PENGARUH PEER GROUP SEBAGAI GROUP REFERENCE TERHADAP MINAT BERAGAMA PADA REMAJA MUSLIM

Pendahuluan

Dunia remaja adalah dunia yang penuh dengan kompleksitas, di mana remaja mengalami perkembangan baik fisik maupun psikis yang akan mempengaruhi perkembangan berikutnya yaitu dunia dewasa. Stanley Hall menjelaskan masa remaja sebagai masa badai dan tekanan (storm and stress) yaitu suatu periode yang berada dalam situasi antara kegoncangan, penderitaan, asmara dan pemberontakan terhadap otoritas orang tua (Yusuf, 2000). Erickson (Said, 1998) mengemukakan bahwa masa remaja merupakan masa krisis identitas (identity crisis). Krisis identitas adalah suatu keadaan yang menunjukan bahwa individu mengalami kebingungan dalam mempertimbangkan apa saja yang dilihat pada lingkungan masyarakat sekitarnya serta berusaha untuk mengikat diri pada nilai-nilai tertentu yang dianggap cocok dengan dirinya dan dapat dijadikan sebagai identitasnya.

Remaja mengalami pematangan fisiologis dan seksual yang sangat cepat, akibatnya remaja mulai memikirkan tentang identitasnya sendiri, mempertanyakan kembali bagaimana dirinya, bagaimana pandangan orang lain terhadap dirinya, ke mana arah dan tujuan hidupnya, peran-peran sosialnya dalam kehidupan keluarga, masyarakat dan kehidupan beragama yang akan dipilihnya di masa depan, sikap terhadap teman sebaya dan anggota sex lain, karier masa depan, dan ideologi-ideologi yang berlaku ditantang untuk dihimpun dan diintegrasikan dalam suatu identitas baru yang mantap. Gardner (Fitria, 2000) mengemukakan bahwa identitas diri berkembang dari cara pola asuh orang tua, teman sebaya dan respon orang lain terhadap kepribadiannya.

Bila orang-orang di sekitarnya membantu menyelesaikan tantangan dan masalah ini, maka remaja akan berhasil mengembangkan suatu rasa identitas pribadi yang kuat. Namun jika remaja mengalami peralihan yang sulit dari masa kanak-kanak ke masa dewasa maka remaja akan mengalami kebingungan peranan dan kekaburan identitas. Hal ini dapat menyebabkan individu merasa cemas, bimbang dan terisolasi. Remaja menjadi sangat peka terhadap pandangan orang lain tentang dirinya, mudah tersinggung dan memiliki kepribadian yang rapuh, tidak memiliki sikap dan perspektif yang mantap tentang masa depannya. Seringkali akhirnya mereka terpengaruh oleh ideologi-ideologi tertentu yang buta pada ajaran-ajaran totaliter, terjerumus pada alkoholisme dan penggunaan narkotik (Cremers, 1989).

Pada masa remaja tubuh mengalami perkembangan fisik yang cepat dan hampir sama dengan ukuran tubuh orang dewasa. Namun tidak demikian pada kondisi psikisnya. Kondisi psikisnya masih terbagi dalam dua bagian yaitu karakteristik kekanakan dan karakteristik awal kedewasaan yang belum matang. Kesenjangan ini menimbulkan kebingungan dan kekaburan identitas remaja sehingga menghasilkan bentuk perilaku tidak terkendali, sensitif, mudah marah tanpa alasan yang jelas (Kompas,17 Maret 2003).

Surat kabar harian Kedaulatan Rakyat edisi jumat 17 juni 2005 melaporkan bahwa pecandu narkotika dan obat-obatan terlarang (narkoba) di Indonesia pada tahun 2004 mencapai jumlah empat juta penduduk, termasuk di antaranya anak-anak dan remaja usia sembilan hingga lima belas tahun. Selain artikel tersebut masih beribu–ribu artikel lain di media massa yang mengulas tentang dekadensi moral yang terjadi pada remaja, diantaranya tentang seks bebas yang sekarang telah menjadi trend pada remaja indonesia, tawuran, perampokan, dan pembunuhan.

Forum Konsultasi Lentera Sahaja, sebuah lembaga konsultasi di bawah perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Jogjakarta melaporkan bahwa tiap bulan terdapat 30 remaja di jogjakarta yang hamil di luar nikah dan umumnya adalah anak kost (Kompas, 3 Juli 2000). Pada tahun 1997, Lentera Sahaja mencatat rata-rata 20 remaja per bulan datang berkonsultasi. Jumlah ini meningkat di tahun 1999-2000 menjadi 30 remaja per bulan. Remaja yang datang berkonsultasi ke lembaga ini umumnya berusia antara 9-22 tahun. Siaran pers Annisa Foundation, sebuah lembaga independen yang bergerak dibidang kemanusian dan kesejahteraan gender, menerangkan sebanyak 42,3 persen pelajar di Cianjur sudah hilang keperawanannya saat duduk di bangku sekolah (hidayatullah.com).

Perilaku penyimpangan lainnya adalah tawuran antar remaja. Data Direktorat Bimbingan Masyarakat Polda Metro Jaya dan sekitarnya menunjukan bahwa tawuran antar pelajar tahun 2000 ada 197 kasus, tahun 2001 ada 123 kasus, sedangkan pelajar yang tewas tahun 2000 tercatat 28 orang, tahun 2001 sebanyak 23 orang. Pelajar yang luka berat tahun 2000 ada 22 orang, tahun 2001 ada 32 orang (Kompas, 27 Maret 2003). Saat ini, tawuran pelajar bukan merupakan kenakalan remaja tetapi sudah menjadi tindak kriminal karena tawuran pelajar sudah menjurus ke anarkhis/kekerasan, perusakan dan penganiayaan (www.kedaulatanrakyat.com).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: