KECERDASAN RUHANIAH DAN SIKAP TERHADAP KONTES KECANTIKAN PADA MAHASISWA MUSLIM FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA

Pendahuluan

Kontroversi keikutsertaan Puteri Indonesia 2004 Artika Sari Devi dalam pemilihan Miss Universe 2005 di Bangkok sempat menjadi topik pembicaraan oleh berbagai kalangan masyarakat dan di berbagai media massa. Bahkan cenderung meruncing setelah beredar pose-pose setengah telanjang gadis cantik asal Bangka-Belitung itu. Banyak kalangan masyarakat tidak menyetujui adanya kontes semacam itu karena tidak sesuai dengan ajaran agama Islam (agama mayoritas penduduk Indonesia). Majelis Ulama Indonesia (MUI) oleh Ketua Komisi Fatwa MUI KH Ma’ruf Amin mengeluarkan fatwa mengharamkan muslimin dan muslimah Indonesia mengikuti kontes kecantikan.

Fatwa MUI yang dikeluarkan mengenai diharamkannya muslimin dan muslimah mengikuti kontes kecantikan menyusul keikutsertaan Puteri Indonesia 2004 Artika Sari Devi dalam kontes ratu kecantikan dunia (Miss Universe 2005) di Thailand. Amin menegaskan Artika telah melanggar norma agama karena dalam lomba tersebut dia memakai pakaian dengan bentuk yang dilarang keras dalam ajaran agama Islam. Dalam kontes itu, sebagaimana dimuat sebagian besar harian Indonesia Artika mengenakan pakaian renang. Hal yang kemudian menyulut protes dari sebagian masyarakat Indonesia (Supatmiati, 2005).

Menurut Amin kontes kecantikan telah menghalalkan apa yang diharamkan oleh Islam. Kontes kecantikan juga melanggar nila-nilai ajaran agama, khususnya Islam. Indonesia adalah masyarakat beragama, oleh karena itu kontes seperti ini seyogyanya tidak diikuti oleh masyarakat Indonesia sebab tidak sejalan dengan norma agama (PP Al-Irsyad Al-Islamiyyah, 2004).

Ajaran agama Islam mempunyai batasan dalam menilai perbuatan yaitu berasal dari Allah SWT sehingga sangat jelas dan hakiki. Sebagai manusia yang beragama, mau tidak mau, suka tidak suka, kita wajib menjadikan agama sebagai standar hidup dalam menilai sesuatu. Sebab setiap perbuatan manusia ada aturannya, berkaitan dengan membuka aurat di depan umum seperti tertulis dalam Al’quran surat AN Nuur ayat 31 yang artinya :
“Katakanlah kepada wanita beriman, Hendaknya mereka mengekang pandangan, dan menjaga kehormatan dan tidak menampakkan perhiasannya, kecuali yang wajar tampak. Juga hendaknya mereka menjulurkan kerudung sampai menutup lubang leher dan tidak menonjolkan perhiasannya, kecuali untuk suami, ayahnya, mertua laki-laki, anak laki-laki mereka, anak laki-laki suaminya, saudara laki-lakinya, putera saudara laki-lakinya, putera saudara perempuannya, atau muslimah yang lain, atau budak wanita yang mereka miliki, atau pelayan laki-laki yang dingin terhadap wanita atau anak-anak yang belum tertarik akan aurat wanita. Janganlah mereka menghentakkan kakinya agar nampak perhiasan yang mestinya tertutup. Dan bertobatlah kamu semua, hai orang yang beriman, niscaya kamu berbahagia.”

Dalam konteks Islam, MUI secara tegas menjelaskan keharaman bagi seorang muslim dan muslimah untuk membuka auratnya di depan umum. Jika melanggar, berarti bisa dikategorikan sebagai pornografi. Namun masih ada yang membantah bahwa melarang pornografi adalah kemunafikan, karena pada dasarnya semua orang menyukainya. Secara manusiawi laki-laki tentu sangat menyukai aurat wanita, apalagi wanita yang cantik. Di sisi lain, kaum perempuan memang sudah kodratnya selalu ingin tampil cantik dan mempertontonkan kecantikannya.

Islam pun tidak mengekangnya, melainkan diatur. Islam membedakan hukum antara mempertontonkan kecantikan di ruang pribadi atau tidak terlihat oleh umum (hayatul khas) dan di ruang publik (hayatul ‘aam). Laki-laki dipersilahkan menikmati sepuasnya aurat wanita yang halal baginya, dengan catatan di ruang pribadi. Sebaliknya, wanita juga bebas mengekspresikan kecantikannya, bahkan di hadapan laki-laki sekalipun (yakni suaminya), khusus di ruang pribadi. Aturan ini bertujuan untuk menjaga kesucian diri, baik laki-laki maupun wanita, menjaga keutuhan keluarga, dan mencegah efek-efek sosial akibat diumbarnya aurat di ruang publik. Terjadinya perzinaan, perkosaan, pelecehan seksual, perselingkuhan, dan lain-lain salah satunya dipicu oleh merebaknya pornografi dan pornoaksi di ruang publik, baik dalam bentuk pose di media cetak, VCD, televisi, film, musik atau diskotik. Di sisi lain, mereka yang mendukung kontes kecantikan mengemukakan alasan bahwa kontes Miss Universe bisa membawa harum nama Indonesia di tingkat internasional. Jika menang, Artika bisa menjadi duta wisata yang mampu memperbaiki citra Indonesia yang selama ini miring karena korupsi dan terorisme. Lagipula, semua orang suka melihat ratu-ratu cantik itu, apalagi dalam pose minimnya. Hanya orang munafik yang tidak setuju. Jadi, buat apa diprotes, hanya membuang energi (Supatmiati, 2005).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: