HUBUNGAN ANTARA SPIRITUALITAS DENGAN PROACTIVE COPING PADA SURVIVOR BENCANA GEMPA BUMI DI BANTUL

Pendahuluan

Bencana gempa tektonik berkekuatan 5,9 skala Richter telah mengguncang Yogyakarta dan sekitarnya, Sabtu (27/05/2006) pukul 05:53 WIB. Bencana ini merupakan peristiwa katastropik dan traumatis terburuk yang pernah terjadi di Indonesia, setelah bencana gempa dan gelombang tsunami yang melanda Provinsi Aceh dan Sumatrera Utara di penghujung Desember 2004 yang menewaskan sekitar 170.000 jiwa (Kompas, 28/05/2006).

Gempa bumi yang terjadi di Yogyakarta kali ini telah menewaskan lebih dari 6.000 jiwa serta meluluhlantakkan ribuan bangunan, infrastruktur, dan memutuskan jaringan telekomunikasi di Yogyakarta dan Bantul. Khusus wilayah Bantul, sebanyak 4.143 korban tewas dan 779.287 jiwa lainnya harus tinggal di tenda-tenda pengungsian. Adapun kerusakan rumah warga yang ditimbulkan oleh gempa adalah sebanyak 71.763 unit roboh, 71.372 unit rusak berat/sedang, serta 73.669 unit rusak ringan (http://www.portalinfaq.org).

Pasca-bencana tersebut menyisakan berbagai kondisi yang sungguh memprihatinkan. Selain menderita luka fisik, para korban yang selamat (survivor) juga mengalami gangguan psikologis yang berdampak pada kondisi psikis dan spiritual mereka. Banyak analisis telah memaparkan berbagai hal tentang realitas bencana yang terjadi hingga rencana ke depan dalam membangun kembali daerah gempa dari keterpurukan. Untuk rehabilitasi tersebut, tentunya tidak lepas dari pemahaman yang kongkrit mengenai kondisi wilayah dan masyarakat yang meliputi kondisi pra-bencana dan pasca-bencana. Dalam hal ini, tentunya penting untuk diperhatikan pula bagaimana kondisi psikis dan spiritual masyarakat Yogyakarta, terutama mereka yang secara langsung menjadi korban bencana.

Penanganan stres pada survivor akibat gempa di Yogyakarta memang tidak mudah. Pengalaman traumatis karena gempa telah menggoncangkan dan melemahkan pertahanan individu dalam menghadapi tantangan dan kesulitan hidup sehari-hari. Apalagi kondisi trauma, kondisi fisik dan mental, aspek kepribadian masing-masing survivor tidak sama.

Masyarakat yang menjadi survivor dari suatu bencana cenderung memiliki masalah penyesuaian perilaku dan emosional. Perubahan mendadak sering membawa dampak psikologis yang cukup berat. Beban yang dihadapi oleh survivor tersebut dapat mengubah pandangan mereka tentang kehidupan dan menyebabkan tekanan pada jiwa mereka. Kejadian gempa di Yogyakarta menjadi beban dan tekanan tersendiri bagi para survivor karena musibah ini baru pertama kali dialami dan merupakan kejadian yang tidak terduga sama sekali.

Bagi sebagian orang yang luput dari maut, menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan banyak hal akibat gempa adalah hal yang menyakitkan dan sulit dilakukan. Meski terasa lebih ringan karena bencana ini melanda banyak orang, namun perubahan yang begitu mendadak dan dianggap bernilai karena mencakup penghidupan selanjutnya, cukup sulit untuk diterima. Hal ini terlihat pada beberapa survivor gempa yang belum bisa menerima kenyataan bahwa dirinya telah kehilangan rumah dan sanak keluarga. Mereka masih merasa bahwa segalanya baik-baik saja, sikap mudah tersinggung bila orang bertanya mengenai gempa atau kondisi dirinya setelah gempa terjadi, menjadi mudah marah akan hal-hal kecil, kehilangan semangat untuk hidup, dan menjadi terlalu pasrah akan kehidupan (fatalistik).

Ketika melakukan pendampingan psikologis kepada beberapa survivor di RSU PKU Muhammadiyah Yogyakarta (18-20/06/2006), penulis melihat langsung kondisi mereka. Korban luka di rumah sakit tersebut banyak yang mengalami berbagai tekanan psikologis sekaligus rasa sakit yang mendalam. Kehilangan anggota keluarga telah membuat luka psikis yang dalam. Apalagi kejadiannya begitu mendadak dan mereka menyaksikan langsung anggota keluarga yang luka maupun meninggal. Kehilangan tempat tinggal juga merupakan pukulan berat bagi mereka yang harus menyaksikan rumahnya yang dibangun dengan berbagai usaha hancur berantakan. Ada yang dengan menabung selama bertahun-tahun, hasil bekerja di luar kota maupun luar negeri, bahkan dengan pinjaman bank yang belum lunas.

Seminggu setelah bencana gempa (07/06/2006), penulis juga sempat mewawancarai beberapa warga di Pedukuhan Jombok, Desa Sumbermulyo, Bantul. Bagi beberapa survivor, kehilangan rumah yang roboh bukan sekedar kehilangan fisik bangunan semata, akan tetapi kehilangan kenangan dan sejarah. Hal ini terjadi karena banyak rumah yang sudah berumur puluhan tahun yang mempunyai nilai sejarah bagi penghuninya. Kehilangan rumah dan anggota keluarga serta masa depan yang tidak menentu membuat tekanan psikologis yang berat. Kondisi ini diperparah dengan adanya tindak pencurian dan penjarahan di tengah bencana yang membuat mereka marah dan menghancurkan kepercayaan terhadap sesama. Begitu pula dengan distribusi bantuan yang kurang merata membuat emosi mereka mudah tersulut.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: