PERBEDAAN PRASANGKA SOSIAL PADA NON MUSLIM ANTARA MAHASISWA PERGURUAN TINGGI UMUM DAN PERGURUAN TINGGI AGAMA DI YOGYAKARTA

Pendahuluan

Indonesia dikenal sebagai masyarakat yang pluralistik dan menyimpan kemajemukan atau keberagaman dalam hal agama, tradisi, kesenian, kebudayaan, cara hidup dan pandangan nilai yang dianut oleh kelompok-kelompok etnis dalam masyarakat Indonesia. Pada satu sisi, keberagaman atau kemajemukan ini bagi bangsa Indonesia bisa menjadi sebuah kekuatan positif dan konstruktif. Sebaliknya, pada sisi lain, menjadi sebuah kekuatan yang negatif dan destruktif apabila tidak diarahkan secara positif.

Situasi semacam ini sangat disadari oleh para pendiri (founding fathers) Republik ini. Itulah sebabnya, para pendiri Republik ini tidak mendirikan negara Indonesia menjadi negara agama tetapi memilih dan menempatkan Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara.

Sejauh menyangkut agama, Negara telah meletakkan dasar-dasar konstitusional yang kuat dengan memberikan jaminan dan kebebasan kepada setiap penduduk dan setiap kelompok pemeluk agama untuk menjalankan ibadah dan agamanya menurut keyakinan dan kepercayaannya masing-masing. Hal ini secara jelas dan tegas telah dicantumkan dalam UUD 1945 pasal 29 ayat 1 dan 2 yang berbunyi : “Negara berdasar atas Ketuhanan Yang Maha Esa. Negara menjamin kemerdekaan tiap-tiap penduduk untuk memeluk agamanya
masing-masing dan untuk beribadat menurut agamanya dan kepercayaannya itu”.

Berdasarkan data BPS tahun 1999, komposisi jumlah penganut agama di Yogyakarta terdiri sebagai berikut : agama Islam 3,006,171 (91,94%), Katolik 159,411 (4,88%), Kristen 92,674 (2,63%), Hindu 5,637 (0,17), Budha 5,154 (0,16%), dan kepercayaan lainnya 708 (0,024%).

Agama adalah salah satu masalah yang teramat peka dalam kehidupan manusia. Agama tak jarang menjadi pemicu prasangka, konflik, dan tindak kekerasan baik internal umat beragama maupun antarumat beragama. Pemahaman agama yang sempit dan fanatisme melahirkan keberagamaan yang eksklusif dan anti toleransi, sehingga terjadi suatu prasangka sosial yang menyebabkan terjadinya suatu konflik.

Berbagai konflik yang berkepanjangan di berbagai tempat di dunia berakar pada isyu keagamaan, seperti konflik antara Protestan-Katolik di Irlandia Utara, Muslim-Kristen Ortodhok di Bosnia, Muslim-Katolik di Filipina, Hindu Islam di Kashmir, dan Islam-Yahudi di Palestina (Sarwono, 2002)
Walaupun agama-agama besar di dunia menganjurkan toleransi dan kasih sayang kepada orang lain, nyatanya agama justru berkorelasi positif dengan prasangka. Prasangka sebagai suatu sikap antar kelompok yang negatif, yang melibatkan komponen kognitif (berupa penilaian negatif), afektif (berupa rasa tidak suka), dan perilaku (berupa predisposisi untuk bereaksi negatif) (Hunsberger, 1995).

Menurut Gerungan (2002) prasangka sosial yang awalnya merupakan sikap-sikap perasaan negatif, lambat laun menyatakan dirinya dalam tindakan-tindakan yang diskriminatif terhadap orang-orang yang termasuk golongan yang diprasangkainya, tanpa adanya alasan-alasan yang objektif pada pribadi orang yang dikenakan tindakan diskriminatif. Terjadinya prasangka sosial akibat kekurangan pengetahuan dan pengertian akan fakta-fakta kehidupan yang sebenarnya dari golongan-golongan orang yang dikenakan stereotip-stereotip itu.

Dalam realitasnya, agama tidak senantiasa menghadirkan kedamaian. Agama sering dituding sebagai sumber konflik bagi umat manusia. Terlepas dari perdebatan apakah benar agama menjadi faktor timbulnya berbagai macam kerusuhan di Indonesia pada masa belakangan ini, fakta telah berbicara bahwa berbagai kerusuhan yang terjadi salah satunya disulut oleh isu agama. Karena itu, diperlukan usaha serius untuk mengurangi atau bahkan mengeliminasi faktor agama sebagai sumber konflik dan kerusuhan.

Kekerasan (kerusuhan) yang bernuansa agama dan telah memakan banyak korban manusia termasuk para mahasiswa dan harta benda, sebagaimana dilaporkan banyak media, di antaranya, kerusuhan di Timor-timur (1995),` kerusuhan Sambas (2000), kerusuhan Ambon (2000), kerusuhan Kupang (2000), dan kerusuhan Sampit (2001), kerusuhan Pontianak (2001). Rangkaian kasus itu telah mengakibatkan hubungan antarumat beragama menjadi kurang harmonis (Mas’oed, 1997)

Karena itu, jika terjadi konflik dalam hubungan antar pemeluk agama, maka muatan konflik seringkali bersifat kompleks. Dari peristiwa kecil yang menyangkut dua orang, dapat meluas dan menjalar melibatkan sepuluh orang, golongan bahkan wilayah, disertai tindakan-tindakan kekerasan dan destruksi yang merugikan.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: