HUBUNGAN ANTARA KEMATANGAN BERAGAMA DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA REMAJA

Pendahuluan

Masa remaja adalah masa yang sangat menentukan bagi diri individu, karena pada masa ini remaja mengalami banyak perubahan pada psikis dan fisiknya. Perubahan kondisi kejiwaan menyebabkan remaja mudah melakukan perilaku yang menyimpang dari aturan dan norma sosial yang berlaku di masyarakat. Keadaan tersebut muncul karena pada masa ini remaja sedang dalam pencarian jati diri (Zulkifli, 1986).

Masa remaja merupakan masa bangkitnya kepribadian dan minat terhadap dunia luar yang bersifat subjektif. Kondisi tersebut berpengaruh pada perkembangan pribadi dan menjadi unsur yang penting dalam kehidupannya. Pribadi itulah yang menjadi tujuan dan pusat pikiran. Ada dua sifat dasar yang tampak pada remaja, yaitu: (i) Ingin menyusun pendirian baru, di mana remaja mengalami kebimbangan dalam mencari kebenaran, dan (ii) keseimbangan batin terganggu dan oleh karena itu sikap dan perbuatan individu serba tidak tenang (Langeveld, 1982).

Masa remaja disebut pula sebagai masa penghubung atau masa peralihan antara masa kanak-kanak dengan masa dewasa. Pada masa ini terjadi perubahan-perubahan besar dan esensial mengenai kematangan fungsi-fungsi rohaniah dan jasmaniah, terutama fungsi seksual. Hal yang sangat menonjol pada periode ini adalah kesadaran yang mendalam mengenai diri sendiri, dimana anak muda mulai meyakini kemauan, potensi, dan cita-citanya sendiri. Pada masa pertumbuhan ini umumnya remaja mengalami suatu bentuk krisis, berupa kehilangan keseimbanagn jasmani dan rohani (Kartono, 1995).

Havigurst (Sabri, 1993), mengemukakan beberapa tugas perkembanagan pada remaja, diantaranya: (1) Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif, (2) Menerima peran sosial jenis kelamin sebagai pria atau wanita, (3) Menginginkan dan mencapai perilaku sosial dan bertanggung jawab secara sosial,(4) Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang-orang dewasa lainnya, (5) Belajar bergaul dengan kelompok anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki, (6) Perkembangan sekala nilai-nilai, (7) Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih adekuat, (8) Persiapan mandiri secara ekonomi, (9) Pemilihan dan latihan jabatan, dan (10) Mempersiapkan perkawinan dan keluarga.

Pada usia remaja terdapat perubahan-perubahan yang menonjol. Perubahan tersebut bisa berupa perubahan fisik, tuntutan sosial, atau perubahan perilaku. Remaja putri akan mengalami perubahan fisik yang berupa pembentukan dan pembesaran bagian-bagian tubuh tertentu yang sering menjadi perhatian remaja putri. Remaja putra juga akan mengalami perubahan fisik, misalnya tubuh yang semakin jangkung, gemuk, tumbuhnya rambut di bagian wajah dan bagian-bagian tertentu lainnya.

Remaja memiliki cara yang berbeda dalam menyikapi perubahan yang terjadi pada dirinya, karena perubahan yang terjadi bisa membuat remaja semakin percaya diri atau menjadi malu karena kondisi fisiknya tidak sesuai dengan kondisi yang diharapkan. Remaja yang tidak menyukai perubahan fisiknya cenderung merasa tidak nyaman dengan dirinya, dan seolah-olah tidak mempedulikan adanya perubahan tersebut. Remaja yang menyukai perubahan tersebut akan merasa bangga dengan dirinya dan percaya diri. Pada masa ini remaja mengalami masalah dengan dirinya sendiri dengan adanya perubahan yang terjadi. Masalah tersebut berkaitan erat dengan penerimaan diri pada remaja itu sendiri, apakah mereka bisa menerima keadaan dirinya atau tidak.

Penerimaan diri sangat penting bagi individu. Beberapa ahli mengatakan bahwa orang yang menerima dirinya akan menyukai dirinya sendiri sehingga orang lain akan menemukan kualitas dalam dirinya dan akan berpengaruh pada penerimaan sosial. Hurlock (1978), mengungkapkan bahwa seseorang yang menerima dirinya akan menerima dirinya sebagaimana mereka menerima sebagai teman orang lain yang disukai. Bila seseorang cukup menyukai dirinya, maka akan menunjang penerimaan sosial. Hal ini akan menunjang adanya penyesuaian pribadi dan sosial yang baik. Maslow (Atrofiyati, 1996) mengatakan bahwa adanya penerimaan diri akan menimbulkan penerimaan dari teman sebaya, guru, orang tua, dan masyarakat, yang akan memperkuat penerimaan diri yang telah terbentuk sebelumnya. Wylie ( Hall & Lindzey, 1993) menyimpulkan bahwa penerimaan diri sendiri ada hubungannya dengan penerimaan orang lain. Yang menjadi persoalan adalah, remaja sering merasa tidak puas dengan keadaan dirinya.

Bentuk tubuh pada setiap individu dapat berbeda dengan bentuk tubuh teman sebayanya, ada yang memiliki tubuh terlalu gemuk atau kurus, ada yang terlalu tinggi atau pendek, ada yang secara jenis kelamin kurang menarik dibandingkan dengan yang lain (Hurlock,1978). Penyimpangan yang terlalu mencolok akan menimbulkan rasa tidak nyaman pada individu tersebut karena merasa berbeda dengan teman sebayanya.

Penyimpangan bentuk tubuh akan lebih terlihat pada masa remaja, yaitu pada saat terjadi proses pematangan alat kelamin. Misalnya pada anak perempuan yang tergolong cepat matang, akan memiliki bentuk tubuh yang lebih besar daripada teman sebayanya, seolah-olah telah mencapai bentuk dewasa. Remaja yang tergolong lambat kematangannya akan menjadi cemas dengan kondisi dirinya (Hurlock, 1978).

Kecemasan terhadap kondisi fisik tersebut juga terjadi pada remaja putra. Hurlock (1978), mengungkapkan bahwa anak laki-laki yang terlalu kurus atau gemuk sering merasa iri bila membandingkan tubuhnya dengan anak laki-laki yang bentuk tubuhnya proporsional, karena dengan kondisi yang proporsional tersebut remaja lebih disukai oleh teman-temannya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: