HUBUNGAN ANTARA TINGKAT RELIGIUSITAS DENGAN RELASI BERSAMA PEER GROUP PADA LANSIA

Pendahuluan

Kemajuan teknologi yang semakin maju menyebabkan adanya perkembangan di segala bidang kehidupan manusia. Perkembangan itu meliputi bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang juga akan mendukung penemuan baru dalam ilmu pengetahuan yang lain. Semua perkembangan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan manusia agar tercukupi kebutuhan hidupnya. Perkembangan di bidang pangan dan kesehatan akan dapat menambah harapan usia hidup manusia agar lebih lama dan produktif.

Semakin tingginya angka harapan usia hidup, maka sebagai konsekwensinya akan semakin banyak pula jumlah penduduk yang berusia lanjut. Di Indonesia tahun 1990 harapan usia hidup rata-rata mencapai 59.8 tahun. Perkiraan ini cenderung meningkat pada satu dekade berikutnya yaitu bertambahnya usia harapan hidup hingga mencapai usia 65 tahun.diperkirakan sampai tahun 2020 harapan usia hidup akan mencapai usia 71,7 tahun (Pikiran Rakyat,11-10-2003)

Fenomena pertambahan jumlah penduduk berusia lanjut atau Aged Population Boom, seperti yang dikatakan oleh Sri Sultan HB X adalah akibat dari meningkatnya usia harapan hidup. Diantara enam propinsi lainnya, DIY adalah yang tertinggi dalam jumlah penduduknya yang berusia lanjut. Enam propinsi tersebut adalah DIY (13,7 %), (JaTim 10,45 %), Bali ((,79 %), SulSel 7,63 %) dan SumBar (9,08 %) (Bernas,16-12-2003). Hal ini memerlukan penanganan agar tidak dapat berkembang menjadi sumber masalah baru bila tidak mendapat penanganan khusus dari pemerintah. Permasalahan baru ini akan berdampak bagi usia produktif maupun bagi keseimbangan sistem kependudukan yang ada.

Lanjut usia mendapat kedudukan dan penghormatan yang tinggi dalam masyarakat sehingga mereka mendapat perlakuan khusus dari orang lain dan keluarganya (Gandadiputra dalam Munandar,1985). Maksud dari perlakuan tersebut adalah untuk menunjukkan penghargaan dan penghormatan pada lanjut usia. Mereka mendapat perlakuan istimewa berupa pembebasan dari tugas-tugas sosial dan tugas sebagai orang tua. Sebagai contohnya dalam suatu kegiatan sosial dalam masyarakat, lanjut usia hanya diberi jabatan sebagai penasehat saja tanpa diberi kesempatan untuk ikut turun tangan membantu secara konkrit. Mereka jarang diberi jarang diberi kesempatan untuk menduduki jabatan yang mempunyai peran riil. Selain itu lanjut usia oleh keluarganya seringkali diminta untuk banyak tinggal dirumah beristirahat dan mengurangi aktifitas agar tidak lelah. Perlakuan istimewa tersebut dikatakan untuk alasan kesehatan dan keamanan lanjut usia itu sendiri. Pada kenyataannya perlakuan yang maksudnya ingin melindungi dan menghargai lanjut usia menjadi salah kaprah dan lebih cenderung memanjakan tanpa memberikan kesempatan pada lanjut usia untuk mengembangkan diri sesuai keinginannya.

Penghormatan yang sebenarnya bertujuan positif ternyata justru menciptakan jarak komunikasi dan emosional dengan lingkungan sosial. Yang terjadi kemudian adalah lanjut usia merasa bingung karena ruang geraknya dibatasi dan tidak bisa secara bebas melakukan keinginannya akibat dari pembatasan aktifitas yang boleh dilakukan lanjut usia. Hal semacam itu dapat memunculkan perasaan tidak berguna dan tersisih yang mungkin juga menimbulkan depresi bila dibiarkan berlarut-larut. Padahal sebenarnya mereka masih ingin tetap memberikan kontribusi nyata sesuai dengan kemampuannya dan mendapat penghargaan dari orang lain secara wajar.

Pada kenyataannnya orang lanjut usia tetap memerlukan perhatian dari lingkungan sosial yang menyangkut kesejahteraan fisik misalnya olah raga dan terutama lagi kesejahteraan emosionalnya berupa hubungan sosial yang menguntungkan terutama dengan teman sebaya. Pada lansia tetap ditemukan adanya kebutuhan untuk berafiliasi terutama dengan keluarga dekat dan teman sebaya dalam rangka mendapat dukungan sosial serta penghargaan dari orang lain. kebutuhan berafiliasi yang terpenuhi akan mampu menekan tingkat depresi pada lansia, hal ini tentunya akan menimbulkan dampak yang positif bagi kesehatan mental lansia. Dari subjek penelitian lansia sebanyak 38 orang yang diukur tingkat depresinya, terungkap fakta bahwa 25 orang atau 65,8 % dari sampel menunjukkan tingkat depresi yang cukup. Dari subjek tersebut diukur tingkat kebutuhan berafiliasinya, ternyata didapatkan korelasi yang negatif dengan tingkat depresi.

Subjek yang tingkat depresinya rendah mempunyai tingkat pemenuhan kebutuhan berafiliasi yang tinggi sekitar 55,3 %. Kenyataan ini didapat dengan adanya hasil penelitian tentang kebutuhan berafiliasi lansia pada panti werdha dengan judul Hubungan Antara Pemenuhan Kebutuhan Berafiliasi Dengan Tingkat Depresi Pada Wanita Lansia di PantiWerdha yang menyebutkan bahwa kebutuhan berafiliasi yang tinggi berkorelasi negatif dengan tingkat depresi pada lansia (Afida dkk, 2000).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: