HUBUNGAN ANTARA KETERATURAN MENJALANKAN SHALAT WAJIB DENGAN KONTROL DIRI

Pendahuluan

Masalah utama yang sedang dihadapi oleh masyarakat dan bangsa Indonesia adalah ketidakpastian secara fundamental dibidang hukum, moral, norma, nilai, dan etika kehidupan sehingga banyak orang kehilangan pegangan, tujuannya adalah berlomba pada materi sebagai tujuan dekat belaka dengan cara mengambil jalan pintas. Sebagai akibatnya mereka tidak tahu lagi mana yang halal dan haram, mana yang baik dan buruk, mana yang boleh dan tidak, dan mana yang hak dan bathil. Fenomena masalah napza adalah salah satu akibat yang ditimbulkan dari ketidakpastian tersebut (Hawari, 2000).

Penyalahgunaan Narkotika, Psikotropika, dan Zat adiktif lainnya (napza) berdampak negatif bagi kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, karena akan merusak sendi kehidupan bermasyarakat yang merupakan salah satu komponen pembentuk negara (Beja, 2004).

Peredaran narkotika di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir semakin marak. Berdasarkan data Badan Koordinasi Narkotika Nasional tahun 2000 (Tambunan, 2001), memperkirakan ada sekitar 3,5 juta orang penyalahguna narkotika di Indonesia. Diindikasikan, besarnya jumlah ini disebabkan karena beberapa kota besar di Indonesia seperti Medan, Jakarta, Bandung, Surabaya, Denpasar menjadi daerah tujuan pasar narkotika internasional, bukan lagi menjadi tempat transit.

Mengkhawatirkannya, target utama pasar narkotika ini adalah para remaja. Jakarta, pada tahun 2000 ada lebih dari 166 SMP dan 172 SLTA menjadi pusat peredaran narkotika dengan lebih dari 2000 siswa terlibat di dalamnya. Tambunan (2001), menambahkan bahwa dari data singkat mengenai peredaran narkotika di Indonesia khususnya di Jakarta, terlihat betapa mengkhawatirkannya ancaman narkotika bagi generasi muda Indonesia. Narkotika hanyalah satu dari beberapa zat yang berbahaya bila disalahgunakan, di samping alkohol, psikotropika dan zat adiktif lainnya (NAPZA).

Hasil penelitian Hawari (2002) diperoleh data-data antara lain sebagai berikut:
1. Pada umumnya penyalahguna napza mulai memakai napza pada usia remaja (13-17 tahun) sebanyak 97% dan usia yang termuda 9 tahun dengan 90% diantaranya adalah laki-laki.
2. Urutan mudahnya napza diperoleh (easy availability) adalah alkohol (88%), sedative/hipnotika (44%), dan ganja (30,7%).
3. Sebanyak 54,7% penyalahguna menyatakan mengganti dengan minuman keras apabila jenis napza yang diinginkan tidak ada; sebanyak 58,7% suka mencampur (kombinasi) satu zat dengan zat lainnya; sebanyak 53,3% hanya memakai hanya sejenis zat saja; dan sebanyak 50,7% memakai jenis napza bergantung pada jenis zat yang tersedia dipasaran baik resmi maupun tidak.

Yogyakarta sebagai kota pelajar tidak luput dari peredaran dan penyalahgunaan napza. Hal ini terbukti dari sumber tentang penyebaran dan peredaran napza di DIY yang dipublikasikan oleh Beja (2004) sebagai berikut:
1. Tahun 1999 jumlah perkara yang terungkap 67 kasus dengan jumlah tersangka 93 orang, 46 diantaranya adalah mahasiswa, 5 pelajar.
2. Tahun 2000 jumlah perkara yang terungkap 162 kasus dengan jumlah tersangka 191 orang, 72 diantaranya mahasiswa, 15 pelajar.
3. Tahun 2001 jumlah perkara yang terungkap 170 kasus dengan jumlah tersangka 199 orang, 50 diantaranya adalah mahasiswa, 24 pelajar.
4. Tahun 2002 jumlah perkara yang terungkap 186 kasus dengan jumlah tersangka 208 orang, 92 diantaranya adalah mahasiswa, 14 pelajar.
5. Tahun 2003 jumlah perkara yang terungkap 207 kasus dengan jumlah tersangka 245 orang, 118 diantaranya mahasiswa, 9 pelajar.
6. Bulan Januari s/d Maret 2004 perkara yang sudah terungkap sebanyak 48 kasus dengan jumlah tersangka 54 orang, 21 diantaranya adalah mahasiswa/pelajar.

Mengacu pada beberapa uraian tabel-tabel di atas, diketahui bahwa mayoritas penyalahguna atau pemakai napza di DIY berada pada usia 19-24 tahun yang secara psikologis usia tersebut dikategorikan ke dalam fase masa remaja akhir dan masa dewasa awal (Monks, dkk, 2001). Dijelaskan juga bahwa dalam perkembangan sosial remaja dapat dilihat adanya dua macam gerak; satu gerak memisahkan diri dari orang tua dan yang lain adalah gerak menuju ke arah teman-teman sebaya. Dalam masa remaja, remaja berusaha untuk melepaskan diri dari mileu orang tua dengan maksud untuk menemukan dirinya. Erikson (dalam Monks, dkk, 2001) menamakan proses tersebut sebagai proses mencari identitas ego.

Menurut Hurlock (Nurhidayat, 2004) seorang remaja harus mempunyai kemampuan untuk mengontrol perilakunya sendiri, agar tidak asal mengikuti kemauan orang lain yang bertentangan dengan kehendak dan aturan yang berlaku dalam masyarakat, kemampuan tersebut biasa disebut dengan kontrol diri. Kecenderungan remaja yang sedang dalam tahap pencarian identitas diri adalah senang mencoba hal hal baru di samping juga senang berkelompok. Terkadang remaja dalam mencoba hal yang baru bukan hanya suatu hal yang positif saja tetapi sering juga mencoba hal hal yang negatif dan sering bertentangan dengan hukum. Memang pada masa remaja sedang terjadi perkembangan yang sangat pesat pada aspek kognitif, fisik, kematangan seksual dan emosional

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkapnya

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: