FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KEPERCAYAAN MASYARAKAT TERHADAP KYAI (STUDI KUALITATIF)

Pendahuluan

Dalam era globalisasi ini, warga masyarakat dituntut untuk lebih cepat dalam berpikir dan bertindak guna kelangsungan hidup mereka yang semakin hari semakin keras. Setiap ruang hidup saat ini penuh dengan persaingan sehingga membuat warga masyarakat begitu giat dalam melaksanakan tugas sebagai manusia yang membutuhkan kebutuhan duniawi demi kelangsungan hidup mereka. Selain kebutuhan duniawi, warga masyarakat juga memerlukan spiritualitas yaitu menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. Warga masyarakat Indonesia telah terkenal akan kereligiusitasan mereka. Ini tercermin dari sikap serta perilaku warga masyarakat Indonesia yang berbeda dengan negara lain karena warga masyarakat Indonesia masih menjunjung tinggi aturan agama serta norma-norma sosial yang berlaku di setiap tempat tinggal mereka.

Usaha yang dilakukan warga masyarakat dalam mewujudkan keinginan mereka agar lebih dekat lagi dengan sang pencipta mengarahkan mereka akan pentingnya keberadaan seorang ulama. Di Indonesia sendiri dari jaman setelah keberadaan para wali Allah yang sering disebut sebagai wali songo. Sebagian besar warga masyarakat mempercayai dan meyakini akan keberadaan seorang ulama. Ulama dapat dijadikan panutan dalam hidup, dapat memberikan kesejukan ketika sedang bercengkrama juga yang lebih penting memberikan pengetahuan tentang agama lebih dalam dan lebih detail sehingga warga masyarakat menjadi lebih paham dan mengerti akan hal-hal yang menyangkut tentang agama khususnya agama islam. Inilah yang kemudian memotivasi para ulama atau kyai untuk mendirikan sebuah Pondok Pesantren guna memfasilitasi warga masyarakat yang ingin memperdalam ilmu agama mereka.

Di negara Indonesia hampir seluruh pelosok daerah banyak berdiri pondok pesantren . Mulai dari Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur termasuk Madura. Pondok Pesantren mengajarkan berbagai hal dari bahasa asing, ilmu pengetahuan umum dan lebih fokus lagi pada pendidikan agama. Dari sekian banyak daerah, Jawa Timur merupakan daerah basis ulama. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya Pondok Pesantren dan juga ulama. Ulama besar yang telah terkenal se-Indonesia banyak berasal dari Jawa Timur.

Dalam kemunculan tokoh agama yang sering disebut ulama, masyarakat kemudian mempercayai dan meyakini ulama. Keyakinan mereka bermacam-macam bentuknya. Ada yang sekedar memiliki keyakinan bahwa ulama tersebut hanya sebagai orang yang dapat menjadi tempat bertanya dan berdiskusi tentang agama, hingga ketika seseorang yang meyakini ulama sebagai seseorang yang penting atau yang ikut andil dalam pengambilan keputusan dalam hidupnya.

Sampai saat ini kepercayaan terhadap ulama masih kental dan ada hampir pada sebagian besar warga masyarakat Indonesia. Ini disebabkan berbagai aktivitas yang menguras tenaga dan pikiran belum lagi masalah yang muncul dalam diri pribadi atau dalam keluarga sehingga mereka menginginkan kesejukan, ketenangan dalam masing-masing pribadi yang menimbulkan keyakinan atau kepercayaan terhadap seorang ulama itu dalam setiap individu.

Menurut hasil rumusan musyawarah antar pimpinan Al Ma’had Ali A’l Islam (pesantren tinggi) seluruh Indonesia yang diselenggarakan pada tanggal 2 sampai dengan 8 jumadil ula 1409 atau 14 sampai dengan 17 desember 1988, bertempat di wisma PHI Cempaka Putih Jakarta, ulama adalah jamak dari kata ‘alima yang berarti seseorang yang memiliki ilmu yang mendalam luas dan mantap. Al-qur’an surat 35:28 dan surat 26:197 menegaskan bahwa orang yang memiliki jiwa, kemampuan dan potensi “khasanah” kepada Allah hanyalah Ulama. Karena itu ulama adalah seseorang yang memiliki kepribadian dan akhlak yang dapat menjaga hubungan dekatnya dengan Allah dan memiliki benteng kekuatan untuk menghalau dan meninggalkan segala sesuatu yang dibenci oleh Allah. Tunduk, patuh dan “khasanah” kepada-Nya. Rasulullah saw memberikan rumusan tentang ulama dengan sifat-sifatnya yaitu bahwa ulama adalah hamba Allah yang berakhlak Qur’ani yang menjadi “waratsatul anbiya” (pewaris para nabi), “qudwah” (pemimpin dan panutan), khalifah, pengemban amanah Allah, penerang bumi, pemelihara kemaslahatan dan kelestarian hidup manusia. Beberapa pengertian tadi maka dalam tafsir fizilalil Qur’an jilid VI juz XXII pada halaman 130, maka musyawarah menetapkan pengertian ulama sebagai berikut, ulama adalah hamba Allah yang memiliki jiwa dan kekuatan khasayyatullah, mengenal Allah dengan pengertian yang hakiki, pewaris nabi, pelita umat dengan ilmu dan bimbingannya, menjadi pemimpin dan panutan yang uswah hasanah dalam ketaqwaan dan istiqamah yang menjadi landasan baginya dalam beribadah saleh, selalu benar dan adil. Di daerah pedesaan sebagian besar memanggil ulama dengan sebutan Kyai.

Keyakinan seseorang terhadap suatu subjek atau objek tertentu akan di pengaruhi oleh informasi tentang subjek atau objek tersebut, pengaruh dari lingkungan setempat, dari dalam diri individu sendiri, pengalaman individu. Besar kecilnya pengaruh – pengaruh tersebut tergantung dari proses kognitif yang terjadi dalam individu tersebut. Proses kognitif tersebut berperan penting dalam proses meyakini sesuatu. Proses tersebut muncul pertanyaan-pertanyaan untuk meyakinkan akal pikiran tentang keyakinan terhadap sesuatu. Kemudian kita baru dapat memutuskan apakah akan meyakini atau tidak.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkapnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: