Korelasi Kecerdasan Emosi Dengan Konflik Peran Ganda Wanita Pekerja

Hubungan Kecerdasan Emosi Dengan Konflik Peran Ganda Pada Wanita Bekerja

Seorang wanita yang sudah menikah mempunyai peran atau fungsi yang sangat banyak dalam kehidupannya dan harus menjalankan banyak tugas secara sekaligus, mulai dari mengurus suami, merawat dan mendidik anak, serta mengatur rumah tangga.  Belum lagi jika seorang ibu rumah tangga itu berpartisipasi dalam dunia kerja sehingga secara otomatis seorang wanita dituntut untuk berperan sebagai ibu rumah tangga dan sekaligus wanita bekerja.  Hal ini membuat intensitas peran yang dijalani oleh kaum wanita bertambah dan menuntut wanita untuk dapat memikul tugas yang lebih besar dan responsif,  sehingga memunculkan konsep tentang wanita berperan ganda.  Sebagai ibu rumah tangga, wanita dituntut untuk berpusat pada orang lain, pasif dan terutama mementingkan kebutuhan keluarga, sedangkan sebagai wanita bekerja dituntut untuk berpusat pada diri sendiri, tegas dan mementingkan pekerjaannya.  Harapan – harapan peran yang bervariasi dan kegagalan pemenuhan tuntutan dari salah satu peran tersebut akan dapat mengakibatkan konflik peran ganda.
     Bekerja di luar rumah dapat menimbulkan permasalahan yang kemudian menjadi dilema bagi para wanita yang bekerja.  Apakah tetap menjadi ibu rumah tangga dan mengurus keluarga atau tetap bekerja sebagai wanita karir.  Memang ada wanita yang dapat menikmati peran gandanya, namun ada yang merasa kesulitan hingga akhirnya persoalan – persoalan rumit lainnya yang dihadapi oleh kaum wanita sebagai ibu rumah tangga dan wanita bekerja kian berkembang muncul dipermukaan dalam kehidupan sehari – hari.
     Kekhawatiran yang sering muncul bila seorang wanita meniti karir diluar rumah adalah akibat negatif terhadap keluarga, misalnya kurangnya perhatian dan kasih sayang dari seorang ibu, kehilangan kontrol emosi yang dilampiaskan kepada anak dan suami,  dan kehilangan kontrol pribadi karena terlalu sibuk sehingga melupakan kewajibannya sebagai ibu rumah tangga.  Lebih jauh lagi adalah dampak negatif meningkatnya perceraian karena ketidakharmonisan berumah tangga.  Konflik peran ganda pada wanita dapat juga disebabkan masih kuatnya peran tradisional wanita sebagai ibu rumah tangga, faktor lainnya adalah karena mereka menuntut diri sendiri untuk menjadi sempurna di semua peran. Stres yang dialami oleh wanita karir disebabkan menghadapi dilema antara memilih menjadi ibu rumah tangga atau menjadi wanita karir.  Bila stres yang dialami semakin membesar maka wanita karir semakin kurang mampu mengatasi permasalahan yang dihadapi didalam peran – perannya.
   Seorang wanita yang telah mengambil keputusan untuk menjalani peran gandanya sudah selayaknya mempersiapkan dirinya untuk menerima resiko yang muncul dari peran gandanya tersebut.  Kemampuan ini tidaklah mudah untuk dijalankan, karena para wanita tersebut harus mampu menyeimbangkan situasi dan kondisi yang ada.  Ada resiko merasa bersalah di rumah karena tidak bekerja dan merasa bersalah di tempat kerja karena tidak berada di rumah.  Oleh karena itu dibutuhkan suatu kecerdasan emosi untuk dapat mengatasi konflik – konflik yang terjadi sebagai akibat dari peran ganda yang dijalaninya.
    Kecerdasan emosi tidak dapat dipisahkan dalam kehidupan manusia. Setiap hari seseorang selalu berinteraksi dengan orang lain, suasana hati juga selalu mempengaruhi perilaku orang lain. Seorang wanita bekerja dan menjalani peran ganda dalam kehidupannya dituntut untuk dapat memahami kecerdasan emosi agar dapat mengelola emosinya dengan baik dan pada akhirnya dapat meningkatkan aktualisasi dirinya. Terlebih pada wanita yang bekerja pada bidang yang dituntut untuk selalu berhubungan dengan orang lain secara langsung, karena orang lain tersebut dapat merasakan emosi yang ada pada diri seseorang individu melalui sikap yang ditunjukkan.
   Pentingnya kecerdasan emosi pada wanita bekerja dapat dicontohkan sebagai berikut.  Seorang wanita bekerja memiliki kesibukan tersendiri pada pagi hari. Sebelum berangkat kerja seorang wanita bekerja harus mempersiapkan segala keperluannya berkaitan dengan pekerjaannya dan mempersiapkan segala kebutuhan rumah tangganya.  Ketika muncul permasalahan dalam proses ini akan dapat memunculkan gangguan secara emosi.  Misalnya suami dan anak belum disiapkan sarapan atau kebutuhan lainnya dan muncul protes dari suami atau anak sedangkan disisi lain ia dituntut untuk mempersiapkan kebutuhannya sendiri berkaitan dengan pekerjaannya.  Hal ini dapat memunculkan gangguan secara emosi.  Jika tidak teratasi dengan baik dapat mengganggu kinerja di tempat kerja.  Sebaliknya ketika ia berada di tempat ia bekerja dan mengalami peristiwa-peristiwa yang memunculkan gangguan secara emosi, misalnya dapat teguran dari pimpinan atau pekerjaan yang menumpuk dan menuntut diselesaikan dengan cepat. Apabila tidak terselesaikan dengan baik dapat memunculkan gangguan secara emosi dan terbawa sampai di rumah.  Dalam menghadapi situasi seperti ini, seorang wanita bekerja dituntut untuk dapat mengelola emosinya dengan baik agar setiap permasalahan baik di tempat kerja maupun di dalam rumah tangga bisa terselesaikan di tempat kerja maupun di rumah.  Permasalahan yang berkaitan dengan pekerjaan dapat diselesaikan di tempat kerja sebaliknya permasalahan dalam rumah tangga dapat diselesaikan di rumah saja tanpa harus saling mengganggu.
    Hal ini sejalan dengan pendapat Goleman (1995) yang menyatakan bahwa faktor kecerdasan emosi adalah salah satu faktor yang dapat mempengaruhi konflik peran ganda yang terjadi karena wanita yang berperan ganda dituntut untuk dapat mengenali, mengontrol dan mengelola emosinya agar tidak menimbulkan konflik untuk menjalani kedua tuntutan peran yang berbeda dalam waktu yang bersamaan yaitu sebagai ibu rumah tangga dan sebagai wanita karir atau bekerja.
    Goleman sendiri mengartikan kecerdasan emosi itu sebagai kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustasi, mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih – lebihkan kesenangan, mengatur suasana hati dan menjaga beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, berempati dan berdoa.
     Dari uraian diatas jadi jelas bahwa orang yang emosinya cerdas dapat mengatasi konflik yang terjadi karena orang tersebut mampu untuk mengelola, memotivasi dan mengontrol emosi yang timbul.  Sebaliknya orang yang emosinya tidak cerdas tentunya tidak dapat mengatasi konflik yang terjadi karena tidak mampu untuk memotivasi, mengelola dan mengontrol emosinya dan juga tidak mampu memprioritaskan peran yang disandangnya baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai wanita bekerja.
    Jadi dapat disimpulkan bahwa peran ganda pada wanita disatu sisi dapat membuat hidup bervariasi dan menimbulkan kepuasan hidup, disisi lain dapat berakibat negatif bagi kesehatan mental dan mempengaruhi kehidupan keluarga dan organisasi tempat wanita bekerja sehingga diperlukan adanya kecerdasan emosi.  Adanya kecerdasan emosi yang dimiliki seseorang diharapkan dapat mengantisipasi dan mengendalikan segala macam konflik dan emosi yang timbul dalam kehidupan sehari – hari. 
About these ads

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 44 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: