PENGARUH PELATIHAN PENGENALAN DIRI MELALUI AL-QUR’AN TERHADAP KECERDASAN EMOSI

Pendahuluan

Anggapan bahwa kecerdasan manusia hanya tertumpu pada dimensi intelektual saja saat ini sudah tidak berlaku lagi. Kesuksesan seseorang tidak hanya ditentukan dari kecerdasan intelektual (IQ). Seseorang yang sebenarnya memiliki IQ tinggi, ternyata tidak mampu membawanya menjadi seorang yang berprestasi di tengah masyarakat (Asnawi, 2005). Selain IQ, manusia juga masih memiliki dimensi kecerdasan lainnya, yaitu : Kecerdasan Emosional atau EI (Emotional Intelligence) dan Kecerdasan Spiritual atau SQ (Spiritual Quotient). Memasuki abad 21, legenda IQ (Intelligence Quotient) sebagai satu-satunya tolak ukur kecerdasan yang juga sering dijadikan parameter keberhasilan manusia, digugurkan oleh munculnya konsep Kecerdasan Emosional atau EI (Emotional Intelligence) (Agustian, 2001).

Sebuah penelitian menunjukkan kecerdasan emosional (Emotional Intelligence /EI) justru menjadi faktor yang paling menentukan dalam mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Semua ini menunjukkan bahwa aspek kecerdasan intelektual baru merupakan syarat minimal dalam menentukan keberhasilan seseorang. Hendrick dan Ludeman (dalam Formiskat, 2005) menyebutkan setidaknya 75% kesuksesan manusia lebih ditentukan oleh kecerdasan emosionalnya (EI) dan hanya 4% yang ditentukan oleh kecerdasan intelektualnya (IQ). Berdasarkan Carnagie Melon University, Wiggam dan hasil survey EI Inventory yang didirikan Bar On, IQ hanya berpengaruh 6% – 20% dalam mencapai kesuksesan (Republika, 2006).

Tindak kekerasan ternyata tidak hanya dimiliki oleh masyarakat umum. Para insan kampus yang dikenal sebagai calon intelektual juga bisa berperilaku emosional. Seperti dilakukan para mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kediri. Ratusan mahasiswa mengamuk dan melakukan aksi perusakan/pembakaran kantor Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) perguruan tinggi tersebut, hanya karena tidak puas dengan pembentukan panitia ‘Pemilu Raya’. Pemilu raya itu bertujuan untuk memilih pengurus sejumlah lembaga mahasiswa (Republika, 2006).

Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP), Wahyono (dalam Replubika, 2006) mengungkapkan bahwa saat ini kecerdasan emosi para mahasiswa telah mengalami kemerosotan. Sepuluh mahasiswa asal Papua menjadi terdakwa kasus perusakan Gedung Plaza 89, Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 23 Februari 2006. Perbuatan itu dilakukan karena perasaan marah akibat rasa emosi setelah menonton tayangan televisi mengenai penembakan oleh aparat TNI/Polri terhadap warga Papua yang mendulang emas di area pembuangan limbah PT Freeport Indonesia di Tembagapura, Timika, pada 21 Februari; yang mengakibatkan tiga orang meninggal dunia.

Banyak mahasiswa yang seharusnya menjadi teladan justru berbuat hal-hal yang tidak pantas. Perilaku menyontek, berkelahi, perbuatan asusila kerap dilakukan. Ini akibat dari sistem pendidikan yang hanya mengandalkan nilai akademis (IQ), tapi melupakan kecerdasan emosi (EI) (Agustian, dalam Republika, 2006).
Persoalan mendasar bangsa ini terletak pada dua hal yaitu technicall skill (intelektual) dan personality skill (emosional dan spiritual). Selama ini justru yang menjadi perhatian serius adalah memperbaiki technicall skill dan melupakan personality skill, Ketidakseimbangan ini akhirnya melahirkan manusia Indonesia yang timpang. Kemampuan teknisnya mumpuni, namun tidak diimbangi dengan kecerdasan emosi dan spiritual. Rektor ITS, M. Nuh (dalam Republika, 2006) mengungkapkan saat ini masyarakat menginginkan kebebasan yang tak terbatas. Tak ada pengendalian diri, sehingga mengakibatkan menjadi liar baik fisik maupun pikiran.

Survei menunjukkan adanya kesamaan fakta di berbagai belahan dunia, bahwa anak-anak muda sekarang lebih banyak mengalami kesulitan emosional. Mereka lebih kesepian dan pemurung, tapi di sisi lain lebih galak dan lebih kurang menghargai sopan santun, lebih gugup dan mudah cemas, serta lebih impulsif dan agresif. Akibatnya mereka menarik diri dari pergaulan, lebih suka menyendiri, bersikap sembunyi-sembunyi, tidak bersemangat dan tentu saja kurang bahagia (Kompas, 2004).

Kemampuan berinteraksi dalam lingkungan kerja biasanya menjadi kelemahan yang dimiliki oleh para sarjana baru atau yang populer dengan sebutan fresh graduate. Kelemahan yang dialami antara lain adalah ketidakmampuan menghadapi atasan, rekan sejawat, dan bawahan dan, bagaimana membaur dengan lingkungan kerja. Hal ini terjadi karena mahasiswa hanya dibekali oleh materi-materi yang berkaitan dengan disiplin ilmu yang didalaminya sedangkan materi tentang pengembangan diri biasanya tidak ikut disertakan. Dangkua (dalam Republika, 2006), mengungkapkan bahwa kesulitan sarjana baru pada saat memasuki dunia kerja adalah kurang mampu beradaptasi dengan lingkungan kerja, karena para sarjana baru tersebut baru dibekali teori dan praktik sesuai dengan disiplin ilmu yang didalami.

Tidak adanya perenungan tentang makna kehidupan dan diri sendiri itu, maka manusia tidak memiliki pengetahuan tentang diri, dan bagi yang tidak memiliki pengetahuan tentang diri pastilah menjadi manusia-manusia kerdil. Bentuk lain dari rendahnya kecerdasan emosional itu tercermin dalam “dunia pengangguran” yang menghantui kalangan akademisi (Suharsono, 2005). Mereka telah memiliki bekal dan kemampuan yang diperolehnya selama belajar mereka hingga di perguruan tinggi, tetapi semua itu hampir sia-sia karena mereka gagal mengkomunikasikan kepada pihak-pihak yang baik. Kecerdasan emosional tidak hanya berfungsi untuk mengendalikan diri, tetapi lebih dari itu juga mencerminkan kemampuan dalam “mengelola ide, konsep, karya atau produk, sehingga hal itu menjadi minat orang banyak.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: