PERBEDAAN RELIGIUSITAS ANTARA SISWA SEKOLAH DASAR ISLAM TERPADU (SDIT) DAN SISWA SEKOLAH DASAR NEGERI

Pendahuluan

Bangsa Indonesia saat ini tengah menghadapi berbagai macam tantangan di segala bidang, baik itu berasal dari dalam negeri maupun dari luar negeri. Pada masa era globalisasi munculah berbagai macam hal salah satunya yaitu perkembangan teknologi. Teknologi modern telah memungkinkan terciptanya komunikasi bebas lintas benua, lintas negara dan pedalaman di masing-masing negara. Melalui media audio (radio) dan audio visual (televisi, internet, dan lain-lain). Media ini, khususnya televisi, dapat dijadikan alat yang sangat ampuh di tangan sekelompok orang atau golongan untuk menanamkan atau sebaliknya dapat merusak nilai-nilai moral. Persoalan sebenarnya adalah terletak pada mereka yang menguasai komunikasi global tersebut. Di mana mereka yang menguasai komunikasi global tersebut memiliki perbedaan perspektif yang ekstrim dengan Islam dalam memberikan kriteria nilai-nilai moral, antara nilai baik dan buruk, antara kebenaran sejati dan artifisial.

Perlu dicatat bahwa sejak munculnya berbagai macam media yang menawarkan berbagai berita dan acara-acara yang menarik dan bervariasi, umat Islam hanya berperan sebagai konsumen. Orang-orang Barat-lah (non-muslim) yang memegang kendali semua teknologi modern sehingga tidak sedikit orang yang terpengaruh oleh kebudayaan Barat yang kini makin marak (Fatih, 2004).

Nilai-nilai asing yang masuk bermacam-macam ada yang positif dan ada yang negatif. Nilai yang positif dapat dilihat contohnya seperti seberapa besar motivasi seseorang untuk bekerja dan pola pikirnya yang sudah maju dalam berbagai bidang kehidupan, hal tersebut dapat ditiru. Tetapi ada juga nilai-nilai asing yang negatif seperti halnya gaya hidup atau life style yang mengikuti kebiasaaan dari dunia barat, diantaranya yaitu pergaulan bebas, suka memasang aksesori yang tidak pada tempatnya, misalnya seperti laki-laki yang menggunakan anting-anting dan gelang, banyak juga para remaja karena tuntutan pergaulan mereka menindik di sembarang tempat seperti di hidung, lidah, alis dan lain-lain. Selain itu mereka juga membuat tato, bolos sekolah, sering keluar malam, pulang rumah dalam keadaan mabuk dan perilaku menyimpang lainnya (Bali Post, 21 Desember 2003 ).

Bangsa Indonesia telah mengalami pergeseran nilai budaya yang telah menunjukkan perubahan drastis dan cenderung negatif, seperti perampokan, pembunuhan, penipuan dan lain-lainnya (Radar Yogya, 11 Oktober 2000). Berita-berita tentang tindak kejahatan semakin hari semakin meningkat dan menjadi tidak asing lagi di telinga kita. Semakin bergesernya nilai-nilai tersebut maka akan memunculkan sifat materialisme, individualisme dan menurunnya nilai-nilai keagamaan.

Kecenderungan manusia modern saat ini mulai melengahkan atau mengacuhkam nilai-nilai agama. Saat ini masyarakat sebagian besar hanya mengejar kepentingan duniawi bukan kepentingan akhirat. Seharusnya kepentingan duniawi harus diselaraskan dengan kepentingan akhirat. Prinsip-prinsip hidup yang bernilai ke-Tuhanan dan etis serta berorientasi kearah ukhrawi semakin mengendor, hal tersebut dapat mengurangi keyakinan dan keimanan manusia terhadap Khaliknya.

Masyarakat yang jiwanya telah tererosi, tidak lagi memikirkan hal-hal agamawi, masyarakat kini lebih memikirkan hal-hal duniawi yang penuh dengan kenikmatan dan kesenangan, di dalam kesenangan dan kenikmatan itu manusia lupa bahwa manusia tidak mempunyai dasar pegangan hidup yang kuat. Dapat dimungkinkan orang yang keimanan dan ketakwaanya lemah akan mudah sekali terkena stress dan mudah putus asa. Seperti pada kasus di Sragen yaitu tentang kenakalan remaja dan kenekatan warga Sragen yang ingin menyelesaikan masalah dengan jalan pintas yaitu dengan jalan bunuh diri. Hal tersebut mengundang keprihatinan kasat serse AKP Widjiono (Suara Merdeka, 3 April 2003) menurutnya sudah ada tiga kasus bunuh diri. Bunuh diri sering dilakukan oleh warga karena pelaku mengidap penyakit yang tidak kunjung sembuh dan mereka memilih mengakhiri dengan gantung diri.

Begitu pula dengan kasus kekerasan yang menimpa remaja dan pemuda tanggung di Sragen, mereka kadang-kadang menyelesaikan masalah dengan menggunakkan kekerasan. Misalnya kasus pembunuhan yang terjadi di Sragen, setelah menganiaya korban, mayat korban ditinggalkan begitu saja. Menurut Widjiono (Suara Merdeka, 3 April 2003) tindak kekerasan oleh remaja dan bunuh diri dilakukan karena kehidupan religius masyarakat kini mulai berkurang. Para pelaku biasanya kurang mendekatkan diri kepada Allah Sang Pencipta. Jika seseorang lebih mendekatkan diri kepada Sang Khalik, maka tidak dengan mudah melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain atau menyelesaikan urusan dengan bunuh diri. (Suara Merdeka, 3 April 2003).

Kasus-kasus di atas menunjukkan bahwa kondisi religiusitas masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan. Kasus-kasus tentang kejahatan dan kenakalan remaja kini sudah menjadi berita utama di berbagai media massa yang dimana setiap harinya selalu saja ada berita tentang tindak kriminalitas. Fenomena tersebut kemungkinan dapat terjadi. Hal tersebut dikarenakan mereka kurang mendapatkan perhatian dari kedua orangtuanya dan tidak mendapatkan pendidikan yang baik, baik itu pendidikan agama maupun pendidikan moral. Oleh karena itu pada masa anak-anak perkembangan yang baik sangat dipentingkan supaya di dalam proses perkembangannya tidak mengalami hambatan yang nantinya dapat mengganggu jiwa dan kepribadian anak tersebut (www.Indosiar.com).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: