HUBUNGAN ANTARA INTELIGENSI DENGAN RELIGIUSITAS

Pendahuluan

Islam adalah agama universal yang mampu membawa pemeluknya kepada tingkat yang paling tinggi dari sisi-sisi kemanusiaannya baik dalam hubungannya dengan Tuhannya, sesama manusia, maupun diri sebagai sebuah pribadi. Catatan sejarah islam memberikan bukti-bukti yang jelas tentang individu-individu yang berkualitas ini sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala mengabadikannya dalam Al Qur’an surat Ali ‘Imran ayat 110.

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.

Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah atau menyembah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (QS Adz Dzaariyaat/51 : 56). Pernyataan ini mengandung makna bahwa manusia pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk menyembah kepada Penciptanya. Makna yang lain adalah bahwa segala sesuatu yang ada pada diri manusia seharusnya dimanfaatkan untuk membentuk dirinya menjadi hamba yang religius.

Perkembangan jaman telah membawa berbagai perubahan dalam kehidupan manusia. Perubahan ini tidak hanya terjadi di lapisan luar dan bersifat fisik seperti trend berpakaian, gaya potongan rambut, atau bahasa pergaulan sehari-hari tetapi sudah mencapai taraf yang lebih esensi yang berkaitan dengan pola pikir, pandangan, atau pegangan hidup. Salah satu bentuk perubahan ini adalah manusia mulai meninggalkan ajaran agama. Agama dianggap kuno, tidak selaras dengan ilmu pengetahuan, dan tidak dapat mengikuti perkembangan jaman.

Manusia yang senantiasa berkembang dan berubah membutuhkan agama sebagai pedoman dan pegangan hidup. Agama merupakan aturan-aturan dan kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, yang semuanya itu berfungsi untuk mengikat dan mengutuhkan diri seseorang atau sekelompok orang dalam hubungannya terhadap Tuhan, sesama manusia, serta alam sekitarnya (Driyarkara dalam Subandi, 1988). Agama berguna untuk mengingatkan manusia agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang melampaui batas. Penolakan manusia terhadap agama akan menghacurkan dirinya dan peradaban yang telah dibangunnya. Mass media telah banyak memberitakan peritiwa-peristiwa kriminal seperti pencurian, pemerkosaan, narkoba, agresifitas, dan lain sebagainya (Kedaulatan rakyat, 2005). Perilaku seseorang tidak hanya mempengaruhi kehidupan inidividu yang bersangkutan tetapi juga masyarakat di sekitarnya karena manusia adalah makhluk sosial yang berinteraksi dengan lingkungannya dan melakukan pembelajaran atas apa yang diketahuinya. Hal inilah yang diberitakan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam Al Quran surat Ruum ayat 41.

Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (kejalan yang benar).

Salah satu faktor yang mempengaruhi sikap keagamaan adalah faktor intelektual. Seseorang tidak akan mempunyai tingkat religiusitas yang baik apabila tidak mempelajari, memahami, dan mengetahui hal-hal yang membuatnya bersemangat dalam menjalankan ibadah. Oleh karena itu agama mengajarkan bahwa religiusitas tidak akan bisa diraih seseorang apabila individu yang bersangkutan tidak mau berpikir tentang penciptanya, dirinya sendiri, dan lingkungan sekitarnya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkapnya

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: