Sikap Kooperatif Karyawan Yang Berhubungan Dengan Kecerdasan Emosi

Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Sikap Kooperatif Karyawan

Apa yang ada dalam diri seseorang akan ikut serta menentukan terbentuknya sikap seseorang, selain dari pengalaman-pengalaman yang diperoleh. Anorogo dan Widiyanti (1993) berpendapat bahwa unsur perasaan emosi itu besar sekali peranannya dalam menentukan sikap para karyawan.
Kecerdasan emosional seseorang dapat mendorong seseorang untuk bekerja sama dengan orang lain. Menurut Segal (2000) ada beberapa aturan yang dapat membantu seseorang dalam menerapkan kecerdasan emosional. Dengan menerapkannya dapat mendorong kerja sama dan komunikasi seseorang di tempat kerja. Aturan-aturan tersebut antara lain: (1) Mengingat bahwa semua orang memiliki emosi yang sama; (2) Mengingat bahwa semua orang perlu merasa dihargai dan dibutuhkan; (3) Mencari dan membentuk kerja tim dan kerja sama; (4) Bersikap proaktif, bukan reaktif; (5) Mempercayai perasaan naluri diri sendiri; (5) Tidak membiarkan emosi diri sendiri membusuk.
Patton (1998a) berpendapat bahwa bila mitra kerja tidak bekerja sama saling membantu itu merupakan tanda-tanda bahwa dalam organisasi tersebut tidak ada EQ. Dijelaskan pula oleh Goleman (2000b) bahwa kecerdasan emosional adalah kunci menuju tercapainya keunggulan individu maupun kelompok. Kecakapan-kecakapan emosi yang membuat tim bintang tampak memiliki kemampuan berbeda adalah: empati, atau pemahaman antar pribadi, kerja sama dan usaha secara terpadu, mempunyai inisiatif dan mengambil sikap proaktif dalam memecahkan masalah, luwes dalam pelaksanaan tugas bersama, dan menjalin hubungan dengan tim-tim lain.
Sebelum ini, kecerdasan bisnis didominasi oleh model fisika dan matematika yang memperlakukan segala sesuatu sebagai benda tak bernyawa dan dikenal hanya berdasarkan nomor. Model kecerdasan bisnis yang baru menggunakan model biologis yang memperlakukan orang, pasar, gagasan, dan organisasi sebagai sesuatu yang unik, hidup, dan sejak lahir mempunyai kemampuan untuk berubah, berinteraksi, bersinergi, dan tumbuh. Dalam banyak hal, orang yang bersedia mendengarkan informasi intuitif dan petunjuk-petunjuk dari kecerdasan emosional akan menemukan bahwa mereka mempunyai pengaruh lebih besar daripada orang lain dalam dunia kerja masa kini yang serba diburu waktu (Cooper dan Sawaf, 2001).
Stenberg dan Williams (dalam Cooper dan Sawaf, 2001) mempelajari mengapa ada kelompok yang lebih kreatif dan lebih efektif dibanding kelompok lain, dan ini mencerminkan efektifitas setiap anggota dalam bekerja sama. Selanjutnya diketahui satu-satunya unsur paling penting dalam kecerdasan kelompok itu bukan IQ rata-rata, atau IQ tertinggi, melainkan kecerdasan emosional.
Kerja sama bermutu tinggi dapat saja muncul secara alami bahkan dalam tim dan perusahaan beranggotakan banyak orang berpikiran bebas di tempat-tempat yang saling berjauhan tanpa autoritas pusat yang dominan. Robert Axelrod, meneliti prinsip-prinsip universal kerja sama dengan mempelajari kiprah bermacam-macam orang egois dalam situasi-situasi kolaboratif dan kompetitif. Yang menonjol di antara temuan-temuannya adalah beberapa prinsip kecenderungan alami untuk menyesusaikan diri: menghindari konflik yang tidak perlu, bereaksi terhadap provokasi yang tidak dikehendaki, memaafkan sesudah bereaksi demikian, dan terus terang dalam bertindak sehingga pihak lain senantiasa tahu dengan pasti posisi pihak yang dihadapi. Ini mirip dengan deskripsi untuk EQ dalam tindakan (Cooper dan Sawaf, 2001).
Tidak semua bentuk sikap ditentukan oleh situasi lingkungan dan pengalaman pribadi seseorang. Kadang-kadang, suatu bentuk sikap merupakan pernyataan yang didasari oleh emosi. Seseorang yang memiliki kecerdasan emosi – salah satu kecakapan kecerdasan emosional adalah kerja sama dan usaha secara terpadu – mampu mengarahkan emosinya untuk bersikap kooperatif dengan orang lain. 
Uraian-uraian para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa ada hubungan yang positif antara kecerdasan emosi dengan sikap kooperatif. Walaupun tidak ada uraian yang secara eksplisit menjelaskan bahwa kecerdasan emosi mempengaruhi sikap kooperatif namun dapat dipahami bahwa perilaku-perilaku kerja sama merupakan cerminan dari sikap kooperatif.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 42 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: