PENGETAHUAN POLIGAMI DALAM ISLAM DAN SIKAP TERHADAP POLIGAMI PADA WANITA MUSLIM

Pendahuluan

Poligami ‘AWARD’ yang digelar pada tanggal 25 Juli 2003 di Jakarta (Jurnal Perempuan, 2003) menimbulkan banyak reaksi yang datang dari berbagai kalangan, baik bersifat positif atau negatif, dengan cara yang biasa, keras bahkan sangat keras. Berbagai macam reaksi dari berbagai kalangan baik yang pro maupun kontra ternyata telah memberi polemik bagi kehidupan masyarakat Indonesia dan wanita khususnya. Reaksi yang bermacam dengan pencantuman kata award atau bahkan poligami itu sendiri telah memberikan motivasi kepada banyak orang untuk bisa mencari dan meningkatkan pengetahuannya tentang poligami.

Banyak pandangan dan sikap yang muncul dengan adanya poligami award atau poligami itu sendiri. Pandangan dan sikap yang muncul didasari dengan berbagai macam alasan. Sikap terhadap poligami merupakan sesuatu yang sangat penting karena sikap bisa membawa individu pada perilaku-perilaku tertentu , meskipun tidak semua sikap akan mempengaruhi perilaku namun sikap yang tidak tepat akan memberikan dampak pada lingkungan sekitarnya.

Terlepas dari polemik tentang award, poligami yang terjadi saat ini telah mampu memberikan kontribusi yang penting dalam hal ijtihad para ulama dan para sholihin tentang hukum, dasar dan sejarah dari poligami itu sendiri. Para ulama, para sholihin dan masyarakat awampun terus mencari dan menggali apa dan bagaimana poligami yang sebenarnya dalam Islam, mulai dari apa hukum poligami itu sendiri, bagaimana dasar dan sejarah poligami yang dilakukan Islam.

Poligami pada dasarnya bukanlah masalah baru bagi kehidupan dunia, karena poligami sudah ada sejak zaman dahulu sebelum Nabi Muhammad SAW melakukan poligami. Bahkan jika melihat dan mengkaji sejarah yang ada, praktek poligami sudah ada jauh sebelum Islam datang, dimana poligami itu merupakan warisan dari orang-orang Nasrani dan Yahudi. Yanggo (www. muslimat-nu.or.id,10-01-2004) menyatakan bahwa pada zaman dahulu poligami dengan sepengetahuan dewan Gereja telah berlangsung sampai abad ke 17 M dan tahun 1650 M. Selain itu Majelis tinggi Perancis mengeluarkan edaran tentang diperbolehkannya laki-laki mengumpulkan dua orang istri. Surat edaran itu dikeluarkan karena kurangnya kaum lelaki akibat perang yang berlangsung secara terus-menerus selama 30 tahun.

Hamami dan Barirotun (1994) mengatakan bahwa dalam sejarah bangsa Arab sebelum Islam (Zaman Jahiliyah), masyarakat Arab sering melakukan pembunuhan anak perempuan yang pada akhirnya menjadi tradisi yang kemudian ditentang oleh Al-Quran setelah Islam datang. Bentuk lain dari penghinaan terhadap kaum perempuan pada jaman itu adalah berlakunya suatu tradisi dimana seorang anak laki-laki mengawini bekas istri ayahnya dan juga mengenai hal perceraian dimana pada saat itu tidak ada batas iddah bagi wanita yang diceraikan suaminya, sehingga selama bekas suaminya masih ada keinginan untuk mengambilnya kembali, sampai kapanpun wanita tersebut tidak bisa diperistri oleh laki-laki lain.

Yanggo (www.muslimat-nu.or.id, 10-01-2004) mengatakan bahwa masyarakat Yahudi membolehkan poligami yang tidak terbatas, dimana pada saat itu Nabi Yakub, Daud, Sulaiman mempunyai banyak Istri dan Nabi Ibrahim mempunyai dua orang Istri. Banyak penduduk asli Australia, Amerika, Cina, Jerman dan Sisilia terkenal sebagai bangsa yang melakukan poligami sebelum datangnya agama masehi tanpa adanya batas dan syarat-syarat keadilan terhadap para istri.

Melihat sejarah di atas jelas praktek poligami sudah ada sejak berabad-abad tahun yang lalu bahkan sebelum Islam datang. Praktek-praktek poligami yang ada pada masa lalu dengan jelas telah merendahkan martabat perempuan pada saat itu. Islam melalui Nabi Muhammad SAW sebagai uswatun hasanah mengadakan perbaikan terhadap kebudayaan yang telah berkembang pada saat itu dan menggantinya dengan kemaslahatan yaitu dengan cara Islam membolehkan poligami dengan syarat dan batasan-batasan (seperti 4 Istri) dan untuk menjaga hak dan martabat perempuan. Allah menurunkan Firmannya :
“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah perempuan-perempuan (lain) yang kamu senangi 2,3 atau 4. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berbuat adil. maka kawinilah seorang saja atau budak-budak yang kamu miliki, yang demikian itu adalah lebih dekat dengan tidak berbuat aniaya” (QS. An-Nisaa : 3)

Islam membolehkan poligami tersebut dengan tetap pada menjaga kemaslahatan dengan ayat selanjutnya:
“Kamu tidak mungkin berlaku adil terhadap istri-istrimu, meskipun kamu sangat menginginkannya. Janganlah kamu condong kepada seseorang saja dan meninggalkan yang lain seperti barang gantungan. Jika kamu memperbaiki diri dan bertaqwa kepada Allah. Allah maha pengasih lagi maha penyayang.” (QS. An-Nisaa : 129)

Bahkan ayat inipun diperkuat dengan hadits Nabi :
“ Barang siapa memiliki dua orang istri lalu ia condong (kepada istri yang dicintainya), maka ia datang pada hari kiamat dengan separuh badannya membungkuk” (HR. Abu Daud).

Melihat ayat-ayat di atas dan hadits yang ada jelas bahwa Islam membolehkan poligami bagi laki-laki yang telah mampu dan Islam mengaturnya dengan sangat ketat dalam hukum dan koridor yang jelas.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: