HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS DZIKIR DENGAN KONTROL DIRI PADA REMAJA

Pendahuluan

Masalah remaja sangatlah kompleks dari masalah-masalah yang kecil sampai permasalahan yang besar. Sebagaimana halnya dengan masyarakat secara umum remaja ada yang berhasil mengatasi masalahnya, namun tidak jarang juga yang mengalami kegagalan dalam penyelesaiannya. Persoalan-persoalan dan hambatan-hambatan tersebut dari masalah-masalah yang kecil serta mudah diatasi sampai pada persoalan yang besar, yang mungkin menimbulkan tekanan-tekanan.

Kasus-kasus tawuran pelajar, pemakaian obat bius, menenggak minuman keras, seks bebas, pemerkosaan, pembunuhan, yang dilakukan oleh remaja sampai saat ini masih sering terdengar, baik itu berita dari media massa maupun media elektronik seperti halnya di dalam tayangan “Buser”, “Patroli”, “Tkp” di beberapa stasiun televisi swasta. Tindak kenakalan yang dilakukan remaja semakin hari semakin banyak terdengar. Berbagai upaya untuk mencegah perilaku menyimpang tersebut sudah dilakukan, namun tindak kenakalan terus saja terjadi. Permasalahan di kalangan remaja sudah semakin sering terjadi seperti berbohong, kabur dari sekolah/membolos, mencuri kecil-kecilan, merokok, berbicara kotor, serta menderita stres, depresi bahkan bunuh diri (Syibromalisi dalam http://www.kmnu.com 2002).

Tindak kenakalan yang sering terjadi pada remaja saat ini antara lain perilaku seks bebas. Tampaknya ada perubahan yang bersifat revolusioner melihat perkembangan perilaku seksual yang dialami oleh remaja masa kini, serta ada pergeseran nilai mengenai hubungan seksual sebelum nikah. Hal ini utamanya terjadi pada kaum perempuan. Hasil penelitian Shali dan Zeinik (dalam http://www.bkkbn.go.id) yang menunjukkan bahwa 79,1 % kaum perempuan (usia antara 15-19 tahun) setuju dilakukannya hubungan seksual walaupun tidak ada rencana untuk menikah. Penyakit kelamin seperti AIDS, aborsi, pernikahan dini yang tak diinginkan, adalah bentuk dari merajalelanya free sex di kalangan remaja saat ini. Pola-pola perilaku tersebut sebetulnya merupakan suatu larangan yang telah ditetapkan secara normatif dalam masyarakat Indonesia.

Membanjirnya informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan perilaku seksual baik yang tersalurkan melalui media cetak atau elektronik, sedikit banyak memberikan pengaruh terhadap terjadinya perubahan perilaku seksual pada remaja. Hubungan orangtua-anak yang semakin berkurang, longgarnya jalinan hubungan kekerabatan dengan masyarakat sekitar, serta kurangnya nilai-nilai agama yang ditanamkan orang tua, semakin mengurangi kontrol sosial terhadap remaja dalam mengekspresikan dorongan seksualnya. Oleh karena itu tampaknya perlu ada pembicaraan yang bersifat interdisipliner agar dampak-dampak negatif dari pola perilaku seksual remaja dapat diantisipasi sedini mungkin (www.bkkbn.go.id 2001).

Rangkaian permasalahan diatas didukung oleh pendapat Goldfield dan Merbaum (dalam Afrianti, 1999) yang menyatakan bahwa suatu perilaku kadangkala menghasilkan konsekuensi yang positif tetapi juga menghasilkan konsekuensi yang negatif. Oleh karenanya kontrol diri sangat dibutuhkan sebagai suatu proses yang menjadikan individu sebagai agen utama dalam memandu, mengarahkan dan mengatur perilaku utamanya yang dapat membawa kearah konsekuensi positif. Untuk dapat mengatasi masalahnya salah satu cara pokoknya adalah remaja harus belajar mengontrol diri, sehingga dengan kontrol diri dorongan dalam dirinya disalurkan secara benar bukan menyimpang dari aturan yang berlaku di masyarakat.

Kontrol diri adalah kemampuan seseorang untuk memilih bagaimana berperilaku dan bertindak daripada hanya bertindak sekedar menuruti insting dan impuls. Remaja belajar mengevaluasi situasi dan konsekuensinya yang timbul dari tindakan mereka, dengan kontrol diri serta belajar untuk membuat keputusan yang layak dan memilih perilaku yang akan menghasilkan hasil positif (www.keluarga.org 2003).

Di antara penyebab kurangnya kontrol diri pada remaja adalah konflik atau pertentangan yang terjadi pada remaja dalam kehidupan, baik yang terjadi pada dirinya sendiri maupun dalam masyarakat umum. Pada remaja akhir seharusnya mereka telah mendapat ketenangan dalam menghadapi masalah-masalah dibandingkan dengan masa remaja awal.

Remaja umumnya sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, sebab remaja berada dalam masa transisi. Emosi remaja cenderung meninggi dan belum stabil. Mereka cenderung kurang dapat menguasai diri dan tidak lagi memperhatikan keadaan sekitarnya. Menurut Walgito (1989) hal ini merupakan salah satu dampak dari teknologi yang menyebabkan mereka kehilangan pengontrol dirinya dalam menghadapi rangsangan-rangsangan dari luar dirinya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: