PENGARUH PELATIHAN MANAJEMEN QALBU TERHADAP PENURUNAN TINGKAT KECEMASAN

Pendahuluan

Di zaman yang perkembangannya semakin maju seperti sekarang, banyak sekali ditawarkan hal-hal yang dapat menimbulkan kesenangan ataupun hal-hal yang mampu memanjakan diri dengan berbagai pernak-pernik kehidupan sebagai hasil dari kemajuan teknologi itu sendiri.

Namun di tengah-tengah kesenangan dan kenyamanan yang dirasakan tentunya tidak dapat dipungkiri akan muncul ketidaktentraman batin seperti cemas, was-was, takut,rendah diri, merasa gagal, dan hati yang kacau balau karena sebagian besar manusia hampir tidak pernah bisa memahami apa arti hidup ini. Tidak tahu apa tujuan dan harus bagaimana bersikap dalam hidup yang serba singkat ini. Sehingga timbullah perasaan-perasaan yang tidak menyenangkan seperti tersebut di atas.

Salah satu perilaku yang banyak dijumpai dalam kehidupan manusia adalah perilaku cemas. Hampir tiap individu pernah merasa cemas, hanya tingkat kecemasan antara individu yang satu dengan yang lain saja yang berbeda-beda. Begitu juga dengan wanita yang memiliki peran sebagai istri, ibu rumah tangga, pendidik, menjalankan tugas reproduksi, anggota masyarakat , dan bahkan juga sebagai pencari nafkah. Dalam menjalankan peran tersebut, adakalanya dihinggapi berbagai masalah yang menyangkut kejiwaann, yang apabila tidak diatasi akan menimbulkan gangguan kesehatan jiwa. Gangguan yang sering dihadapi adalah berupa stres, seperti merasa tertekan hidup bersama mertua, hidup diikuti saudara, finansial yang kuran, tidak memiliki keturunan, tindak kekerasan dari suami, dan sebagainya. Akibat-akibat stres dapat berupa psikologik dan somatik. Stres yang akut dapat menimbulkan depresi dan kecemasan (Astrini, 2001).

Menurut Gymnastiar (2001), bahwa sesuatu yang banyak menyita pikiran, waktu dan tenaga yang berakibat mengurangi kemampuan akal dan merusak ibadah adalah perasaan cemas. Cemas terhadap sesuatu yang belum terjadi, yang berkaitan dengan urusan duniawi. Padahal sudah jelas bahwa perasaan cemas apalagi bila berlarut-larut, tidak akan menimbulkan penyelesaian selain membuat hati semakin sengsara dan bertambah menderita.

Sebenarnya menurut Gymnastiar (2001), tidak ada masalah dengan masalah karena yang menjadi masalah itu adalah cara kita dalam menyikapi masalah. Padahal kesulitan dan persoalan hidup itu pada hakikatnya berpangkal dari kotornya hati. Hati yang kotor tidak bisa tidak, akan melahirkan perasaan cemas, resah, gelisah dan serba salah.
Sikap resah, gelisah atau panik merupakan tanda ketidak-tenangan seseorang dalam bersikap dan berprilaku. Sikap tersebut dapat membuat situasi di lingkungan sekitar jadi tidak menyenangkan.

Setiap orang pasti mendambakan ketenangan batin dan mencapai ketenangan batin bukanlah hal yang mustahil. Allah swt, mengajarkan pada kita langkah nyata mendapat ketenangan hati, yaitu dengan mengingat Allah atau zikir. “ingatlah dengan zikir mengingat Allah, hati akan tentram” (ar-ra’d : 28).
Seorang muslim yang menghayati sholatnya dengan ikhlas dan khusyu’ akan tenang dan terhindar dari kegelisahan, kecemasan, depresi dan semacamnya (Waspada Online, 22 mei 2004. Sri Rahmawati Minha).

Banyak penelitian yang mengungkap keterkaitan antara religiusitas dan kecemasan. Seperti penelitian yang dilakukan oleh beberapa peneliti berikut ini yaitu ;J. Irene Harris , Sean W. Schoneman , Stephanie R. Carrera (2002) yang berjudul Approaches to religiosity related to anxiety among college students, yang hasilnya bahwa pendekatan secara religius dapat mengurangi kecemasan. Variabel-variabel religiusitas yang melingkupi komitmen religius, doa-doa, dan hubungan dengan orang lain dalm kelompok rujukan yang sifatnya religius, memiliki hubungan negative yang signifikan dengan kecemasan.

Rifa Hidayah dalam penelitiannya tentang Pengaruh Ayat-ayat Al-Qur’an Terhadap Kecemasan Siswa Dalam Menghadapi Tes (2004), yangh hasilnya menunjukkan bahwa Ayat-ayat Al-Qur’an dapat menurunkan kecemasan subjek dalam menghadapi tes, siswa yang mendapatkan perlakuan tayangan dan pembacaan Al-qur’an kecemasannya lebih rendah dibandingkan siswa yang tidak mendapatkan perlakuan.Serta Penelitian yangdilakukan oleh Susan H. Jones, Leslie J. Francis, Chris Jackson, yang hasilnya menyatakan bahwa subjek yang religius dan yang meyakini Tuhan, menunjukkan tingkat kecemasan yang rendah.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: