HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI RELIGIUS DENGAN KEPERCAYAAN DIRI PADA PENYALAHGUNA NAPZA PASCA REHABILITASI

Pendahuluan

Di era globalisasi, manusia yang berkualitas sangat diperlukan karena merupakan titik sentral dalam kegiatan pembangunan. Manusia yang berkualitas meliputi segi fisik, psikis, sosial, dan spiritual, di samping penguasaan ilmu dan teknologi. Berdasarkan hal tersebut, kepribadian menjadi sorotan dalam pengembangan manusia yang berkualitas.

Kepercayaan diri adalah salah satu aspek-aspek kepribadian yang penting dalam kehidupan manusia (Lauster,1978; Walgito, 1993). Hal ini dapat dipahami karena dengan kepercayaan diri yang tinggi individu akan dapat mengaktualisasikan potensi yang dimilikinya dengan yakin dan mantap. Kenyataan sesungguhnya menunjukkan hal yang berbeda, banyak orang yang tidak percaya diri dan sebagian besar di antaranya adalah remaja (Afiatin, dkk. 1994), pendapat ini didukung oleh penelitian yang dilakukan Afiatin dkk (1994) terhadap remaja siswa SMTA di kodya yogyakarta menunjukkan bahwa permasalahan yang banyak dialami remaja pada dasarnya disebabkan oleh kurangnya kepercayaan diri.

Sifat remaja yang dinamis, agresif, mudah putus asa, selalu menyukai tantangan dan mencoba hal yang baru seringkali dimanfaatkan oleh oknum-oknum yang merugikan. Hall mengatakan bahwa masa remaja adalah masa dimana kehidupan seperti badai dan topan, perasaan yang penuh gejolak dan peka terhadap rangsangan-rangsangan negatif yang disebut dengan masa “storm dan stress” (Mappiare, 1982). Peran keluarga juga mempengaruhi kepercayaan diri, lingkungan keluarga mempunyai kedudukan yang pertama dan yang utama dalam perkembangan kepribadian sesorang (Walgito, 1993). Apabila orang tua dapat memberikan kepercayaan kepada anak, maka anak akan bersikap positif terhadap dirinya sendiri dan ia akan mempunyai kepercayaan juga kepada dirinya sendiri. Anak akan menghargai atas kepercayaan yang diberikan oleh orang tuanya namun sebaliknya apabila orang tua tidak dapat memberikan kepercayaan kepada anak, Maka perkembangan kepercayaan diri pada anak akan mengalami hambatan (Walgito, 1993).

Menurut Koentjaraningrat (Afiatin,1998) salah satu kelemahan generasi muda Indonesia adalah kurangnya kepercayaan diri, Kepercayaan diri dapat ditumbuhkan dan ditingkatkan melalui penanaman sifat- sifat percaya diri dengan belajar perilaku baru, yaitu perilaku percaya diri. Perilaku ini dapat dipelajari dengan mengobservasi perilaku orang lain, selanjutnya berlatih untuk menirunya (Afiatin,1998).

Berkembangnya kemajuan seringkali membuat bangsa kita menerima mentah-mentah budaya dari luar tanpa menyaring terlebih dahulu, Contoh budaya luar yang negatif adalah seks bebas dan penyalahgunaan narkotika, psikotropika, zat adiktif lainnya atau biasa disingkat NAPZA (Ancok, 1996). Menurut Hawari (Afiatin,1998) sampai dengan tahun 1998 diperkirakan jumlah penyalahguna NAPZA di Indonesia mencapai lebih dari 1,3 juta orang. Sebagian besar (70%) penyalahguna adalah dari kalangan generasi muda, Kenyataan ini tentu saja membuat sedih. Mitos yang sering berkembang di kalangan generasi muda adalah apa yang terjadi pada diri orang lain tidak akan terjadi pada dirinya, termasuk dalam masalah penyalahguna NAPZA, Tidak sedikit pemuda yang menyalahgunakan NAPZA terutama mereka yang pada tahap coba-coba, merasa yakin bahwa mereka tidak akan mengalami efek negatif seperti yang dialami oleh orang lain (Afiatin, 1998).

Beberapa faktor utama yang dipandang berpengaruh terhadap penyalahgunaan NAPZA (Afiatin,1998) adalah ;(a) faktor internal dari individu (ciri kepribadian), (b) faktor keluarga, dan (c) faktor teman sebaya (Afiatin,1998). Hawari (Afiatin,1998) menyatakan bahwa tingkat kekambuhan pasien ketergantungan Napza mencapai 43,9 % artinya hampir separo pasien ketergantungan Napza kembali menjadi pecandu setelah mereka dirawat untuk penyembuhan yang tidak jarang menghabiskan jutaan rupiah, Hawari juga menyatakan bahwa penyalahgunaan NAPZA merupakan penyakit kronik yang berulang kali kambuh. Di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya dalam kasus narkoba didapat data sebagai berikut ; tahun 1999 sekitar 51 kasus, tahun 2000 meningkat 70%, tahun 2001 ada penurunan, tahun 2002 meningkat 43 % hingga tahun 2004 meningkat 20%, dari peningkatan 20% ini ada sejumlah 21 mahasiswa terlibat narkoba. Pada tahun ini sejumlah 245 kasus narkoba, dari jumlah tersebut diketahui 127 orang terdiri dari mahasiswa dan pelajar (RRI,31 Juli 2004).

Upaya yang dilakukan untuk menghindari penyalahgunaan NAPZA dapat dilakukan melalui dua pendekatan yaitu meningkatkan pengetahuan tentang NAPZA dan mengupayakan kualitas pribadi yang tangguh (Afiatin,1998). Selain dua pendekatan yang telah dikemukakan di atas ada beberapa upaya penyembuhan terhadap korban penyalahgunaan Napza, yaitu penyembuhan secara medis (seperti yang dilakukan RSKO), penyembuhan secara non-medis tradisional (misalnya dukun, ramu-ramuan, pijat, akupunktur), dan non medis religius (Haryanto, Haditono. 1997). Menurut Daradjat (1990) masa remaja adalah masa transisi, sehingga pengaruh lingkungan dalam pendidikan akan sangat besar dirasakan. Apabila remaja tidak mendapatkan kesempatan untuk memperoleh bimbingan keagamaan yang baik dengan modal pemahaman atau teladan yang ditiru tentunya akan berpengaruh terhadap perkembangan selanjutnya.

Daradjat mengemukakan (1990), salah satu sikap keberagamaan remaja adalah percaya dengan kesadaran, artinya remaja mulai memilki kesadaran penuh akan rasa percaya pada agama yang dianutnya, bukan sekedar mengikuti tradisi.remaja ingin menjadikan agama sebagai lapangan baru untuk membuktikan pribadinya. Remaja ingin beragama dengan landasan atau dasar yang kuat, mereka ingin beragama dengan kesadaran sendiri bukan karena ikut-ikutan (Nailuvar,2003). Selanjutnya Conger dan Furhmann (Haryanto dan Haditono. 1997) mengemukakan bahwa Pada masa ini (remaja) mengalami perkembangan fisik dan seksual, psikis, sosial dan secara khusus adalah perkembangan keagamaan.

Kepercayaan diri merupakan salah satu ciri dari kepribadian, Kepercayaan diri adalah adanya perasaan mampu dan keyakinan yang dimiliki seseorang yang secara otomatis memberikan kepercayaan terhadap individu tersebut bahwa dia bisa melakukan segalanya dengan maksimal dan tidak mudah menyerah (Lauster, 1978). Sedangkan salah satu penyebab mengapa seseorang menyalahgunakan NAPZA adalah ciri kepribadian individu tersebut (Afiatin,1998), kepribadian yang lemah menyebabkan individu tersebut menyalahgunakan NAPZA, kepribadian yang lemah dapat ditunjukkan dengan kurang percaya diri, mudah kecewa, kurang mandiri, tidak sabar dan pada akhirnya akan menimbulkan perasaan bersalah terhadap diri sendiri. Rasa bersalah dapat mempengaruhi keseluruhan hidup manusia dan usaha pendukung dalam mengatasi rasa bersalah adalah peranan iman kepada tuhan, sikap ini tak lepas dari orientasi religius seseorang.

Allport dan Ross (Nailuvar,2003) mengemukakan bahwa orientasi religius adalah motivasi dan visi psikologis yang berkenaan dengan kehidupan beragama seseorang. Seseorang yang imannya kuat walau apapun yang terjadi tidak akan mengganggu atau mempengaruhi bahkan keimanan itu akan membawa ketentraman dan kebahagiaan hati (Widjanarko,1997). Ketika remaja mempunyai keyakinan bahwa Allah akan memberikan jalan keluar dari permasalahan yang sedang dihadapi maka remaja akan mencari alternatif penyelesaian masalah yang efektif, positif dan sesuai dengan ajaran-ajaran agama Allah, sehingga tindakan negatif yang akan merugikan remaja kemungkinan kecil terjadi (Nailuvar, 2003), Kurangnya pemahaman penyalahguna NAPZA terhadap kesadaran beragama seringkali membuat mereka kehilangan arah dan tidak memperoleh ketentraman batin.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: