PENGETAHUAN HUKUM PERKAWINAN ISLAM DAN SIKAP TERHADAP PERKAWINAN ANTAR AGAMA PADA MAHASISWA MUSLIM

Pendahuluan

Perkawinan pasangan yang berbeda agama bukan hal yang baru terjadi di Indonesia. Isu ini semakin berkembang di masyarakat karena media cetak dan elektronik sebagai media yang dianggap paling dipercaya sering memberitakan masalah ini sebagai headline. Salah satu contohnya adalah perkawinan Dewi Sandra (Islam) – Glenn Fredly (Kristen) yang menjadi berita utama di berbagai acara infotaiment dan media cetak. Perkawinan yang diselenggarakan pada tanggal 3 April 2006 di Bali, berlangsung dengan pemberkatan secara Kristen dan telah didaftarkan di catatan sipil yang merupakan suatu lembaga pencatatan untuk perkawinan non Islam (Tabloid Genie, 2006). Sedikit berbeda, Deddy Corbuzier (Katolik) – Kalina (Islam) memilih melaksanakan pernikahan secara Islam dengan alasan ingin mendapatkan pengakuan secara agama (Husaini, 2005). Lain halnya dengan perkawinan Ahmad Nurcholish (Islam) – Ang Mei Yong (Konghucu) yang dilakukan dengan dua metode yaitu ijab kabul secara Islam dan perestuan secara Konghucu (Nurcholish, 2003). Perkawinan antar agama tidak hanya terjadi pada artis tetapi juga terjadi pada masyarakat umum. Perkawinan yang dilakukan oleh mereka tidak lagi didasarkan pada satu akidah agama melainkan hanya pada cinta (Majid, 2005).

Fenomena yang cukup menarik dari perkawinan antar agama adalah pasangan yang berbeda agama akan melakukan berbagai cara untuk melegalisasikan perkawinan mereka. Berdasarkan penelitian Baso (Nurcholish, 2006) terungkap bahwa salah seorang pasangan yang berbeda agama akan melakukan salah satu hal berikut : pembuatan “KTP Islam” dengan tujuan agar dapat dicatatkan di KUA sebagai pasangan seagama (Islam), pura-pura masuk agama tertentu atau “pindah agama” sementara supaya seagama dalam melaksanakan perkawinan, melangsungkan perkawinan di luar negeri lalu mencatatkan perkawinannya di Indonesia karena berdasarkan Universal Declaration of Human Right pasal 16 ayat 1 bahwa tidak ada pembatasan perkawinan berdasarkan ras, kebangsaan atau agama. Senada dengan penelitian di atas, dalam satu seminar di Depok, Guru Besar Hukum Perdata Universitas Indonesia, Wahyono Darmabrata menjelaskan ada empat cara yang populer ditempuh pasangan beda agama agar pernikahannya dapat dilangsungkan. Empat cara tersebut adalah meminta penetapan pengadilan, perkawinan dilakukan menurut masing-masing agama, penundukan sementara pada salah satu hukum agama dan menikah di luar negeri (www.hukumonline.com).

Majid (2005) menyatakan bahwa berdasarkan hukum munakahat yang diajarkan Islam kepada para penganutnya, maka perkawinan (pernikahan) yang dibenarkan oleh Allah SWT adalah suatu perkawinan yang didasarkan pada satu akidah, disamping cinta dan ketulusan hati dari keduannya. Sebuah rumah tangga tidak akan mampu meraih kebahagiaan abadi dan sukses bila dibangun di atas agama dan aqidah yang berbeda (Khalid, 2004). Kehidupan suami istri yang tenteram, penuh rasa cinta dan kasih sayang akan terwujud bila suami istri memiliki keyakinan agama yang sama karena keduanya berpegang teguh untuk melaksanakan satu ajaran agama yaitu Islam.

Senada dengan pandangan di atas, Nashori dan Mucharam (2002) mengungkapkan bahwa dua orang yang sama-sama memiliki kontur untuk membentuk keluarga dengan mendasarkan diri pada nilai-nilai Ilahi adalah pasangan yang berpotensi untuk mewujudkan mahligai pernikahan yang langgeng. Sebaliknya jika suami istri berbeda agama maka akan timbul berbagai kesulitan di lingkungan keluarga, misalnya dalam hal pelaksanaan ibadah, pendidikan anak, pengaturan tata karma, pembinaan tradisi keagamaan dan sebagainya. Walgito (1984) berpendapat bahwa dengan adanya kesamaan agama yang dianut oleh pasangan suami istri maka akan memberikan pandangan, sikap, frame of reference yang relatif sama sehingga persoalan yang timbul berkaitan dengan agama dapat dihindari.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: