HUBUNGAN ANTARA ORIENTASI RELIGIUS INTRINSIK DENGAN TINGKAT KEPUASAN PERNIKAHAN KARYAWAN PT. TELKOM DIVRE IV PURWOKERTO

Pendahuluan

Semua orang yang hidup di dunia ini menginginkan kebahagiaan dan setiap orang berjuang untuk meraihnya. Ketika kebahagiaan tidak berada di tangan, maka orang semakin bekerja keras untuk meraihnya dan ketika kebahagiaan itu berada di tangan, maka ia menginginkan kebahagiaan yang lebih tinggi atau bahkan yang tertinggi. Kesibukan manusia di dunia ini tidak lain adalah dalam upaya mendapatkan kebahagiaan. Orang yang berbahagia memiliki perasaan dan pikiran yang positif atas berbagai sisi kehidupannya. Beberapa sisi kehidupan yang penting bagi manusia adalah pernikahan, pekerjaan, dan hubungan sosial.

Dalam perjalanan kehidupan, manusia berada dititik – titik yang berbeda dalam siklus kehidupan keluarga. Fase – fase siklus kehidupan keluarga mencakup meninggalkan rumah dan menjadi orang dewasa yang hidup sendiri, bergabungnya keluarga melalui pernikahan, menjadi orang tua dan keluarga dengan anak, keluarga dengan anak remaja, keluarga pada kehidupan usia tengah baya, dan keluarga pada kehidupan usia lanjut. (Carter & McGoldrick dalam Santrock, 2002).

Menurut Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974, pernikahan ialah ikatan lahir batin antara seorang pria dengan seorang wanita sebagai suami isteri dengan tujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan yang Maha Esa. Tujuan pernikahan adalah membentuk keluarga yang bahagia dan kekal. Untuk itu, suami isteri perlu saling membantu dan melengkapi agar dapat mengembangkan kepribadiannya sehingga mencapai kesejahteraan spiritual dan mental.

Pernikahan merupakan salah satu tugas dan kewajiban orang dewasa dan tentunya ini menjadi bagian dari rencana dalam kehidupan kebanyakan orang. Meskipun saat ini terjadi banyak pergeseran dalam nilai – nilai masyarakat, khususnya berkaitan dengan pernikahan -lebih dikenal dengan istilah kawin cerai ataupun kumpul kebo- namun kebanyakan orang yang memutuskan untuk menikah akan tetap memandang pernikahan tersebut sebagai sesuatu yang sakral dan menginginkan pernikahan yang bahagia dan langgeng hingga seumur hidup (Syumanjaya, 2006).

Sebenarnya dalam pernikahan yang terjadi itu mempunyai maksud untuk memiliki teman yang dapat mendampingi seumur hidup dengan ikatan saling mencintai, saling setia dan bersama – sama, serta saling bertanggung jawab dalam hidup berkeluarga sehingga orang – orang yang memasuki pernikahan biasanya memiliki harapan yang tinggi dan cenderung optimis mengenai kemungkinan akan keberhasilan pernikahannya. Mereka Percaya bahwa pernikahan dapat memenuhi kebutuhan sosial, finansial, seksual, emosional, dan yang paling penting adalah kepastian menuju kebahagiaan (Bronds-Raacke dkk, 2001). Namun, kenyataan ternyata tidak selalu seindah harapan. Satu hal yang sering kurang disadari oleh orang yang menikah adalah bahwa bersatunya dua pribadi bukanlah persoalan yang sederhana. Setiap orang mempunyai sejarahnya sendiri – sendiri dan punya latar belakang yang seringkali sangat jauh berbeda, entah itu latar belakang keluarga, lingkungan tempat tinggal atau pun pengalaman pribadinya selama ini (Rini, 2002).

Pengalaman dalam kehidupan menunjukkan bahwa membangun pernikahan itu mudah, namun memelihara dan membina pernikahan hingga mencapai taraf kebahagiaan dan kesejahteraan yang selalu di dambakan oleh setiap pasangan suami isteri tidaklah mudah. Kesuksesan pernikahan tidak hanya ditandai oleh berapa lama hubungan tersebut terjalin dan intensitas perasaan yang dialami oleh kedua orang yang menjalin relasi pernikahan, tetapi dari sejauh mana pasangan suami isteri dapat merasakan kepuasan dalam pernikahannya dengan saling memenuhi kebutuhan fisik, emosional, dan psikologis (www.unitedfool.com, 2004). Oleh karena itu, hal utama yang paling diperlukan untuk mencapainya adalah motivasi yang kuat dari masing – masing pihak untuk mempertahankan pernikahan dan janji yang telah dibuat. Teknis – teknis pelaksanaan selanjutnya tinggal mengikuti motivasi yang telah ada.

Kecenderungan – kecenderungan yang tampak mengenai fenomena kepuasan pernikahan, terutama di kota besar adalah semakin rapuhnya dukungan adat istiadat dan budaya timur serta norma – norma lingkungan terhadap iklim relasi antar suami isteri dalam pernikahannya. Salah satunya adalah suami isteri yang bekerja (Sadarjoen, 2005). Meski bukan fenomena baru, namun masalah perempuan bekerja nampaknya masih terus menjadi perdebatan sampai sekarang. Bagaimanapun, masyarakat masih memandang keluarga yang ideal adalah suami bekerja di luar rumah dan isteri di rumah dengan mengerjakan berbagai pekerjaan rumah.

Anggapan negatif (stereotype) yang kuat di masyarakat masih menganggap idealnya suami berperan sebagai yang pencari nafkah dan pemimpin yang penuh kasih, sedangkan istri menjalankan fungsi pengasuhan anak. Hanya seiring dengan perkembangan zaman, tentu saja peran-peran tersebut tidak semestinya dibakukan, terlebih kondisi ekonomi yang membuat kita tidak bisa menutup mata bahwa kadang – kadang istripun dituntut untuk harus mampu juga berperan sebagai pencari nafkah. Bagaimanapun, tentu saja memang akan ada dampak yang timbul jika suami-isteri bekerja di luar rumah (Rahima, 2006).

Akan tetapi mengenai kepuasan pernikahan, penelitian Pujiastuti (2001) menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan antara kelompok wanita menikah yang bekerja dan kelompok wanita menikah yang tidak bekerja. Hal ini mungkin dikarenakan adanya hubungan yang baik dengan suami, anak – anak, mertua atau ipar sehingga wanita yang tidak bekerja tetap merasa lebih berarti, dicintai, dan dibutuhkan oleh keluarganya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: