HUBUNGAN ANTARA EMOTIONAL SPIRITUAL INTELLIGENCE (ESI) DENGAN PROBLEM SOLVING PADA GURU KAITANNYA DENGAN PROFESIONALISME GURU DALAM PROSES BELAJAR-MEN

Pendahuluan

Indonesia mempunyai tujuan pendidikan yang berlandaskan Pancasila. Misi pendidikan sebagaimana dinyatakan dalam Undang-Undang Dasar 1945 ialah “mencerdaskan kehidupan bangsa”. Tujuan pendidikan nasional sebagaimana dirumuskan dalam Undang-Undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional adalah mencerdaskan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, yaitu manusia beriman dan bertakwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan (Gulö, 2002).

Tujuan pendidikan akan dapat dicapai dengan baik bila dalam melaksanakan pengajaran ditentukan oleh komponen-komponen yang terdiri dari; guru, siswa, kurikulum, sarana dan prasarana serta pihak pengelola. Gulö (2002) menambahkan bahwa komponen-komponen dari pengajaran adalah materi pengajaran, metode pengajaran, tujuan pengajaran, media dan faktor administrasi serta faktor finansial. Komponen-komponen yang berpengaruh dalam proses pengajaran tersebut, menurut Usman (dalam Sunlisana, 1995) gurulah yang berperan penting dalam pelaksanaan proses belajar mengajar yang merupakan inti dari kegiatan pendidikan.

Masalah pendidikan, khususnya masalah-masalah yang dihadapi oleh guru menurut Sahertian (2000) terbagi menjadi dua pokok masalah, yaitu masalah-masalah yang dihadapi guru secara umum dan masalah-masalah yang dihadapi oleh guru secara khusus. Masalah-masalah yang dihadapi oleh seorang guru secara umum dalam menjalankan tugas mengajar dan mendidik adalah menerjemahkan kurikulum dari pusat ke dalam bahasa belajar-mengajar dan dalam meningkatkan program belajar-mengajar yang meliputi merancang program belajar-mengajar, melaksanakan proses belajar-mengajar serta menilai proses dan hasil belajar-mengajar.

Veenman’s (dalam Mahmud, 1990) mengatakan ada delapan masalah yang dihadapi oleh seorang guru, yaitu: (a) membina dan menegakkan disiplin di dalam kelas, (b) memotivasi murid, (c) menangani perbedaan-perbedaan individual di kalangan murid, (d) memeriksa dan menilai pekerjaan murid, (e) membina hubungan dengan orang tua murid, (f) menyusun pekerjaan kelas dengan baik, (g) menggunakan sarana dan prasarana pengajaran yang sangat terbatas, dan (h) menangani problem murid orang-perorangan. Menurut Mahmud (1990), faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah yang dihadapi oleh seorang guru secara umum dikarenakan: (a) kurang memadainya pengetahuan guru tentang murid orang-perorangan, (b) kurang memadainya apresiasi guru terhadap tujuan-tujuan asasi pendidikan, (c) kurang terampil dalam melakukan diagnosis, dan (d) tidak pandainya guru menggunakan metode-metode mengajar yang baik dan cara-cara mengelolan kelas yang cocok.

Faktor-faktor yang berkaitan dengan masalah-masalah yang dihadapi guru menurut Cow ( dalam Mahmud, 1990 ) dimulai dari memotivasi murid-murid hingga membina hubungan profesional dan sosial dengan masyarakat sekolah dan orang tua murid. Masalah-masalah yang secara khusus dihadapi oleh seorang guru antara lain adalah kesulitan seorang guru dalam mengajar tiap mata pelajaran dan masalah-masalah pribadi (personal problem) yang meliputi masalah kesehatan, masalah ekonomi dan sosial guru di masyarakat (Sahertian, 2000). Kesulitan seorang guru dalam mengajarkan tiap mata pelajaran antara lain disebabkan karena tidak atau kurang menguasai materi pelajaran yang diampunya karena mengajar tidak sesuai dengan bidangnya, kesulitan membagi waktu antara mengajar dan kesibukan yang lain, kesulitan mencapai target dalam pencapaian materi pelajaran, kurang bisa memotivasi siswa untuk giat belajar (Wawancara, 27 Februari 2003).

Pekerjaan sebagai guru merupakan pekerjaan yang memerlukan kemampuan intelektual dan mempergunakan emosi. Jika emosi guru terkuras oleh hal-hal yang sesungguhnya bersifat non akademik, beban pekerjaan yang menumpuk, kekurangan waktu untuk mempersiapkan materi pelajaran, maka kecil kemungkinan proses pendidikan akan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Tuntutan agar guru dapat digugu dan ditiru tidak hanya berlaku di sekolah saja, tetapi juga di luar sekolah, dengan demikian guru harus berusaha untuk dapat menjadi panutan baik di sekolah (bagi anak didiknya), maupun di luar sekolah atau bagi masyarakat di sekitarnya (Muhadi, 1991). Tuntutan berat yang dibebankan kepada guru tidak sebanding dengan kesejahteraan yang diperoleh. Kenyataan yang sering dihadapi adalah guru dituntut untuk memberikan sesuatu yang lebih banyak dari yang diterimanya. Kesejahteraan guru, penghasilan dan penghargaan yang diterima masih dirasa kurang oleh guru dibandingkan dengan jerih payahnya. Hal seperti inilah yang bisa mengakibatkan mutu prestasi kerja yang rendah dan akhirnya tujuan dari Pendidikan Nasional tidak dapat tercapai secara maksimal. Pada akhirnya guru dituntut pertanggungjawaban atas tugas kependidikan yang dilaksanakannya.

Download selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: