HUBUNGAN ANTARA RELIGIUSITAS DENGAN PERSELINGKUHAN

Pendahuluan

Pernikahan merupakan suatu ikatan sakral yang menyatukan dua individu dengan pribadi yang berbeda. Hal ini menyebabkan suami dan istri memiliki tujuan yang berbeda dalam kehidupan pernikahannya. Namun ada hal-hal yang merupakan tujuan umum dari sebuah pernikahan yang meliputi tujuan fisik, psikologis, spiritual, serta tujuan untuk bersosialisasi baik itu dengan pasangan, keluarga maupun lingkungannya. Sebuah pernikahan dikatakan memuaskan jika tujuan-tujuan dari pernikahan tersebut sudah tercapai (Santrock, 2002).

Tujuan pernikahan dalam Islam adalah untuk memenuhi tuntutan naluriah hidup manusia, berhubungan antara laki-laki dan perempuan dalam rangka mewujudkan kebahagiaan keluarga sesuai ajaran Allah dan Rasul-Nya (Basyir, 1977). Sedangkan tujuan fisik dari sebuah pernikahan adalah pemuasan kebutuhan biologis (seksual) dan fungsi reproduksi (Shihab, 2004). Dengan menikah, pemuasan kebutuhan seksual yang semula dilarang akan menjadi legal (secara agama dan sosial), begitu pula akan dihasilkan keturunan yang sah (Hizbut-Tahrir Indonesia.or.id). Pernikahan yang baik juga merupakan suatu hal yang dapat mempengaruhi kesehatan fisik seseorang. Pernikahan yang tidak bahagia dapat meningkatkan resiko seseorang untuk menderita sakit bahkan menurunkan usianya hingga empat tahun. Sebaliknya, pernikahan yang bahagia dapat meningkatkan kualitas kesehatan seseorang (Santrock, 2002).

Di dalam kehidupan pernikahan, suami istri melakukan perbandingan untung rugi yang ditambah oleh adanya relasi pernikahan mereka. Apabila dari hasil perbandingan itu, baik suami maupun istri menemukan bahwa pernikahan mereka membawa dampak yang menguntungkan atau bahkan lebih baik dari yang diharapkan, maka relasi pernikahan tersebut dapat dipertahankan. Namun apabila dalam interaksinya dengan lingkungan, baik suami maupun istri menemukan relasi yang lebih menarik dari relasi sebelumnya maka akan muncul suatu usaha untuk mempertahankan relasi yang baru sehingga terjadilah suatu bentuk penyelewengan atas ikatan pernikahan mereka yang lebih akrab dikenal sebagai perselingkuhan.

Sejumlah orang mengatakan tidak pernah menduga sama sekali bahwa pasangannya melakukan perselingkuhan (Satiadarma, 2001). Namun pada kenyataannya sejumlah orang merasa kecewa karena mereka baru mengetahui bahwa pasangannya telah berulang kali melakukan perselingkuhan tanpa sepengetahuannya. Seorang istri, misalnya, tadinya menganggap suaminya demikian lugu dan setia namun harus menghadapi kenyataan bahwa sang suami telah berselingkuh. Seorang suami menganggap bahwa istrinya adalah wanita baik-baik, taat pada nilai budaya, tetapi ternyata ia telah berselingkuh dengan orang lain.

Sebuah survey yang dilakukan oleh majalah pria FHM pada tahun 2003 menunjukkan bahwa 50,7% pria Indonesia pernah selingkuh, dan 50,8% perempuan Indonesia pernah selingkuh. Nugraha (2004) menyatakan bahwa beberapa tahun yang lalu, dua dari tiga pria di Jakarta melakukan perselingkuhan. Lebih lanjut, Nugraha (2004) menyatakan bahwa empat dari lima pria di Jakarta melakukan selingkuh. Berdasarkan data yang dimiliki oleh Klinik Pasutri, ditemukan bahwa 42% suami melakukan selingkuh ketika istri mereka berusia di atas 40 tahun. Lebih lanjut, ditemukan pula bahwa dua di antara lima wanita pekerja di Bandung melakukan selingkuh (Kompas.co.id, 2004). Berdasarkan data tersebut, terungkap bahwa dari waktu ke waktu, jumlah individu yang melakukan perselingkuhan di Jakarta senantiasa mengalami peningkatan. Meskipun sampel dari data tersebut hanya terbatas di Jakarta saja, bukan tidak mungkin kecenderungan tersebut juga terjadi di berbagai kota di Indonesia.

Hawari (1991) menyebutkan perselingkuhan sebagai penyebab terbesar konflik suami istri saat ini. Pada era globalisasi sekarang ini, kesempatan untuk berinteraksi dengan pihak manapun yang disukai menjadi bertambah besar. Bagi hubungan suami istri, keadaan ini dapat menjadi saingan bagi kelangsungan pernikahan mereka.

Dalam sebuah pernikahan, pasangan suami istri memerlukan hubungan interpersonal yang harmonis. Hubungan interpersonal adalah hubungan yang mendatangkan kehangatan, keterbukaan, dan dukungan. Hubungan ini dilakukan karena pada dasarnya tiap individu berbeda dan memiliki kekurangan. Selain itu, menurut Halloran (Liliweri, 1991), manusia membutuhkan pengakuan akan dirinya oleh orang lain. Dan sejalan dengan hal tersebut, Bringham (1991) menyatakan bahwa kebutuhan dasar manusia seperti bercinta, berteman, mendapatkan penghargaan dan lainnya hanya dapat terpenuhi melalui hubungan interpersonal. Tanpa adanya hubungan interpersonal tersebut, mustahil kebutuhan-kebutuhan di atas akan terpenuhi. Kebutuhan dasar tersebut agak terhambat pemenuhannya manakala suami atau istri jauh dari rumah atau tinggal menetap di daerah atau di kota lain.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: