa dampak positif bagi siswa, yaitu membantu siswa mengontrol perilaku dan bertanggung jawab atas perilakunya.
Penetian ini melakukan analisis tambahan mengenai pola asuh otoriter yang bertujuan untuk mengetahui korelasi antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan kenakalan remaja pada siswa siswi SLTP N 1 Bandar. Hasil analisis korelasi product moment dari Spearman (karena data menunjukkan tidak normal), menunjukkan harga koefisien sebesar r = – 0,204 (P < 0,05) dengan koefisien determinant 0,077. Berarti pada penelitian ini ada korelasi negative yang signifikan antara pola asuh otoriter dengan kecenderungan kenakalan remaja khususnya siswa SLTP N 1 Bandar. Semakin tinggi pola asuh otoriter, semakin rendah kecenderungan kenakalan remaja. Semakin rendah pola asuh otoriter semakin tinggi kcenderungan kenakalan remaja.
Kekuatan hubungan kedua variabel tersebut yang ditunjukkan oleh koefisien korelasi sebesar – 0,204 memperlihatkan tinggi rendahnya pola asuh otoriter menjadi salah satu prediktor rendahnya kecenderungan kenakalan remaja dan sumbangan efektif pola asuh otoriter terhadap kecenderungan kenakalan remaja sebesar 7,7%.
Karena pola asuh otoriter pada subjek ini digolongkan sedang, yang artinya orangtua tidak hanya menggunakan pola asuh otoriter saja, tetapi juga menggunakan pola asuh non otoriter, diduga ini dapat mempengaruhi semakin rendahnya kencenderungan kenakalan remaja. Menurut Baldwin ( gerungan, 2002) pola asuh otoriter akan menunjukkan ciri-ciri menyerah segala-galanya kepada pemimpin dan menimbulkan rasa takut-takut, dan dikontol dengan ketat. Di duga pola suh otoriter dalam penelitian ini, subyek merasa takut dan menyerahkan segalanya kepada orang tuanya sehingga subyek tidak mau mengambil resiko jika melakukan kenakalan remaja atau takut dihukum.
Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap
About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: