HUBUNGAN ANTARA KEBERFUNGSIAN KELUARGA DENGAN KEBERMAKNAAN HIDUP PADA MAHASISWA

Pendahuluan

Remaja sebagai salah satu figur penerus bangsa dihadapkan pada banyak tantangan dalam upayanya untuk mengembangkan diri. Tantangan tersebut bisa berasal dari dalam dirinya dan juga bisa bersumber dari lingkungan. Salah satu bentuk tantangan yang harus dihadapi oleh remaja adalah merespon diperolehnya hak untuk mengelola kehidupan pribadi tanpa adanya campur tangan yang terlalu banyak dari figur-figur otoritas seperti orang tua dan guru. Sebagai remaja, individu memiliki kebebasan, mulai dari memilih teman sampai kepada pemilihan aktivitas pengisi waktu luang. Kebebasan tersebut ternyata tidak direspon sama oleh remaja. Sebagian remaja melihat kebebasan tersebut sebagai tantangan dan kesempatan yang luas untuk berkompetisi dalam upaya meraih sukses sementara sebagian lain merasa gamang bahkan yang paling parah remaja tersebut mengalami depresi (Santrock, 2001).

Remaja yang merasa gamang karena tidak tahu apa yang diinginkannya dan apa yang harus dilakukan dengan hidupnya, dikatakan oleh Madjid (Bastaman, 1996) sebagai individu yang belum memiliki kesadaran akan makna hidup. Kesadaran akan makna hidup ini penting karena hal tersebut merupakan landasan untuk dicapainya kehidupan yang bermakna. Menurut Frankl (Koeswara, 1992), kesadaran akan makna mulai menguat pada masa remaja. Dampak yang bisa muncul jika remaja tidak memiliki kesadaran akan makna hidup adalah terbentuknya pribadi yang rapuh, rendahnya kontrol diri (Philips dkk, dalam O’Connor & Chamberlain, 1996), penyalahgunaan obat-obatan (Padelford, dalam Leath, 1999) serta menyiksa diri dan munculnya keinginan dan pikiran untuk bunuh diri (Harlow dkk, dalam O’Connor dan Chamberlain, 1996).

Ancok (2003) dalam kata pengantar edisi bahasa Indonesia buku Man’s Search for Meaning: An Introduction to Logotherapy yang ditulis Frankl menyebutkan bahwa kehidupan yang bermakna hanya akan mungkin dimiliki seseorang bila orang tersebut mengetahui apa makna dari sebuah pilihan hidupnya. Makna hidup ini bermula dari adanya sebuah visi kehidupan, harapan dalam hidup, dan adanya alasan mengapa seseorang harus terus hidup. Dengan adanya visi kehidupan dan harapan hidup itu, seseorang akan tangguh dalam menghadapi kesulitan hidup sebesar apapun.

Makna hidup sendiri, menurut Frankl (Bastaman, 1996) adalah sesuatu yang dirasakan penting, benar, berharga serta memberi nilai khusus bagi individu, yang apabila berhasil ditemukan akan membuat hidup individu tersebut menjadi berarti dan berharga. Frankl (2003) lebih jauh menyebutkan bahwa makna hidup merupakan bagian terpenting dalam pembangunan pondasi jiwa dan merupakan motivator yang utama bagi individu dalam menghadapi tantangan hidup. Artinya, keberadaan makna hidup dapat berfungsi sebagai pembimbing dan pengarah bagi perilaku seseorang.

Baumeister (Nickels dan Stewart, 2000) mengungkapkan karakteristik individu yang berhasil mengetahui dan memahami makna hidupnya yaitu adanya tujuan atau arah hidup, penghayatan akan efikasi atau kontrol diri, memiliki seperangkat nilai-nilai untuk melandasi tindakannya, dan perasaan bahwa dirinya berharga. Pengetahuan dan pemahaman akan makna hidup bisa menjadi jalan bagi individu untuk mengalami kebermaknaan hidup yang dapat diwujudkan dalam bentuk upaya menjadi orang yang berguna untuk orang lain, entah itu anak, istri, keluarga dekat, komunitas, negara dan bahkan umat manusia (Ancok, 2003).

Bastaman (1996) menjelaskan, individu yang mengalami kebermaknaan hidup akan tercermin dalam kehidupan sehari-harinya yang penuh dengan semangat dan gairah hidup, memiliki tujuan hidup yang jelas, aktivitas yang terarah, jauh dari perasaan kosong maupun hampa, mampu beradaptasi, luwes dalam bergaul dengan tetap menjaga identitas diri, dan tabah dalam menghadapi masalah.

Sebaliknya, individu yang mengalami ketidakbermaknaan hidup adalah seseorang yang gagal menemukan dan memenuhi makna hidupnya. Hal ini akan menimbulkan frustrasi dan kehampaan dalam dirinya, yang kemudian diikuti dengan kemunculan emosi-emosi negatif seperti perasaan hampa, gersang, merasa tak memiliki tujuan hidup, merasa hidup tak berarti, serba bosan dan apatis (Bastaman, 1996).

Fenomena ketidakbermaknaan hidup pada generasi muda di Jepang dapat diindikasi dari ketidakmampuannya untuk menentukan apa yang tepat dan pantas bagi dirinya. Hal ini tampak dalam gaya berpenampilan remaja Jepang saat ini, dengan model pakaian dan aksesoris yang sangat mencolok dan di luar kebiasaan umum masyarakat Jepang (Yamada, dalam Kompas, 2000). Di Indonesia sendiri, hal yang sama terjadi di mana remaja cenderung bersikap apolitis dan apatis terhadap keadaan serta lebih banyak memanfaatkan waktu untuk berhura-hura daripada melakukan kegiatan positif. Mall telah menjadi tempat paling populer untuk mengisi waktu luang (30.8%), hanya 15.2% yang memilih membaca buku dan 16.5% untuk berolahraga (Alfian & Suminar, 2003).

Menurut Frankl (2003) sendiri, meluasnya fenomena alkoholisme dan kejahatan anak muda dapat dipahami sebagai kevakuman eksistensi, yaitu suatu kondisi seseorang yang dihantui oleh pengalaman kesepian dan suatu kehampaan dari kehidupannya, yang disebabkan ketidakmampuan memaknai hidupnya secara positif.

Ketidakbermaknaan hidup sebagai akibat ketidakmampuan individu memaknai hidupnya, ketidakjelasan tujuan hidup dan ketidakmengertian remaja mengenai apa yang sebenarnya menjadi harapan hidup dan cita-cita masa depannya, telah mengantarkan sebagian remaja pada perasaan hampa dan frustrasi dalam hidup. Kondisi inilah yang menyebabkan kontrol diri remaja menjadi rendah, sehingga menjadi pemicu munculnya tindakan dan perilaku remaja yang menyimpang dari norma-norma di masyarakat.

Namun begitu, tak semua remaja menunjukkan perilaku negatif yang menyimpang dari norma atau hanya senang melakukan hal-hal yang kurang produktif. Fenomena beberapa remaja yang terlibat aktif sebagai anggota pencinta lingkungan dan satwa, OSIS, Palang Merah Remaja (PMR) atau keberhasilan beberapa remaja Indonesia yang meraih prestasi gemilang dalam kancah internasional seperti Olimpiade Fisika misalnya, menunjukkan bahwa remaja-remaja tersebut mampu mengaktualisasikan potensinya, yang pada tahap tertentu prestasinya tersebut dapat membuatnya bangga dan berarti. Menurut Erickson (Dariyo, 2004), kemampuan individu untuk mengembangkan dan mengaktualisasikan potensi kognitif maupun kemampuan lainnya dengan baik, sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial budaya keluarganya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: