HUBUNGAN ANTARA INTENSITAS MENONTON FILM RELIGIUS DENGAN TINGKAT RELIGIUSITAS PADA MAHASISWA

Pendahuluan

Pada perkembangan zaman dewasa ini di berbagai tempat tidak sedikit ditemui perilaku individu yang jauh dari perilaku moral seperti penggunaan narkoba, perkosaan, hubungan seks di luar nikah ( Suara Kedaulatan Rakyat,25 Februari 2007 ). Hal ini memunjukkan rendahnya tingkat religiusitas. Menurut sebagian ahli, timbulnya fenomena kemerosotan moral dalam masyarakat terkait dengan religiusitas. Toynbe ( dalam Khodijah, 2002 ) menyatakan bahwa adanya kemerosotan moral dalam masyarakat merupakan gejala kemiskinan spiritual. Selanjutnya ia menyatakan bahwa jalan penyembuhan yang dapat ditempuh adalah kembali kepada agama. Hal tersebut senada dengan apa yang dikatakan oleh Daradjat ( dalam Khodijah, 2002 ) bahwa faktor terpenting yang menimbulkan gejala-gejala kemerosotan moral pada masyarakat adalah kurang tertanamnya jiwa agama dalam hati tiap-tiap orang dan tidak dilaksanakannya agama dalam kehidupan sehari-hari.

Hukum moral merupakan sistem tatanan sosial yang dikembangkan masyarakat dan diteruskan oleh generasi-generasi berikutnya melalui proses pengkodisian sosial. Sedangkan konflik psikologik yang timbul daripadanya bisa disebut konflik moral. Konflik moral merupakan konflik antara beberapa kecenderungan perilaku dengan sistem tatanan otoritas yang telah dikenali seperti perilaku-perilaku yang dapat menganggu ketentraman masyarakat. Thouless ( 1992 ) mengungkapkan bahwa konflik itu merupakan konflik antara kekuatan yang baik dan jahat. Kekuatan-kekuatan jahat ini bisa dpersonifikasikan sebagai sifat mahkluk jahat yang bertentangan dengan mahkluk baik. Dengan demikian kepercayaan akan adanya Tuhan yang baik bisa dianggap sebagai intelektualisasi konflik moral itu. Intelektualisasi ini diberi bentuk argumentasi demonstratif dalam argumen moral untuk menunjukkan adanya Tuhan.

Balda ( 2003 ) mengungkapkan bahwa Al-Qur’an memberi petunjuk bagaimana manusia bisa mencapai kehidupan yang selaras dan bermakna dalam hubungannya dengan dirinya sendiri, dengan sesama manusia atau masyarakatnya, dengan gejala-gejala alam yang mengitarinya, dan yang lebih penting lagi dalam hubungannya dengan penciptanya – Tuhan yang Maha Kuasa dan Maha Tahu. Dengan kata lain, isi Al-Qur’an mencakup empat aspek fundamental dari hubungan manusia. Pertama, hubungan manusia dengan Tuhan. Kedua, hubungan manusia dengan dirinya sendiri. Ketiga, hubungan manusia dengan sesama manusia. Keempat, hubungan manusia dengan alam semesta Dengan kata lain, dalam ajaran Islam pun menyangkut hubungan moral dimana moral merupakan keselarasan hubungan antar manusia.

Ajaran agama merupakan panduan hidup dan sebagai ajaran moral agar terbentuk perilaku-perilaku bermoral sehingga tercipta keamanan serta ketentraman dalam hidup pribadi maupun bermasyarakat. Seperti diketahui bahwa keberagamaan atau aktivitas beragama bukan hanya terjadi ketika seseorang melakukan ibadah , tapi juga ketika malakukan aktivitas lain yang didorong oleh kekuatan supranatural. Bukan hanya yang berkaitan dengan aktivitas tampak dan dapat dilihat mata, tapi juga aktivitas yang tak tampak dan terjadi dalam hati seseorang yang bersumber dari keyakinannya, perilaku-perilaku yang terwujud dapat dikatakan berasal dari keyakinan.

Jamaludin ( 1995 ) menyatakan bahwa religiusitas seseorang ialah tingkah laku manusia yang sepenuhnya dibentuk oleh kepercayaan kepada kegaiban/ alam gaib yaitu kenyataan supra empiris. Dister (1982) menyatakan bahwa internalisasi nilai agama ke dalam diri seseorang dikenal dengan istilah religiusitas, sehingga dapat dikatakan bahwa perilaku-perilaku yang muncul merupakan wujud dari religiusitas seseorang yang berlandaskan nilai-nilai agama. Di dalam pancasila sebagi dasar negara telah ditetapkan bahwa dalam sila pertama disebutkan KeTuhanan Yang Maha Esa yang menunjukkan bahwa negara Indonesia adalah negara yang mengakui agama sehingga para masyarakat Indonesia adalah penduduk yang beragama dan peran agama adalah sebagai pemberi arah dan pembinaan moral untuk bertingkah laku. Maka dalam pelaksanaan perilaku sehari-hari masyarakat seharusnya mewujudkan perilaku yang berlandaskan nilai-nilai agama yang menunjukkan perilaku taat pada ajaran agama dan berperilaku baik terhadap sesama

Diberitakan dalam harian Kedaulatan Rakyat, 16 Januari 2007, sepasang mahasiswa di Yogyakarta diproses hukum oleh polisi karena membuang bayi di tempat pencucian mobil akibat hubungan gelap mereka. Kemudian gaya hidup perilaku pemuda pemudi di yogyakarta, kebiasaan untuk check in ke hotel sehabis pulang dari café ( minggu pagi online, 28 april 2006 ), dan masih adanya pesta seks pelajar dan difilmkan serta beredarnya video mesum mahasiswi di universitas Indonesia timur, (detiknet, 21,11,2005, fajar, 2007) serta peningkatan penggunaan obat terlarang oleh remaja, dari 2538 orang sampai 2541 pada tahun 2005-2006 di wilayah Jawa Tengah ( Kedaulatan Rakyat, 15 maret 2006 ).. Sumber-sumber tersebut ternyata memperlihatkan masih banyak perilaku-perilaku menyimpang yang menunjukkan kurangnya religiusitas pada mahasiswa, hal ini senada dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Kurniawan ( 1997 ) bahwa ada hubungan negatif antara orientasi religius intrinsik dengan kecenderungan berperilaku delinkuen pada remaja yang berarti semakin rendah orientasi religius remaja, semakin tinggi kecenderungan remaja untuk berperilaku delinkuen

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: