KUPUTUSKAN MENJADI MUSLIM STUDI KASUS TERHADAP PENGAMBILAN KEPUTUSAN PADA MU’ALLAF

Pendahuluan

Selama dua puluh tahun terakhir, jumlah kaum Muslim di dunia telah meningkat secara perlahan. Angka statistik tahun 1973 menunjukkan bahwa jumlah penduduk Muslim dunia adalah 500 juta. Sekarang, angka ini telah mencapai 1,5 miliar. Dapat diperkirakan, setiap empat orang salah satunya adalah Muslim. Bukan hal yang mustahil jika jumlah penduduk Muslim akan terus bertambah dan Islam akan menjadi agama terbesar di dunia (http://www.harunyahya.com/indo/artikel/067.htm 19/09/05).

Peningkatan yang terus-menerus ini bukan hanya dikarenakan jumlah penduduk yang terus bertambah di negara-negara Muslim, tetapi juga jumlah mu’allaf (sebutan bagi orang yang baru memeluk Islam) yang terus meningkat. Hal tersebut adalah suatu fenomena yang menonjol, terutama setelah peristiwa pengeboman di World Trade Center Amerika Serikat pada tanggal 11 September 2001 yang tersangka utamanya merupakan orang Muslim dibawah kepemimpinan Osama bin Laden. Serangan yang dikutuk oleh setiap orang, terutama umat Muslim telah mengarahkan perhatian dunia (khususnya warga Amerika) kepada Islam. Contoh dari kasus tersebut adalah cerita salah satu mu’allaf yang bernama Khadija Evans yang bertempat tinggal di Alabama. Khadija Evans berkonversi karena kejadian 11 September 2001. Berawal dengan sebuah transformasi kepercayaan, Khadija Evans mencoba mencari Tuhan. Pada saat berumur 36, Khadija Evans menyaksikan kejadian 11 September 2001 dan bertanya-tanya, agama apa yang membuat orang melakukan pengeboman. Lalu Khadija Evans mulai mempelajari Al-Qur’an dan berpindah menjadi Muslim (http://www.islamfortoday.com/evans01.htm 19/09/05).

Masyarakat Barat banyak mempertanyakan tentang agama Islam, yang dikatakan Al Qur’an, kewajiban yang harus dilaksanakan sebagai seorang Muslim, dan kegiatan umat Muslim dalam kehidupannya. Ketertarikan ini secara alamiah telah mendorong peningkatan jumlah warga dunia yang berpaling kepada Islam. Dilihat dari fenomena-fenomena tersebut, perkiraan yang umum terdengar pasca peristiwa 11 September 2001 bahwa “serangan ini akan mengubah alur sejarah dunia”, dalam beberapa hal, telah mulai nampak kebenarannya.

Hal luar biasa yang sesungguhnya sedang terjadi dapat diamati dan dipelajari perkembangannya melalui surat-surat kabar maupun berita-berita di televisi. Perkembangan ini, yang pada umumnya dilaporkan sebagai sebuah bagian dari pokok bahasan hari itu, sebenarnya adalah petunjuk penting bahwa nilai-nilai ajaran Islam telah mulai tersebar pesat di seluruh dunia. Dalam kenyataannya, Islam berada pada titik perkembangan pesat di Eropa. Perkembangan ini telah menarik perhatian di tahun-tahun terakhir, sebagaimana ditunjukkan oleh banyak tesis, laporan, dan tulisan seputar “kedudukan kaum Muslim di Eropa” dan “dialog antara masyarakat Eropa dan umat Muslim.” Seiring dengan berbagai laporan akademis tersebut, media massa telah menyiarkan berita tentang Islam dan Muslim.

Salah satu ketertarikan ini adalah perkembangan yang terus-menerus mengenai angka populasi Muslim di Eropa, dan peningkatan ini tidak hanya disebabkan oleh imigrasi. Meskipun imigrasi dapat memberi pengaruh nyata pada pertumbuhan populasi umat Islam, namun banyak peneliti mengungkapkan bahwa permasalahan ini dikarenakan angka perpindahan agama yang tinggi. Suatu kisah yang ditayangkan NTV News pada tanggal 20 Juni 2004 dengan judul “Islam adalah agama yang berkembang paling pesat di Eropa” membahas laporan yang dikeluarkan oleh badan intelejen domestik Prancis. Laporan tersebut menyatakan bahwa jumlah mu’allaf di negara-negara Barat terus bertambah, terutama pasca peristiwa serangan 11 September 2001. Misalnya, jumlah mu’allaf di Perancis meningkat sebanyak 30 hingga 40 ribu di tahun lalu (http://www.harunyahya.com/indo/artikel/067.htm 19/09/05).

Di Indonesia, fenomena perpindahan agama mungkin sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari, baik itu perpindahan agama dari bukan Muslim menjadi Muslim ataupun sebaliknya. Tidak sedikit orang berpindah agama dengan alasan menikah. Bagi pasangan yang berbeda agama dan ingin menikah, harus merelakan salah satu kepercayaan yang mereka anut, hal ini dilakukan untuk mempermudah proses pernikahan.

Menikah adalah salah satu contoh alasan mengapa orang berpindah agama. Turner (1979), salah satu profesor di bidang Antropologi di Universitas Arizona, mengadakan studi tentang orang-orang Mexican Indian yang berpindah agama menjadi protestan. Hasil dari penelitian ini ditemukan beberapa faktor yang mempengaruhi seseorang berpindah agama, yaitu : faktor sosial ekonomi, budaya, misionaris, dan faktor nasional (berkaitan dengan kewarganegaraan, hak milik, dan sebagainya). Bahkan ada penelitian yang menggunakan konversi agama sebagai terapi bagi rehabilitasi pengguna narkoba, dengan cara mengubah self-organization pengguna narkoba. Medianya adalah mengubah para pengguna narkoba menjadi seseorang yang menganut Kristen (Ho-Yee Ng, 2002).

Faktor-faktor tersebut tidak mutlak, dan belum tentu berlaku bagi setiap orang yang berpindah agama. Banyak ditemukan pengalaman menjadi seorang mu’allaf, contohnya adalah Moch Sandy Tjandra yang menceritakan pengalamannya menjadi mu’allaf dikarenakan pasangannya mengalami sakit yang tidak disembuhkan oleh dokter manapun, dan memperoleh kesembuhan dengan Islam (www.isnet.org 03/08/05).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: