Kemampuan Konservasi Anak Yang Tinggal Di Panti Asuhan Atau Bersama Orangtuanya

Perbedaan Kemampuan Konservasi Antara Anak Yang Tinggal Di Panti Asuhan Dengan Anak Yang Tinggal Bersama Orang Tua
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada perbedaan yang signifikan terhadap kemampuan konservasi antara anak yang tinggal di panti asuhan dengan anak yang tinggal bersama orang tuanya. Hal ini dapat dilihat dari nilai t = -2,401 dengan p=0,02 (p<0,05). Dengan demikian hipotesis diterima. Mereka yang tinggal bersama orang tuanya memiliki mean empirik yang lebih besar, yaitu sebesar 6,7333. Sedangkan anak yang tinggal di panti asuhan memiliki mean empirik sebesar 5,1000. Ini berarti bahwa mereka yang tinggal bersama orang tuanya memiliki kemampuan konservasi yang lebih tinggi dari pada anak yang tinggal di panti asuhan.
Adanya perbedaan kemampuan konservasi pada kedua kelompok ini ternyata disebabkan oleh adanya perbedaan kondisi psikologis lingkungan tempat tinggal (dalam hal ini kondisi psikologis lingkungan panti asuhan dan keluarga). Kondisi lingkungan yang dapat mempengaruhi perkembangan psikis khususnya perkembangan kognitif yaitu selain pemenuhan kebutuhan biologis, anak juga memiliki kebutuhan sebagai mahluk sosial seperti penerimaan sosial dan dukungan sosial.
Keluarga sebagai lingkungan primer memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan kognitif anak, karena dalam lingkungan keluarga, selain pemenuhan kebutuhan nutrisi, anak memperoleh kehangatan, rasa aman karena menjadi anggota kelompak yang stabil, adanya sumber penerimaan yang tidak terpengaruh oleh apa yang mereka lakukan, dan ada pemberian stimulasi (Hurlock, 1978). Hal inilah yang tidak dialami oleh anak-anak yang berada di yayasan atau panti asuhan.
Dengan adanya perasaan aman, kehangatan, penerimaan dan kasih sayang dari orang-orang yang mengadakan kontak dan interaksi secara spontan dan tetap tadi, maka anak akan mengembangkan perilaku lekat dengan orang-orang tersebut.
Dalam yayasan atau panti asuhan, kebutuhan ini sulit diperoleh oleh anak-anak dalam panti asuhan, mungkin karena pengasuh bukanlah ibu biologis bagi anak-anak tersebut sehingga ikatan emosi antara mereka sangat minim. Hal ini menyebabkan anak tadi tidak mampu mengembangkan perilaku lekat dengan orang–orang dewasa tadi.
Bila anak tidak memiliki kesempatan untuk mengadakan kontak yang tetap dengan orang-orang tersebut sehingga ia tidak dapat mengembangkan perilaku lekat, maka kondisi ini dapat mengakibatkan penyimpangan dalam perkembangan anak, salah satunya yaitu kemunduran dalam bidang kognisi (Mönks et al, 2002).
Apabila mengaitkan peranan keluarga dengan upaya memenuhi kebutuhan individu dari Maslow, maka keluarga merupakan lembaga pertama yang dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Melalui perawatan dan perlakuan yang baik dari orang tua, anak dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya, baik fisik-biologis, maupun sosiopsikologisnya. Apabila anak telah memperoleh rasa aman, penerimaan sosial dan harga dirinya, maka anak dapat memenuhi kebutuhan tertinginya, yaitu perwujudan diri (Self-actualization) (Yusuf, 2002).
Hasil penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Bella (dalam Hallahan dan Kauffman, 1982) yang menemukan bahwa anak-anak yang tinggal di panti asuhan memiliki kemampuan kognitif yang lebih rendah dibanding dengan anak yang diasuh oleh keluarganya.
Di Indonesia, penelitian yang dilakukan oleh Hartini (dalam Jurnal INSAN, 2001) menunjukan bahwa mereka yang tinggal di panti asuhan cenderung lambat dalam memahami dan mengerti persoalan. Hartini menambahkan bahwa mereka agaknya bodoh, yang mungkin kebodohannya itu disebabkan karena taraf kecerdasannya yang tergolong rendah, atau disebabkan karena gangguan psikologis yang lain.
Hasil analisis tambahan menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan kemampuan konservasi antara sesama jenis kelamin pada kedua kelompok tersebut. Begitu pula dengan perbedaan kemampuan konservasi antara jenis kelamin laki-laki dan perempuan, yang ternyata tidak ada perbedaan antara keduanya, karena ternyata kemampuan konservasi tidak dipengaruhi oleh perbedaan jenis kelamin.
Banyak peneilian yang menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan antara kecerdasan pria dengan kecerdasan wanita. Yang berbeda hanyalah minat dan reaksi-reaksi mereka terhadap lingkungan. Hal ini disebabkan karena perbedaan sifat “genes” atau kromosom. Perbedaan ini disebabkan Karena adanya mekanisme interaksi kormosom-kromosom XX versus interaksi kromosom-kromosom XY yang mengakibatkan perbedaan bentuk tubuh, bekerjanya kelenjar dan zat-zat biochemical (Dalyono, 2001).
Pada tahap operasional kongkrit, kemampuan kognitif anak tidak hanya pada kemampuan konservasi saja, tetapi ada juga kemampuan kognitif yang lainnya, seperti klasifikasi dan seriasi. Namun seorang anak dikatakan telah masuk pada tahap operasional kongkrit bila ia telah mampu mengintegrasi prinsip konservasi. Kemampuan berfikir konservasi merupakan bukti terkuat bahwa anak tersebut telah berada pada tahap operasional kongkrit.
Perlu diperhatikan bahwa dalam penelitian ini terdapat beberapa kelemahan yang belum dicermati. Pertama, peneliti hanya menggambarkan kondisi keluarga yang ideal. Padahal jika dicermati, dewasa ini banyak terjadi kekerasan pada anak yang dilakukan oleh anggota keluarga ataupun keluarga yang mengeksfloitasi anak untuk mencari nafkah. Kedua, dalam penelitian ini kurang mencermati adanya perberdaan kondisi fisik dan non fisik pada tiap-tipa panti asuhan.
Panti asuhan kini telah banyak yang memiliki program-program pendidikan yang sangat baik selain menyekolahkan anak pada sekolah umum, seperti memiliki guru khusus di rumah baik itu mengajarkan pengetahuan umum maupun pendidikan agama, juga tersedianya permainan-permainan edukatif. Mereka pun sangat memperhatikan dan peduli terhadap kesehatan anak-anak asuhnya. Namun ada pula panti asuhan yang belum dapat memenuhi kondisi tersebut di atas karena terbatasnya dana. Hal ini pula yang menyebabkan jumlah pengasuh yang terbatas.
 Silahkan Pesan Jika Anda Berminat Dengan Softcopy Versi Lengkap 
About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: