HUBUNGAN ANTARA KECERDASAN RUHANIAH DENGAN KEBINGUNGAN IDENTITAS DIRI REMAJA

Pendahuluan

Masa remaja merupakan masa peralihan menuju kedewasaan (Hurlock, 1997). Pada proses pencapaian tersebut remaja mengalami banyak perubahan dalam dirinya, diantaranya yaitu perubahan fisik, perubahan peran, perubahan status dan perubahan tuntutan dan harapan masyarakat terhadap mereka.. Perubahan-perubahan yang dialami oleh remaja merupakan salah satu sumber yang bisa memunculkan kebingungan pada setiap remaja yang mengalaminya.

Perubahan fisik yang terjadi secara cepat membuat sebagian remaja mengalami kebingungan. Mereka tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat menyadari bahwa bentuk tubuh mereka tidak lagi proporsional, mulai tumbuh jakun pada remaja laki-laki dan payudara pada remaja perempuan. Perubahan lain yang bisa memunculkan kebingungan adalah perubahan peran di mana mereka tidak lagi diposisikan sebagai anak-anak tetapi belum diperlakukan selayaknya orang dewasa. Status remaja dalam periode ini menjadi tidak jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan (Hurlock, 1997).

Perubahan perlakuan dari orang dewasa juga merupakan sumber kebingungan yang lain bagi remaja. Berdasarkan survey awal yang dilakukan peneliti, diketahui bahwa perlakuan orangtua yang masih menganggap mereka sebagai anak kecil pada situasi tertentu tetapi pada situasi lain mereka dituntut untuk bisa bersikap seperti orang dewasa membuat mereka tidak tahu apa perilaku yang tepat yang harus mereka tunjukkan.

Hal lain yang bisa membuat mereka bingung adalah kondisi yang terkait dengan masa depan. Santi (2005) mengemukakan bahwa remaja umumnya belum memiliki gambaran yang jelas mengenai kehidupan yang ingin dicapainya. Mereka tidak tahu ingin menjadi apa sehingga mereka juga tidak melakukan persiapan yang matang bagi masa depan. Kebingungan-kebingungan yang dialami remaja secara sederhana dikenal juga dengan istilah Identity diffusion.

Identity deffusion atau kebingungan identitas diri adalah ketidakmampuan individu untuk memahami diri mereka dan apa yang akan di lakukannya untuk masa depannya. Di mulai dari pertanyaan-pertanyaan mengenai siapakah saya? Apakah yang ada pada diri saya? Apa yang akan saya lakukan dengan hidup saya? Apakah yang berbeda dengan diri saya? Bagaimanakah caranya saya melakukan sesuatu sendiri? Pertanyaan-pertanyaan sejenis ini tidak mucul pada masa kanak-kanak, namun mulai menjadi masalah umum, nyata dan universal ketika seseorang memasuki masa remaja. Remaja bingung untuk mendapat solusi dari pertanyaan-pertanyaan mengenai identitas diri tersebut (Santrock, 2003).

Remaja yang mengalami kebingungan identitas diri, menurut Erikson (Santrock, 2003) tidak mengerti siapa dia sebenarnya, apa yang diinginkannya untuk masa depannya, serta apa yang harus dilakukan untuk menghadapi setiap persoalan yang dihapainya. Kimmel (1995) menambahkan bahwa remaja yang mengalami kebingungan identitas belum dapat menentukan tujuan serta masa depannya.

Kebingungan remaja mengenai diri dan masa depan mereka membuat remaja terkadang enggan untuk memikirkannya sehingga mereka berusaha melupakannya dengan menghabiskan waktu untuk sekedar bersenang senang dan mengesampingkan kewajiban mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan. Akibat lain dari kebingungan yang dialami remaja menjadikan mereka tidak saja “gagap” menjalani hidup secara lebih bermakna, mereka bahkan mengalami kondisi “gelap”. (Sukidi, 2004). Kondisi ini akan menghambat proses pembentukan identitas diri yang sehat, yang merupakan salah satu tugas perkembangan yang harus dicapai remaja.

Pencapaian identitas diri yang sehat, menurut Erikson (Kimmel, 1995) penting bagi remaja agar mereka mampu menentukan apa yang harus dilakukan dalam hidupnya serta tidak terombang-ambing dengan berbagai macam tuntutan serta tekanan yang berasal dari dirinya maupun dari kelompok sosial. Salah satu ciri remaja mencapai identitas diri yang sehat adalah mereka mampu menerima perubahan yang terjadi pada dirinya serta mengetahui apa yang harus dilakukannya dalam merespon perubahan tersebut. Ciri lainnya adalah mereka bisa menentukan apa yang mereka inginkan untuk diri mereka saat ini dan untuk masa depan mereka dan berperilaku sesuai dengan cita-cita yang ingin dicapainya.

Kebingungan diri berdampak luas bagi perilaku remaja. Sukidi (2004) menjelaskan bahwa kebingungan remaja mengenai diri dan masa depan mereka membuat remaja terkadang enggan untuk memikirkannya sehingga mereka berusaha melupakannya dengan menghabiskan waktu untuk sekedar bersenang senang dan mengesampingkan kewajiban mereka untuk mempersiapkan diri menghadapi masa depan.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Furmann (1998) bahwa remaja yang mengalami kebingungan diri menjadi tidak mampu menyadari pentingnya waktu, memiliki citra diri yang buruk sehingga susah untuk bergaul, tidak mau mencoba hal-hal yang baru, tidak mau menunjukkan komitmen terhadap pekerjaan, agama dan politik sehingga dapat berakibat munculnya sikap tidak peduli, ketidaktertarikan pada berbagai macam ideologi, tidak perduli terhadap masa depan, tidak menentukkan komitmen pada nilai apapun, dan menunjukkan kecurigaan, marah, ketakutan, dan penolakkan

Remaja yang mampu mencapai identitas diri yang sehat (achieved) mampu memanfaatkan waktu dengan baik, belajar dari kesalahan, mengerti mengenai ajaran agama yang dianutnya, mampu menentukan apa yang ia inginkan untuk masa depannya, tidak mudah putus asa dan mengerti tentang peran dirinya kelak. Remaja akan mampu melewati masa perkembangannya dengan baik. Seperti yang dijelaskan oleh (Santrock, 2003) bahwa remaja yang mampu mencapai identitas diri yang sehat akan menemukan siapakah mereka sebenarnya, apa saja yang ada dalam diri mereka, dan arah mereka dalam menjalani hidup. Remaja akan memiliki kemampuan menjalani masa krisis identitas secara sehat, sehingga mampu melewatinya dengan baik. Identitas diri yang sehat pada remaja membuat remaja memiliki kemampuan membuat komitmen yang pasti pada ideologi, pekerjaan, atau sikap interpersonal serta dapat mempertimbangkan komitmen yang telah dibuatnya. Dari uraian tersebut nampak bahwa pencapaian identitas diri yang sehat pada remaja adalah sesuatu yang amat penting.

Mengingat pentingnya identitas diri yang sehat serta banyaknya dampak negatif yang bisa ditimbulkan oleh kebingungan identitas diri, maka menjadi penting untuk menelaah faktor yang bisa meminimalisir terbentuknya kebingungan identitas diri pada remaja. Tasmara (2001) menyebutkan bahwa kecerdasan ruhaniah mampu berperan membantu para remaja dalam mengatasi kebingungan yang dialami tanpa berbuat hal-hal yang menyimpang atau melanggar aturan. Jadi remaja yang memiliki kecerdasan ruhaniah, menurut Tasmara (2001) bisa merasakan kehadiran Allah di mana saja mereka berada. Mereka meyakini bahwa dirinya selalu berada dalam pengawasan Allah dan mereka merasakan serta menyadari bahwa seluruh detak hatinya dan setiap perbuatannya diketahui dan dicatat Allah tanpa ada satu pun yang tercecer. Kecerdasan ruhaniah mungkin dimiliki oleh remaja karena Piaget (Fuhrmann, 1990) menyebutkan bahwa remaja mulai mampu untuk berfikir mengenai keberadaan Tuhan.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: