PENGETAHUAN AGAMA TENTANG PERGAULAN ANTAR JENIS KELAMIN DAN SIKAP TERHADAP HIDUP BERSAMA SEBELUM MENIKAH PADA MAHASISWA MUSLIM

Pendahuluan

Hidup bersama tanpa status pernikahan antara pria dan wanita yang tidak ada hubungan saudara, atau lebih dikenal dengan istilah kumpul kebo mulai dimaklumi orang. Isu ini sudah menjadi hal biasa yang berkembang di kalangan masyarakat. Artis sebagai profesi yang menjadi banyak sorotan bisa dijadikan contoh.. Andi Soraya, sebagai public figure Andy mengakui secara transparan memutuskan untuk hidup bersama sebelum menikah bersama Steve Emanuel yang juga adalah seorang selebritis. Baginya pola hidup seperti ini adalah ajang persiapan untuk saling mengerti dalam mengarungi bahtera rumah tangganya nanti. Selain itu hidup bersama sebelum menikah baginya adalah hak asasi manusia untuk melakukannya (GATRA, 3 Oktober 2003). Sedikit berbeda, Sandy Harun membeberkan skandalnya dengan anak mantan orang nomor satu di Indonesia dan juga menghasilkan satu orang putri, setelah Sandy berpisah dari suami resminya (Tabloid Nyata, 2006). Hidup bersama dengan pacar tidak hanya terjadi pada artis tetapi juga terjadi pada masyarakat umum khususnya remaja.

Yogyakarta yang merupakan pusat berkumpulnya generasi muda yang datang dari berbagai daerah juga merupakan tempat fenomena ini banyak ditemukan. Selama menyelesaikan studinya di Yogyakarta mereka melakukan hidup bersama dengan pasangan sebelum mereka menikah, bahkan di antaranya ada yang sampai memiliki anak (Koran Merapionline, 2 Februari 2006). Bagi mereka, pola hidup bersama tersebut sebetulnya menunjukkan pandangan mereka tentang perkawinan sebagai sesuatu yang sakral dan serius. Mereka menganggap bahwa perkawinan dua orang dengan latar belakang kebiasaan yang berbeda bukanlah sesuatu yang mudah, karenanya harus ada proses sebelumnya yang membuat mereka bisa lebih saling memahami dan mengerti. Bagi mereka, hidup bersama memungkinkan mereka untuk mengenal pasangannya lebih dalam, sehingga jika mereka menikah, tidak terlalu sulit untuk melakukan adaptasi. Ada kecenderungan bahwa pasangan yang hidup bersama menganggap keputusan tersebut sebagai sebuah latihan dan persiapan sebelum mereka menikah (Swastika, 2002).

Masyarakat selama ini memastikan bahwa pasangan yang hidup bersama tersebut tentu saja melakukan aktivitas seksual. Meski kasus hamil di luar nikah sekarang ini banyak sekali terjadi, namun itu sama sekali tidak menunjukkan adanya kelonggaran masyarakat terhadap konvensi sosial yang membatasi hubungan seksual dalam lembaga pernikahan. Pemenuhan naluri biologis hanya dibenarkan dalam ikatan suami istri. Jika tidak, berarti salah dan haram hukumnya. Itu sebabnya, masyarakat memberikan penilaian yang sama atau bahkan jauh lebih buruk bagi pasangan “pelaku kumpul kebo”. Istilah kumpul kebo berasal dari masyarakat Jawa tradisional (generasi tua). Ini membuktikan bahwa sebenarnya perbuatan hidup bersama sering disebut dengan istilah samen leven bukanlah perkara yang baru, sejak dulu telah menjadi satu fenomena yang dianggap melanggar konvensi sosial masyarakat.
Istilah ini memang cenderung sarkastik dan mencerminkan betapa masyarakat memberi nilai rendah bagi pasangan yang belum menikah, akan tetapi tetap hidup bersama (Swastika, 2002). Keputusan hidup bersama, sering kali dituding sebagai sebuah sikap yang tidak menghargai lembaga perkawinan. Selama ini, lembaga perkawinan dianggap sebagai sesuatu yang sakral sehingga harus diperlakukan dengan “baik dan benar”. Hidup bersama dianggap sebagai sebuah sikap yang mengadopsi pola-pola perilaku yang seharusnya dilakukan hanya jika pasangan tersebut sudah menikah. Di Demak sebanyak 32 pasangan suami istri dinikahkan secara massal di serambi Masjid Agung Demak. Sebagian besar dari mereka adalah pasangan kumpul kebo, yang sudah bertahun-tahun hidup serumah dan sudah punya anak (Suara Merdeka, 2006).
Fenomena hidup bersama sebelum menikah yang marak di lingkungan sosial di sekitar rumah, tempat kerja, dan masyarakat luas (terpantau melalui media massa), dapat ditemukan beberapa macam respon yang muncul sehubungan dengan fenomena perselingkuhan dan seks bebas. Pada pokoknya terdapat tiga macam respon menolak, menerima, dan mentolelir. Bagaimana respon atau sikap mahasiswa terhadap fenomena hidup bersama sebelum menikah yang sangat identik dengan seks bebas, berhubungan dengan pandangannya terhadap perilaku tersebut. Mereka yang menolak, dengan keyakinan tegas bahwa hal itu tidak layak ditolelir, bisa jadi karena merasakan akibat negatifnya atau karena berpegang pada nilai – nilai luhur mengenai kesetiaan dan seksualitas.
Mereka yang menerima, dengan konsekuensi sewaktu-waktu dapat melakukan, mungkin berpandangan bahwa libido merupakan dorongan biologis yang normal dan perlu disalurkan, entah dengan siapa saja kita ingin melakukannya. Hal ini ditolelir oleh orang yang tidak melakukan namun membiarkan hal itu terjadi di lingkungannya. Masyarakat perkotaan memandang hidup bersama sebelum menikah dengan pasangan adalah bagian dari hak asasi seseorang untuk menentukan kehidupan pribadinya dan masih bisa dikatakan hal yang biasa selama perbuatan tersebut tidak mengganggu kehidupan orang lain dan dilakukan “suka sama suka” ,tetapi di sisi masyarakat yang lainnya mengasumsikan bahwa menjalani hidup bersama sebelum menikah adalah perbuatan yang melanggar norma – norma (Arimurti, 2007). Peggy Melati Sukma (Detik.com, 2007) mengatakan bahwa pola hidup bersama sebelum menikah sebagai pergeseran nilai masyarakat sebagai pilihan hidup yang merupakan hak setiap orang untuk melakukannya. Tetapi baginya secara agama itu tidak dibenarkan dan harus disikapi jika fenomena itu sudah menimbulkan keresahan dilingkungan masyarakat.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: