Kemandirian Remaja Dilihat Dari Urutan Kelahiran Dan Status Sosial Ekonomi Orangtua

Kemandirian Remaja Akhir Ditinjau Dari Urutan Kelahiran Dan Status Sosial Ekonomi Orangtuanya

Havighurst (Hirmaningsih, 2001), Monks (2004), dan Berzonsky (Budiyanto, 2002) mengungkapkan bahwa salah satu tugas perkembangan pada remaja akhir yaitu memperoleh kemandirian emosional dari orangtua dan orang dewasa lainnya. Kemandirian ini dapat terbentuk apabila ada dukungan dari lingkungan sekitar, khususnya dari orangtua. Ahmadi (1979) menyatakan bahwa keluarga merupakan kelompok sosial pertama dalam kehidupan seseorang dimana ia belajar dan menyatakan diri sebagai manusia sosial dalam berinteraksi dengan kelompoknya. Pengalaman interaksi sosial di dalam keluarga ikut menentukan tingkah laku seseorang. Interaksi sosial tersebut juga dapat ditunjang dengan keadaan status sosial ekonomi.

Status sosial ekonomi orangtua yang berbeda-beda pada setiap anak akan memberikan dampak yang berbeda pula. Menurut Gerungan (1978), keadaan status sosial ekonomi keluarga mempunyai peranan yang cukup penting terhadap perkembangan anak-anak. Keadaan ekonomi yang cukup tinggi akan memberikan dampak-dampak tertentu. Perekonomian yang cukup tinggi berarti lingkungan material yang dihadapi anak dalam keluarga akan lebih memadai sehingga anak tersebut mendapat kesempatan yang lebih luas untuk mengembangkan bermacam-macam kecakapan yang tidak dapat dikembangkan bila tidak terdapat fasilitas yang memadai. Dalam hal ini anak akan mendapat cukup perhatian dalam masalah pendidikan atau kebutuhan primer.

Perbedaan tingkat status sosial ekonomi orangtua dapat menyebabkan tidak semua remaja dapat mencapai tingkat kemandirian yang maksimal, karena anak-anak yang berasal dari status sosial ekonomi yang berbeda mengalami jenis pengasuhan yang berbeda dari orangtuanya. Penelitian Feiring dan Lewis tahun Hart dan Risley (Kurniawan, 2004) mencatat bahwa ibu-ibu berstatus sosial ekonomi lebih tinggi lebih banyak berinteraksi dengan anak-anaknya daripada ibu-ibu berstatus sosial ekonomi yang lebih rendah, baik pada ukuran-ukuran verbal maupun ukuran nonverbal. Laosa (Kurniawan, 2004) menyatakan perbedaan cara-cara pengasuhan mungkin sama baiknya dengan adaptasi terhadap kondisi-kondisi sosial yang menyertai status sosial ekonomi tersebut, sementara pada saat yang bersamaan sejumlah cara pengasuhan mungkin memberi persiapan yang lebih bagus bagi anak untuk berpartisipasi dalam situasi sosial tertentu.

Cara pengasuhan orangtua tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan yang merupakan salah satu aspek dari status sosial ekonomi. Pendidikan merupakan status yang dapat dimiliki dengan membutuhkan biaya. Jika status sosial ekonomi tinggi, maka akan dapat dengan mudah untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Pendidikan tersebut memberikan pengetahuan dan pola pikir, sehingga dapat mempertimbangkan untuk memberikan sesuatu yang terbaik dalam mengasuh anaknya. Salah satunya adalah melatih kemandirian, agar anak tidak memiliki sifat ketergantungan ketika dewasa terutama pada masa remaja.

Bayley dan Schaefer (Kurniawan, 2004) mengungkapkan bahwa berdasarkan analisis data observasi rumah  Berkeley Growth Study dan status sosial ekonomi diukur dalam kontek pendidikan, pekerjaan, pendapatan, dan perumahan, menemukan bahwa ibu-ibu yang berasal dari status sosial ekonomi lebih rendah kurang memberikan otonomi terhadap anak-anaknya, kurang kooperatif, kurang equalitarian, lebih restriktif, punitif dan intrusif daripada ibu-ibu yang berasal dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi.

Hoff-Ginsberg (Kurniawan, 2004) mencontohkan penelitian Alwin tahun 1984, Kohn tahun 1979, Luster, Rhodes, dan Haas tahun 1989 yang telah menemukan pada berbagai kultur bahwa para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi yang lebih rendah menekankan nilai konformitas pada anak-anaknya daripada para orangtua yang berasal dari status sosial ekonomi yang lebih tinggi yang menekankan nilai kemandirian pada anak-anaknya. Dapat disimpulkan bahwa ada keterkaitan antara status sosial ekonomi orang tua dengan perilaku pengasuhan yang kemudian berimplikasi pada perkembangan kepribadian anak, khususnya dalam hal kemandirian. 
About these ads

Berikan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 46 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: