KEBERMAKNAAN HIDUP PADA ISTRI YANG SUAMINYA BERSELINGKUH

Pendahuluan

Rumah tanggga yang sakinah, mawardah warrahmah merupakan dambaan setiap insan, baik yang belum memasuki jenjang perkawinan maupun yang tengah menempuhnya. Tujuan dari perkawinan itu sendiri adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, cinta kasih, kepuasan dan keturunan (Akbar, 1975). Perkawinan disyariatkan oleh Islam agar manusia membentuk keluarga untuk hidup berumah tangga, dan dengan itu mendapatkan sakinah dalam hidupnya sampai akhir hayat, yakni ketenangan dan kebahagiaan yang kekal. Kebahagiaan dalam suatu ikatan perkawinan semestinya dirasakan oleh sepasang pria dan wanita yang telah terikat dalam suatu ikatan perkawinan tersebut.

Keluarga yang sakinah mawardah warrahmah bukan berarti tidak pernah menghadapi masalah, karena sesungguhnya Islam tidak menafikan adanya kemungkinan terusiknya ketenteraman dalam kehidupan rumah tangga. Sebab, secara alami, setiap manusia yang hidup di dunia ini pasti dihadapkan pada berbagai persoalan. Kerap terjadi, kenyataan hidup tidak seindah harapan. Adakalanya kehidupan suami-istri itu dihadapkan pada berbagai problem baik kecil ataupun besar, yang bisa mengusik ketenangan keluarga. Penyebabnya sangat beragam, salah satunya adalah suami atau istri yang memiliki hubungan khusus dengan orang ketiga di luar ikatan perkawinan yang sah atau lebih dikenal dengan istilah selingkuh.

Perkawinan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan individu. Tujuan daripada perkawinan itu sendiri adalah untuk mendapatkan kebahagiaan, kepuasan, cinta kasih dan keturunan. Tetapi hal tersebut tidak datang dengansendirinya, karena dalam perjalanannya perkawinan banyak dihadapi tantangan dan cobaan yang perlu dihadapi dan diatasi, diantaranya adalah keberadaan pihak ketiga yang dirasakan mengganggu kestabilan rumah tangga (Muandar, 2001).

Adimoelya (Yulianto, 2000) mengungkapkan bahwa hubungan dengan pihak ketiga semacam ini yang disebut juga dengan perselingkuhan yang bisa berlangsung singkat atau lama, dengan tingkat keterlibatan emosional yang rendah atau tinggi. Masters dkk (Yulianto, 2000) mengatakan walaupun hubungan semacam ini merupakan perbuatan dosa jika dilihat dari sisi agama dan kriminal atau amoral menurut hukum pemerintah akan tetapi pada kenyataannya tetap ada dan semakin menjadi hal yang biasa. Berdasarkan penelitian yang telah banyak dilakukan baik di luar maupun di dalam negeri dan hasilnya menunjukkan bahwa pria lebih banyak melakukan hubungan perselingkuhan dengan pihak ketiga dibandingkan dengan wanita.

Hasil penelitian dari tahun ke tahun menunjukkan angka perselingkuhan yang bervariasi seperti survey yang dilakukan pada 1982 oleh Peterson (Pocs, 1986) pada playboy Readers’ Sex Survery menemukan bahwa sekitar 48% suami melakukan perselingkuhan dengan puncaknya pada usia 40-49 tahun. Demikian juga dengan penelitian yang dilakukan oleh Tobing, (Yulianto, 2000) yang menyatakan bahwa 65% pria di Jakarta pernah menyeleweng. Penelitian Kinsey yang dilakukan pada tahun 1948 terhadap 5000 laki-laki dan 6000 perempuan memberikan gambaran bahwa 50% laki-laki mengemukakan bahwa mereka pernah berselingkuh. Data-data tersebut menunjukkan bahwa angka kejadian sangat bervariasi besarnya dari tahun ke tahun dan terlihat bahwa perselingkuhan banyak dilakukan oleh laki-laki daripada oleh perempuan.

Maraknya kasus yang dapat diamati oleh masyarakat saat ini diacara infotainment televisi tentang banyaknya kasus perselisihan bahkan sampai terjadinya perceraian dikalangan selebritis yang disebabkan perselingkuhan yang dilakukan oleh suami. Dengan terjadinya perselingkuhan yang dilakukan suami sudah tentu akan menimbulkan gangguan dalam hubungan suami-istri.

Munandar (2001), menemukan banyak kasus perselingkuhan ditemukan pada kaum pria, walaupun memang benar banyak juga wanita yang memiliki hubungan ekstramarital, tetapi lebih sedikit bapak-bapak yang meminta bantuan konsultasi psikologi, untuk mengatasi masalah pihak ketiga yang melibatkan istri mereka.

Kasus yang dimuat di situs http://www.eramuslim.com (1999) mengisahkan pasangan suami-istri yang telah berumah tangga selama enam tahun dan dikaruniai seorang anak, tetapi ternyata belakangan sang suami yang tidak bekerja diketahui oleh istrinya sedang berselingkuh dengan wanita lain, akan tetapi sang istri memilih untuk tetap menerima keadaan itu dengan alasan sang istri tidak bisa hidup sendiri, padahal di sisi lain sang istri mengakui bahwa ini bertolak belakang dengan perasaannya. Sebenarnya reaksi istri untuk mempertahankan perkawinannya dalam kondisi seperti ini bisa dikarenakan anak-anak atau ketidakmampuan istri untuk hidup sendiri karena masalah ekonomi atau alasan psikologis lainnya. Dalam kondisi yang demikian sebenarnya istri memendam perasaan sakit hatinya terhadap istri karena mempertimbangkan keberadaan oranglain, bisa dikatakan dalam masalah ini istri belum menemukan kebermaknaan hidupnya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: