Hubungan Antara Orientasi Religius. Dengan Tingkat Agresivitas Pada Mahasiswa Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Pendahuluan

Para tokoh agama seperti ulama-ulama dalam era globalisasi seperti saat ini, selalu menekankan pada masyarakat tentang pentingnya penyerapan nilai-nilai agama sebagai landasan dalam menghadapi problematika sosial yang disebabkan lajunya modernisasi, seperti munculnya ketimpangan-ketimpangan sosial, diskriminasi, hilangnya rasa toleransi terhadap sesama. Tanpa disadari kerap terjadi benturan-benturan antar kelompok yang ada di masyarakat. Hal ini menimbulkan keprihatinan pada generasi anak bangsa (kalangan pendidik, mahasiswa, dan tokoh masyarakat).

Para ahli pendidikanpun telah melihat pentingnya nilai pendidikan sebagai media untuk mengembangkan kualitas masyarakat melalui berbagai disiplin ilmu. Salah satunya melalui disiplin ilmu agama yang kini sudah diterapkan di berbagai akademisi. Hal ini terlihat semakin maraknya berbagai universitas yang menjadikan ilmu agama sebagai salah satu pokok bahasan dalam menjalankan sistem pendidikannya. Adapun kota pendidikan salah satunya adalah Yogyakarta dimana banyak berdiri universitas-universitas sebagai sarana pendidikan dan pengembangan potensi diri dengan melalui berbagai disiplin ilmu dimilikinya.

Salah satu universitas yang terkemuka di Yogyakarta adalah Universitas Islam Indonesia, yang memiliki berbagai fakultas dan mahasiswa dari berbagai daerah, bahkan dari Luar Negeri. Universitas Islam Indonesia merupakan salah satu universitas yang sangat menekankan pada nilai-nilai, moralitas dan etika keagamaan yang sesuai dengan visi dan misi diantaranya seperti dakwah maupun syi’ar keislaman, dan terciptanya mahasiswa yang memiliki pribadi berkemampuan IPTEK berlandaskan IMTAK.

Adapun mahasiswa-mahasiswa yang memiliki keinginan untuk menuntut ilmu di universitas ini diwajibkan untuk mengikuti berbagai macam kegiatan maupun aktivitas-aktivitas keagamaan, seperti adanya ONDI (Orientasi Nilai Dasar Islam), Placement Test (Baca Tulis Al Quran) dan juga berbagai mata kuliah mengenai keagamaan dengan tujuan para mahasiswa dapat menyerap nilai-nilai agama (Islam) dan mampu mengaplikasikan dalam kehidupannya sehari-hari.

Menurut Effendi, dkk (1996) yang paling mendasar adalah, bahwa setiap manusia diciptakan Tuhan dengan penuh potensi untuk berkualitas tanpa kecuali- termasuk mereka yang cacat, rentan dan tertinggal dari kebanyakan orang lain. Mahasiswapun tidak terkecuali juga mempunyai beberapa potensi untuk berkualitas dalam menjalankan berbagai aktivitas kehidupannya. Seorang mahasiswa dituntut untuk mengembangkan dan mengaplikasikan berbagai disiplin ilmu yang dimiliki dengan tujuan terciptanya masyarakat yang berkualitas baik secara materi dan spiritual. Contohnya ketika mahasiswa menemukan suatu fenomena sosial tentang ketidakadilan, mereka meneriakkan kesadaran hak berpolitik bagi rakyat, hak untuk menjalani kehidupan yang layak, menghilangkan diskriminasi secara sosial, dan masih banyak kasus lainnya yang mana mahasiswa berperan aktif sebagai agen perubahan yang berlandaskan nilai-nilai ideal kemanusiaan.

Tetapi pada kenyataannya yang terlihat akhir-akhir ini muncul adanya kasus seperti tawuran antar mahasiswa, pemukulan, penyerangan terhadap mahasiswa lain dan kasus-kasus lainnya. Hal diatas menimbulkan pertanyaan sejauh mana mahasiswa mampu menyerap nilai-nilai keagamaan (seperti : menjalankan aktivitas kehidupan sesuai etika Islam, saling menghormati, toleransi dan tolong-menolong), apabila tingkat agresivitas yang terjadi pada mahasiswa masih tetap tinggi, lalu apakah dapat diharapkan lahirnya sumber daya manusia yang produktif, dan sebagai suritauladan yang dapat bermanfaat bagi nusa dan bangsa?

Fenomena yang menarik adalah dengan berkembangnya berbagai universitas di Indonesia justru menimbulkan berbagai problematika pada kalangan mahasiswa itu sendiri, seperti demonstrasi yang berakhir dengan anarkisme, tawuran antara suporter mahasiswa ketika pertandingan bola tingkat universitas maupun fakultas, perkelahian antar mahasiswa itu sendiri sehingga mengakibatkan kerugian pada diri sendiri maupun pihak lain.

Hal ini bisa dilihat dari kasus tewasnya Wahyu Hidayat mahasiswa Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN) Jatinangor Bandung, tewas dikeroyok sesama mahasiswa. Bersamaan dengan kasus tersebut, tawuran pelajar di Jakarta Utara, korbannya, Sirma Yanuar (16), seorang pelajar SMU 72 Kelapa Gading, terkena panah besi di lambungnya. Dalam konteks ini, pendidikan sudah dirasuki oleh nilai-nilai kekerasan yang mencapai titik kritis. Pendidikan sedianya diharapkan menghasilkan peserta didik berperilaku baik dan memiliki integritas moral yang tinggi, ternyata hal itu merupakan cita-cita normatif yang penuh mitos tetapi miskin dari kerja-kerja konkret atau operasional.Pendidikan kita juga penuh dengan nilai-nilai militerisme dan feodalisme, seperti diperlihatkan oleh kasus STPDN (Muhtadi dalam http://www.stpdn.ac.gs 2003)

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: