HUBUNGAN ANTARA RELIGUSITAS DENGAN MANAJEMEN KONFLIK PADA REMAJA

Pendahuluan

Konflik selalu menghiasi kehidupan manusia dari jaman ke jaman. Konflik inilah yang membuat dunia menjadi ramai, dinamis dan selalu berubah. Bagaimanapun usaha manusia untuk menghindar dari konflik, konflik tetap akan menjadi bagian dari kehidupan sosial (Sarwoto, 1994).

Suatu konflik yang tidak ditangani dengan secara tepat biasanya akan semakin tajam, meluas dan akan semakin banyak menimbulkan kerugian. Oleh karena itu banyak yang mencoba untuk mengurangi dan menekan konflik sedapat mungkin karena tidak menghendaki adanya kerugian Penyikapan terhadap konflik seperti ini sebenarnya kurang tepat karena selain merupakan konsekuensi dari perbedaan individu yang tidak dapat dihindarkan, menurut Deutseh (Farida, 1996) konflik sebenarnya merupakan akar perubahan pribadi dan sosial sebab konflik berfungsi sebagai medium untuk menjernihkan permasalahan dan mencapai solusi.

Mengingat konflik juga memiliki manfaat, jelas bahwa yang terpenting adalah bagaimana mengelola konflik yang timbul supaya tidak menimbulkan kerugian tetapi justru membawa dapak yang konstruktif bagi individu-individu yang terlibat

Pada masa remaja konflik mendapat banyak perhatian dari para ahli. Menurut Collins dan Laursen (Farida, 1996) konflik yang pada remaja disebabkan oleh meningkatnya intensitas konflik interpersonal akibat adanya perubahan yang cepat dalam bentuk perubahan fisik maupun psikis pada masa itu. Menurut Conger (Farida, 1996) pada masa ini ikatan dengan orangtua menjadi longgar dan remaja berusaha mencapai kemandirian yang lebih besar, dalam proses ini kelompok banyak menggantikan fungsi-fungsi yang sebelumnya diperankan oleh orangtua. Mengingat pentingnya kelompok, keterampilan manajemen akan sangat dibutuhkan oleh remaja untuk mempertahankan hubungan dengan kelompok.

Keberhasilan remaja dalam melakukan pengelolaan konflik (conflict management) merupakan peningkatan kedewasaan sikap sosial. Banyak faktor yang mempengaruhi seorang remaja dalam dalam melakukan pengelolaan konflik. Menurut Collins & Laursen (Farida, 1996), kemampuan manajemen konflik banyak didukung oleh karakteristik-karakteristik seperti keterbukaan akan pendapat, hubungan yang hangat, serta kebiasaan untuk tidak menyelesaikan masalah sepihak. Sedangkan Bordaman & Horowits (Mardianto, 2000) menyatakan bahwa karakteristik kepribadian berpengaruh terhadap gaya manajemen konflik individu, terutama yang memiliki kecenderungan agresif, kemampuan untuk mengontrol dan menguasai, orientasi kooperatif atau kompetitif, kemampuan berempati, dan kemampuan untuk menemukan alternatif penyelesaian konflik.

Keberhasilan seseorang dalam penyelesaian konflik sebenarnya tidak lepas dari religiusitas. Hal ini didukung pendapat Kung (Sadarmanto, 1998) melihat agama sebagai suatu realisasi sosial individu yang hidup dalam ajaran, perilaku, serta ritus-ritus agama dan dunianya berlangsung melalui tradisi manusia dan masyarakatnya. Realisasi sosio-individu yang hidup menciptakan sistem yang mengatur nilai-nilai dalam kehidupan manusia yang digunakan sebagai kerangka acuan bagi realitas

Dister (1998) menjelaskan lebih dalam mengenai keutamaan agama sebagai pendidikan dan pegangan dalam hidup bermasyarakat. Fungsi agama tersebut merupakan wujud religiusitas individu yang berkaitan langsung dengan moral dan sosial individu.

Selanjutnya dikatakan bahwa nilai-nilai moral manusia berupa keadilan, kejujuran, kesadaran, keteguhan hati dimiliki tiap-tiap individu dan interaksi dengan Tuhan akan menuntut manusia untuk menerapkan nilai-nilai yang benar. Hal ini berlaku pada saat individu melakukan interaksi dengan sesama manusia (Dister,1988).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: