HUBUNGAN ANTARA POSITIVE RELIGIOUS COPING STYLE DENGAN PENERIMAAN DIRI PADA SURVIVOR GEMPA YOGYAKARTA

Pendahuluan

Bumi Indonesia sejak awal pembentukannya telah mengalami aktivitas pergerakan lempeng yang terus menerus sepanjang tahun yang menghasilkan gempa serta perluasan Samudera Hindia. Hal itu mengubah terus menerus posisi letak geologis Indonesia terhadap pembentukan bumi dalam menuju keseimbangan pergerakan lempeng-lempeng di permukaan bumi. Indonesia juga sebagai pusat aktivitas segala yang berhubungan dengan kegempaan, tsunami dan kegunung apian, anomali negatif dan anomali positif (penurunan dan pengangkatan permukaan pulau), pemekaran lantai/dasar samudera, pusat-pusat subduksi gempa besar dunia berada di kawasan laut dan daratan Indonesia. Indonesia juga merupakan sebuah laboratorium yang sangat dinamis dalam mempelajari dinamika bencana di muka bumi (Siregar, 2006).

Beberapa kejadian gempa yang telah terjadi yakni gempa yang merenggut korban jiwa mencapai 200.000 jiwa di Aceh dan termasuk gempa tsunami terbesar tercatat dalam sejarah manusia modern. Gejala-gejala gempa kuat yang lain terasa ke arah Selatan menuju Mentawai, Jawa, dan NTT serta Papua dan Irian Jawa Barat dalam kurun enam bulan terakhir ini termasuk pada hari Sabtu, 27 Mei 2006 terjadi gempa yang cukup kuat dirasakan di dua provinsi di pulau Jawa yaitu Yogyakarta dan Jawa Tengah (Siregar, 2006).

Gempa 27 Mei 2006 disebabkan Gerakan Blok Sesar / Patahan yang dipicu oleh zona penunjaman lempeng tektonik di Laut Selatan Yogyakarta, lokasi gempa 37 km di selatan kota Yogyakarta pada kedalaman 17 km. Gempa ini menewaskan ribuan orang dan merusak ratusan ribu rumah penduduk, sekolah, masjid, perkantoran, dan lain-lain (Nunik, 2006).

Data menunjukkan bahwa korban meninggal di seluruh DIY dan Jawa Tengah mencapai 5872 orang, dengan perincian 4772 di DIY dan 1010 di Jawa Tengah, dengan korban luka 33.752 orang, puluhan ribu rumah rusak, dan ribuan fasilitas umum juga mengalami kerusakan ¬¬(Mediacenter, 2006).

Bencana gempa bagi sebagian warga Yogyakarta, telah membuat perubahan mendadak dalam kehidupan sehari-hari. Bagi yang masih hidup, hikmah yang didapatkan adalah bersyukur. Namun keberlanjutan hidup masih menyisakan masalah, diantaranya trauma dan stress. Biasanya hidup tenang, di bawah tempat tinggal yang nyaman, tiba-tiba harus tinggal di bawah tenda dan kehujanan karena rumah roboh. Tidak hanya itu, sejumlah anggota keluarga ada yang tiada dan juga luka berat. Bagi yang mentalnya tidak kuat menerima perubahan buruk tersebut, akan mengalami trauma. Bahkan mengarah pada ketidak-sehatan jiwa dan trauma yang berkepanjangan bila perubahan tersebut sangat buruk bagi kehidupannya (Jon, 2006).

Bagi beberapa orang, menerima kenyataan bahwa dirinya kehilangan banyak hal akibat gempa adalah hal yang menyakitkan dan sulit dilakukan. Meski terasa lebih ringan karena bencana ini melanda banyak orang, namun perubahan yang begitu mendadak dan dianggap bernilai karena mencakup penghidupan selanjutnya cukup sulit untuk diterima. Hal ini terlihat pada beberapa korban gempa yang belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan rumah dan saudara, masih merasa bahwa segalanya baik-baik saja, sikap mudah tersinggung bila orang bertanya mengenai gempa atau kondisi dirinya setelah gempa terjadi, menjadi mudah marah akan hal-hal kecil, kehilangan semangat untuk hidup dan menjadi terlalu pasrah akan kehidupan (fatalistik). Hal ini mengindikasikan rendahnya penerimaan diri pada survivor gempa.

Saat individu tidak bisa menerima secara baik kehidupan pasca gempa, individu akan cenderung berlarut-larut dalam emosi yang dirasakannya, menyerah akan kehidupannya, serta merasa diri tidak berdaya sehingga akan memperlambat perbaikan dan pemulihan kondisi kehidupan. Sebaliknya, bila individu mampu menerima segala perubahan dalam hidup akibat gempa, individu akan lebih mudah melanjutkan hidup, cenderung mengarahkan diri pada penyelesaian permasalahan yang ia hadapi saat ini dan ke depannya.

Menurut Direktur RS. Grhasia (Jon, 2006), dr. Andung Prihadi M.Kes, dibutuhkan waktu yang tidak singkat untuk menyembuhkannya. Bahkan kalau pun sembuh, lingkungannya harus mendukung jiwanya untuk tetap sehat kembali, misalnya kondisi rumah yang sudah baik.
Kepala Pusat Penanggulangan Krisis Depkes RI, Dr. Rustam S Pakaya, MPH dalam Laporan

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Satu Tanggapan

  1. kalo mau download jurnal ini gimana ya ?

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: