HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS DENGAN POLA ASUH DEMOKRATIS

Pendahuluan

Keluarga merupakan mikrosistem bagi anak yang bertugas melindungi, merawat dan mendidik anak. Keluarga memberikan perlindungan bagi anak dengan memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Keluarga juga berperan sebagai pendukung emosi dengan memberikan pengalaman pertama dalam interaksi sosial yang sifatnya intim, penuh kasih sayang dan rasa aman. Perlakuan orangtua terhadap anak berkaitan dengan perhatian, interaksi, sikap dan komunikasi orangtua dengan anak sering dikaitkan dengan pola asuh. (Lestari, 2006)

Patten (2000) menyatakan bahwa pola asuh yang positif dan keluarga yang sehat merupakan dua faktor pokok yang membentengi anak dari ancaman di luar dirinya. Darling (1999) menyatakan bahwa pola asuh authoritative merupakan pola asuh yang paling memberikan kontribusi positif terhadap perkembangan anak yakni mengurangi kecenderungan perilaku agresif yang ada pada anak-anak dan mampu menetralisir berbagai dampak negatif yang setiap kali dihadapi oleh anak-anak.

Baldin (Gerungan, 2004) menemukan dalam penelitiannya dengan membandingkan keluarga yang berpola demokratis dengan yang otoriter dalam mengasuh anaknya, bahwa asuhan dari orangtua demokratis menimbulkan ciri-ciri berinisiatif, tidak penakut, lebih giat dan lebih bertujuan. Sebaliknya, semakin otoriter orangtuanya makin berkurang ketidaktaatan anak tetapi banyak timbul ciri-ciri pasivitas, kurangnya inisiatif, tidak dapat merencanakan sesuatu, daya tahan berkurang dan menunjukkan ciri-ciri takut. Lamborn (Berndt, 1997) menyatakan orangtua yang authoritative menghasilkan anak-anak yang memiliki hubungan yang baik dengan teman sebayanya. Ditambahkan oleh Davies & Cummings (Berndt, 1997) orangtua yang hangat mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan sosioemosi anak.

Pola asuh authoritative adalah pengasuhan orangtua yang mempunyai karakteristik adanya kontrol maupun penerimaan yang tinggi dari orangtua. Selain memberikan batasan-batasan orangtua juga merespon berbagai kebutuhan anak. Anak-anak yang orangtuanya authoritative menunjukkan ciri-ciri harga diri yang tinggi, mandiri, perilaku menolong (altruistic) yang tinggi, percaya diri serta mempunyai prestasi yang baik di sekolah. (Boyd & Bee, 2002).

Pola pengasuhan authoritative dikenal juga dengan istilah pola asuh demokratis karena keduanya mengandung pengertian yang sama. Hal ini sesuai dengan pendapat Hurlock (1993) yang menyebutkan bahwa pola asuh demokratis ditandai dengan ciri-ciri bahwa anak-anak diberi kesempatan untuk mandiri dan mengembangkan kontrol internalnya, anak diakui keberadaannya oleh orangtua, anak dilibatkan dalam pengambilan keputusan. Ciri-ciri tersebut ternyata menunjukkan kesamaan dengan ciri-ciri pola asuh authoritative. Patten (2000) menjelaskan ciri-ciri pola asuh authoritative antara lain orangtua menetapkan aturan dalam berperilaku, memberikan dorongan kepada anak, hangat dan penuh pengertian. Mereka selalu berdialog dengan anak-anaknya, selalu mendengarkan keluhan-keluhan dan pendapat anak-anaknya.

Mustaqim (2005) menyatakan bahwa di dalam Al Quran ada model pendidikan yang pernah dicontohkan oleh Nabi Ibrahim a.s. Beliau adalah figur nabi yang diakui sebagai bapak monoteistik sejati. Salah satu keteladanan Nabi Ibrahim a.s. adalah sikap lembut, kasih sayang dan sikap demokratis beliau dalam mendidik anak. Hal ini sebagaimana tersurat dalam kisah yang menuturkan bahwa Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya, Isma’il.
Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, ”Wahai Putraku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka, pikirkanlah apa pendapatmu!”. Ia menjawab, ”Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. ” Tatkala keduanya (Ibrahim dan Isma’il) telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya (Isma’il) atas pelipisnya, nyatalah kesabaran keduanya. Dan, Kami panggilah dia, ”Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu”, sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan, Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar (QS Al-Shaffat: 102-107).

Dalam ayat tersebut diceritakan bahwa ketika Ibrahim a.s. bermimpi disuruh menyembelih putranya, Isma’il, dengan ungkapan yang lembut dan penuh kasih sayang, yaitu kata”ya bunayya” (duhai anakku). Lalu Ibrahim a.s. bermusyawarah dengan meminta pendapat dari anaknya sambil mengatakan ”fanzhur ma dza tara” (bagaimana pendapatmu?). Hal ini mencerminkan sikap yang sangat demokratis dari Nabi Ibrahim a.s. sebagai seorang ayah. Sikap ini beliau tunjukkan kepada putranya agar sang putra mengetahui bahwa beliau tidak sewenang-wenang terhadap putranya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: