PENGARUH PELATIHAN MANAJEMEN QOLBU TERHADAP PENINGKATAN ADVERSITY QUOTIENT

Pendahuluan

Seiring bertambahnya waktu, perkembangan zaman semakin maju dan berkembang, berbagai permasalahan, hambatan, kesulitan serta rintangan dalam hidup ini pun semakin banyak. Di satu sisi ada harapan bahwa dengan segala kemajuan dan keunggulan dari berbagai bidang kehidupan mampu menjadi sarana bagi manusia didalam menjalani kehidupannya agar lebih mudah, lancar dan teratur. Di lain pihak ada ketidakselarasan dalam masyarakat yang menimbulkan kegelisahan, terdapat perbedaan yang semakin besar di antara golongan- golongan, terdapat banyak persaingan, serta terdapat banyak kebutuhan- kebutuhan manusia yang pada umumnya tidak bisa terpenuhi.

Dalam tehnologi informasi terjadi banyak kemajuan yang pesat, hal tersebut menimbulkan beban berjuang dalam masyarakat dan beban untuk menyerap informasi yang tingkatnya semakin tinggi telah membuat kewalahan sebagian besar dari masyarakat yang ada. Akibatnya yang sering terjadi adalah suatu perasaan putus asa, pesimis, kegelisahan serta kecemasan yang semakin meluas (Stoltz, 2000).
Sekian banyak dari jumlah masyarakat yang merasakan kecemasan dari segala permasalahan yang ada, hal itu tidak luput dari banyaknya remaja yang juga ikut terpengaruh dengan adanya kondisi tersebut, karena remaja adalah bagian dari masyarakat itu sendiri. Basri (2000) menyebutkan, masyarakat yang berkembang begitu pesat baik dalam perubahan materi maupun pergeseran nilai- nilai kehidupan ternyata dampaknya bukan saja terhadap orang- orang tua dan dewasa tetapi juga terhadap kaum remaja.

Mappiare (1982) menyebutkan, pada remaja kemampuan berpikir lebih dikuasai oleh emosionalitasnya sehingga kurang mampu mengadakan konsensus dengan pendapat orang lain yang bertentangan dengan pendapatnya. Akibatnya masalah yang menonjol adalah pertentangan sosial. Banyak terdapat remaja akhir yang mendapat kesulitan dalam menyusun rencana- rencana mereka serta menetapkan pilihan, demikian pula dalam pemecahan persoalan yang dihadapi. Hal yang demikian ini mungkin disebabkan oleh kondisi- kondisi sosial, ekonomis, atau aspek- aspek psikis lainnya seperti kondisi emosi dan sikapnya.

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh penulis, salah satu contoh kasus pemecahan masalah dari beberapa remaja SMU yaitu, melakukan demo atau aksi protes kepada pihak sekolah karena merasa dirugikan di dalam penggunaan fasilitas sekolah. Aksi tersebut berawal karena para siswa merasa telah melunasi pembayaran untuk menggunakan fasilitas ruang komputer, akan tetapi dari pihak sekolah tidak segera memberikan fasilitas tersebut. Akhirnya, para siswa mengambil keputusan untuk melakukan aksi mogok.

Contoh yang lain yaitu remaja putri yang melarikan diri dari rumah karena remaja putri tersebut telah melakukan pergaulan bebas yang akhirnya membawa dampak kehamilan diluar nikah. Hal tersebut membuat kedua orang tuanya kebingungan karena putrinya tersebut tidak pulang ke rumah. Bahkan ketika ditanyakan kepada wali kelasnya ternyata remaja tersebut juga tidak masuk sekolah. Fenomena ini merupakan salah satu bukti kesulitan remaja didalam mengendalikan suatu permasalahan yang dihadapi, sehingga tidak sedikit remaja yang memilih atau menghindar dari permasalahan yang ada. Hal tersebut menunjukkan bahwa remaja merasa tidak mampu mengendalikan permasalahan atau kesulitan yang dihadapinya.

Persimpangan antara dua pilihan yaitu berani menghadapi atau menghindar dari masalah ini muncul pada jalur yang tantangannya paling berat dan bisa jadi mempunyai keuntungan yang cukup besar. Namun pada kenyataannya daripada harus mengatasi hambatan- hambatan hidup, semakin banyak jumlah orang yang tidak memiliki motivasi dan akhirnya mereka memilih untuk menyerah saja.
Sebagian besar orang di dunia ini belum memanfaatkan secara total seluruh potensi dirinya untuk mencapai suatu keberhasilan. Hal ini disebabkan oleh beberapa hal, antara lain belenggu pikiran dan mental mereka sendiri (Agustian, 2001).

Meskipun kesulitan- kesulitan mengilhami beberapa orang untuk bertindak, kesulitan- kesulitan dalam skala besar yang terus menumpuk dapat sangat membebani jiwa seseorang. Bagi banyak orang, bahayanya adalah hilangnya harapan. Namun dengan mengetahui bahwa cara merespon yang ada pada diri ini memerlukan perbaikan , maka akan lebih mempermudah diri didalam menghadapi setiap persoalan- persoalan yang ada pada diri. Gymnastiar (2004) menyatakan, yang menjadi masalah bukan konfliknya, bukan pula benturannya, tetapi yang menjadi masalah adalah bagaimana cara yang digunakan untuk menyikapi konflik tersebut

Setiap kesulitan merupakan suatu tantangan, dan setiap tantangan merupakan suatu peluang, yakni suatu peluang untuk melakukan suatu perubahan yaitu suatu perubahan untuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Namun pada umumnya, kebanyakan orang berhenti berusaha atau menyerah sebelum tenaga, batas kemampuan dan potensinya benar- benar telah digunakan untuk menghadapi tantangan- tantangan didalam hidupnya. Akan tetapi dengan adanya Adversity quotient yang baik pada diri setiap individu, hal tersebut akan membuat individu tersebut mampu untuk bertahan menghadapi kesulitan dan mengatasinya karena dengan Adversity quotient yang baik maka individu tersebut akan menganggap bahwa setiap hambatan adalah kesempatan atau peluang untuk menjadikan dirinya semakin lebih baik didalam menjalani hidup.

Banyak sekali permasalahan yang harus dilalui oleh setiap individu di dalam hidup ini. Permasalahan yang berat ataupun ringan semuanya membutuhkan usaha dari individu tersebut untuk menyikapinya. Permasalahan dan kesulitan itu merupakan pengalaman- pengalaman hidup individu. Pengalaman- pengalaman hidup tersebut antara individu yang satu dengan individu yang lain bisa jadi sama, akan tetapi karena penyikapan atau penyelesaian yang dilakukan berbeda maka hasil yang diterima dari tiap individu itu pun menjadi berbeda. Kesuksesan yang diraih oleh tiap individu di dalam hidup ini pun menjadi berbeda. Menurut Stoltz (2000) kesuksesan dapat dirumuskan sebagai tingkat dimana seseorang bergerak ke depan dan ke atas, terus maju dalam menjalani hidupnya, kendati terdapat berbagai rintangan atau bentuk- bentuk kesengsaraan lainnya.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: