HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN KECENDERUNGAN BURN OUT PADA GURU WANITA SMU

Pendahuluan

Pesatnya perkembangan ilmu dan teknologi telah banyak mengubah kondisi sosial, budaya, pola pikir, gaya hidup masyarakat. Hal tersebut merupakan suatu konsekuensi logis agar individu tidak lepas atau teraliansi dari masyarakat sekitarnya. Konsekuensi lain yang dirasakan adalah terjadinya perubahan atau pergeseran pada relasi laki-laki dan perempuan dalam bidang kerja. Dominasi pria dalam sektor formal secara perlahan mengalami pergeseran dan digantikan oleh perempuan. Saat ini, bidang kerja wanita tidak hanya pada sektor domestik saja tetapi juga sektor publik (Idrus, 2001).

Perubahan tersebut tidak terlepas dari perkembangan masyarakat dari masyarakat tradisional menjadi masyarakat modern, sehingga merubah pola berpikir dan tatanan nilai tradisional. Tatanan nilai tradisional tidak lagi dapat bertahan dan tergantikan oleh nilai-nilai yang modern sehingga menyebabkan terjadi perubahan sosial, dimana wanita “meninggalakan rumah” dan memilih bekerja di luar rumah menjadi wanita karir sekalipun mereka juga sebagai ibu rumah tangga (Supardi, 1987).

Jumlah atau prosentase wanita yang bekerja di luar rumah mengalami peningkatan dari tahun ke tahun. Hal ini diungkapkan oleh Kantor Menteri Negara Urusan Wanita (1995) tentang semakin melajunya tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan dalam kurun waktu antara 80-an sampai 90-an yaitu mencapai angka 4,4% dibandingkan dengan laki-laki yang hanya sebesar 3,18% (Idrus, 2001). Diasumsikan peningkatan tersebut terjadi karena adanya kesempatan yang terbuka bagi wanita untuk menuntut ilmu yang tinggi, terbukanya kesempatan yang luas pada wanita untuk berkarir (aktualisasi diri) dan adanya dorongan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi agar tetap survive, seiring dengan semakin tingginya tingkat kebutuhan hidup yang tidak sebanding dengan penghasilan, serta meningkatnya kesadaran dan berkembangnya pola pikir para wanita untuk memberikan sesuatu yang bermanfaat kepada orang lain dengan kemampuan mereka dan mengubah pandangan negatif masyarakat tentang wanita yang hanya mampu bekerja di sektor domestik saja.

Wanita karir merupakan pilihan hidup bagi wanita masa kini walaupun tidak sedikit diantara mereka yang menjani fungsi ganda. Berbagai alasan yang dikemukakan antara lain karena kebutuhan finansial, kebutuhan akan sosial relasional, kebutuhan akan aktualisasi diri serta hanya untuk menghindar dari keluarga karena persoalan psikologis yang mendalam (Rini, 2002).

Dalam menjalankan peran wanita karir, seorang wanita dihadapkan pada berbagai tuntutan dan tugas-tugas dari tempat kerja. Tuntutan tersebut dapat menjadi sumber konflik yang dapat menimbulkan stres bagi wanita karir (Fitri, 2000). Prawirosurojo (Fitri, 2000) mengatakan beban wanita karir saat ini secara emosional sangat berat ditambah jika wanita tersebut juga sebagai ibu rumah tangga. Disamping sebagai wanita karir yang harus selalu siap di kantor, siap berkompetisi untuk kemajuan karir juga sebagai seorang ibu rumah tangga yang harus menyiapkan anak-anak agar kelak menjadi anak yang tangguh dan mandiri, membagi kasih sayang pada keluarga ditengah kesibukannya sebagai seorang wanita karir. Pada kenyataannya cukup banyak wanita yang tidak cukup mampu untuk menjalankan tugas dan mengatasi hambatan tersebut sekalipun memiliki kemampuan teknis cukup tinggi (Anoraga, 1998). Hal tersebut dapat menimbulkan ketegangan dan tekanan yang dapat menimbulkan perasaan cemas, stres, frustrasi, kelelahan psikis bahkan depresi (Rini, 2002).

Idrus (2001) mengungkapkan masalah utama yang biasanya dihadapi oleh wanita karir adalah mengenai manajemen waktu dan kehadiran anak. Rutinitas pekerjaan yang padat menyebabkan intensitas bersama keluarga menjadi terbatas, komunikasi dengan keluarga terutama suami dan anak-anak menjadi jarang dilakukan, dan kepedulian terhadap anak menjadi rendah. Idrus (2001) mengatakan jika wanita karir telah mengalami keadaan demikian maka ia mengungkapkan bahwa wanita tersebut mengalami suatu kejenuhan, baik kejenuhan dengan rekan-rekan di kantor maupun dengan pekerjaannya, sehingga menyebabkan munculnya sikap untuk menarik diri dalam interaksi dengan orang lain baik terutama keluarga dan rekan kerja. Keinginan untuk menarik diri dan menjauh dari orang lain, keluarga, pekerjaan ini disebabkan adanya kondisi kelelahan psikis, kejenuhan dalam diri wanita karir tersebut, akibat beban pekerjaan dan tanggung jawab yang terlalu berat. Kondisi tersebut dikatakan Freudenberger (As’ad, 2000) sebagai kondisi burn out.

Dalam dunia kerja, istilah burn out merupakan istilah yang digunakan untuk menunjuk keadaan stres. Maslach dan Jackson (Prawasti dan Napitupulu, 2002) memandang burn out sebagai suatu sindrom psikologis yang ditandai dengan tiga hal, yaitu emotional exhaustion, depersonalization dan reduced personal accomplishment. Burn out kerap dialami oleh seorang wanita karir (Ancok, 2004). Bernadrin (Rosyid, 1996) menggambarkan burn out sebagai suatu keadaan yang mencerminkan reaksi emosional pada orang yang bekerja pada human services dan bekerja erat dengan masyarakat. Salah satu profesi yang rentan mengalami burn out atau kelelahan psikis adalah guru.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: