HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN EMOSIONAL DAN KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN KECENDERUNGAN PERILAKU DELINKUEN PADA REMAJA PERTENGAHAN

Pendahuluan

Remaja sebagai aset bangsa sekaligus sebagai tulang punggung negara merupakan harapan masa depan yang perlu dipersiapkan sejak dini untuk menghadapi tantangan-tantangan perkembangan jaman, dan agar tidak rentan terhadap pengaruh-pengaruh negatif dunia luar.

Kenyataan yang terjadi, sebagaimana dapat dilihat di media massa baik cetak maupun media elektronika, menunjukkan bahwa masih sering terjadi kasus-kasus kriminalitas maupun kecenderungan perilaku delinkuen yang dilakukan oleh banyak oknum remaja, seperti pergaulan bebas, keterlibatan narkoba, perkelahian antar pelajar, perkosaan terhadap wanita dan anak-anak. Bahkan beberapa waktu lalu terjadi kasus sodomi dan remaja memperkosa ibunya (Liputan 6 SCTV, Februari 2003).

Banyaknya kasus perkelahian pelajar dan penggunaan Narkoba seperti yang terjadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Medan, tawuran ini sering terjadi. Data di Jakarta misalnya (Bimmas Polri Metro Jaya), tahun 1992 tercatat 157 kasus perkelahian pelajar. Tahun 1994 meningkat menjadi 183 kasus dengan menewaskan 10 pelajar, tahun 1995 terdapat 194 kasus dengan korban meninggal 13 pelajar dan 2 anggota masyarakat lain. Tahun 1998 ada 230 kasus yang menewaskan 15 pelajar serta 2 anggota Polri, dan tahun berikutnya korban meningkat dengan 37 korban tewas. Terlihat dari tahun ke tahun jumlah perkelahian dan korban cenderung meningkat. Bahkan sering tercatat dalam satu hari terdapat sampai tiga perkelahian di tiga tempat sekaligus. Secara psikologis, perkelahian yang melibatkan pelajar usia remaja digolongkan sebagai salah satu bentuk kenakalan remaja atau juvenile deliquency (Tambunan, 2001)

Berdasarkan data di Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya dari tahun 2001 hingga 2003, persentase anak yang tertangkap mengedarkan narkoba memang cenderung meningkat. Itu hanya hasil tangkapan, fakta di lapangan bisa jauh lebih banyak. Tahun 2001 misalnya, 77 tersangka pengedar dan pemakai narkoba adalah anak berusia 13-17 tahun, sedangkan pada tahun 2002 meningkat menjadi 136 tersangka. Tahun 2003 hingga April saja jumlah tersangka sudah 63 orang. Jika dipersentase, pengedar dan pemakai narkoba berusia di bawah 17 tahun di Jabotabek mencapai empat persen dari total tersangka yang berhasil ditangkap. Namun, data itu berbeda dengan data yang dari RSKO Fatmawati. pemakai di bawah usia 20 tahun saja mencapai hampir 30 persen dari total pemakai yang berobat. Setelah dihitung-hitung dan membandingkan data dari berbagai instansi antara lain kepolisian, LSM, serta instansi terkait, BNP menyimpulkan, pengedar narkoba anak-anak mencapai lebih dari 10 persen dari total pengedar yang ada di Jabodetabek yang tidak diketahui (Mu’tadin, 2003)

Menurut data Litbangkes tahun 2003, 3-5 persen dari siswa sekolah di DKI Jakarta pernah menggunakan narkoba. Dari 70 sekolah yang dipilih secara acak dan sekolah diminta memilih sepuluh siswanya untuk diwawancara secara mendalam, ternyata 100 persen semua sekolah itu mempunyai masalah dengan narkoba. Dari tempat tinggal, hasilnya 23,9 persen di Jakarta Barat, Bekasi (19,6 persen), Jakarta Timur (16,3 persen), Jakarta Pusat (9,8 persen), Tangerang (7,6 persen), Jakarta Selatan (6,5 persen), Bogor dan Jakarta Utara masing-masing 5,4 persen, tidak jelas (3,3 persen), dan Depok (2,2 persen). Data itu memang tidak serta-merta menunjukkan bahwa wilayah Jakarta Barat adalah wilayah yang paling rawan narkoba, karena orang bisa saja berpindah-pindah tempat tinggal atau base camp untuk pakai atau mengedarkan narkoba. Mariyuana adalah jenis yang paling banyak diedarkan (54,4 persen), menyusul heroin (14,7 persen), lalu campuran heroin dan mariyuana (11,8 persen), campuran mariyuana dan benzodiazepin (7,5 persen), dan seterusnya. Pengedar narkoba anak-anak itu ternyata makin lama makin meluaskan wilayah peredarannya. Dari sekitar rumah melebar ke semua wilayah Jakarta hingga luar kota (Ivvaty, 2003)

Rentannya remaja untuk terlibat dalam kasus-kasus tersebut berkaitan dengan masa perkembangan remaja yang sedang mengalami berbagai macam perubahan. Menurut Harlock (1973), dalam periode kehidupan remaja terdapat ciri-ciri penting yang berbeda dengan periode kehidupan lain, yaitu pembentukan mental, pola perilaku, sikap nilai dan minat baru, berusaha mencari gaya hidup yang berbeda dalam menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya, mempunyai banyak masalah yang seringkali tidak terpecahkan dan berusaha mencari identitas diri.

Ketidakstabilan remaja menghadapi berbagai macam perubahan dan masalahnya yang tidak terpecahkan akan mendorong mudahnya remaja terlibat dalam penyimpangan perilaku delinkuen bahkan tindakan kriminal.

Menurut Goleman (1997), orang yang memiliki kecerdasan emosional yang tinggi akan nampak sebagai orang yang tekun, bersemangat, mampu memotivasi diri sendiri, mampu mengatur suasana hati (mood), dan bertahan dengan fikiran jernih kendati dilanda stress dan frustrasi. Dengan potensi kecerdasan emosional ini dimungkinkan dapat membantu diri remaja menyelesaikan masalah dalam menyelesaikan tugas perkembangannya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: