RELIGIUSITAS DAN KECEMASAN DALAM MENGHADAPI UJIAN AKHIR NASIONAL (UAN) 2006 PADA SISWA SMU

Pendahuluan

Pembangunan suatu bangsa merupakan proses yang berkesinambungan dan melibatkan seluruh lapisan masyarakat. Generasi muda sebagai salah satu unsur lapisan masyarakat merupakan potensi yang besar artinya bagi pembangunan bangsa. Generasi muda yang tangguh, baik fisik, mental, intelektual, dan kepribadian merupakan sumber daya manusia yang akan mampu melanjutkan proses pembangunan. Oleh karena itu, diperlukan adanya pembinaan dan bimbingan yang dapat dilaksanakan oleh berbagai pihak, diantaranya oleh keluarga dan sekolah agar dapat mewujudkan generasi muda yang tangguh.

Pendidikan merupakan salah satu hal penting yang dapat mendukung majunya suatu bangsa. Dunia pendidikan diperlukan untuk mempersiapkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dalam pasar kerja global. Oleh karena itu penting untuk mewujudkan proses pendidikan yang lebih demokratis, memperhatikan keberagaman, kebutuhan atau keadaan daerah dan peserta didik, serta mendorong peningkatan partisipasi masyarakat. Dengan menaikkan standar nilai kelulusan kualitas pendidikan dapat memenuhi harapan dan kerinduan sebagian besar orang dalam penyediaan sumber daya manusia (SDM) bermutu dalam membangun bangsa. Kenaikan standar juga diharapkan dapat memacu kerja keras guru, anak didik dan orangtua agar bekerja keras, dan diharapkan mutu lulusan dapat sejajar dan bersaing dengan bangsa-bangsa lain (Kompas, 2006).

Dalam proses pendidikan, pemberian tes bertujuan untuk mengetahui perubahan tingkah laku (potensial maupun aktual) atau kecakapan baru yang dicapai oleh siswa setelah mengikuti proses belajar mengajar. Tetapi, seringkali siswa menganggap tes sebagai momok, sehingga timbul kecemasan ketika harus menghadapi tes. Menurut Azwar (1996) hal tersebut disebabkan karena adanya persepsi yang kuat dalam diri siswa pada umumnya dimana suatu nilai tes yang baik merupakan tanda kesuksesan belajar sedangkan nilai tes yang rendah merupakan kegagalan dalam belajar. Adanya persepsi tersebut membuat siswa menganggap bahwa nilai tes adalah satu-satunya indikator terpenting. Di lain pihak, masyarakat juga seringkali menilai keberhasilan seorang siswa semata-mata berdasarkan pada nilai tes, indeks prestasi (IP), dan rangking yang berhasil diperoleh, sehingga nilai tes seringkali menjadi tujuan utama yang harus diraih oleh siswa. Padahal, menurut Ebel (Azwar, 1996) fungsi utama pemberian tes di kelas adalah mengukur prestasi belajar siswa. Pengukuran prestasi belajar melalui tes prestasi ini dapat berbentuk ulangan harian, ujian tengah semester, dan ujian akhir nasional (UAN).

Ujian akhir nasional (UAN) sebagai syarat kelulusan bagi para siswa kelas tiga SMP / SMA mulai diberlakukan pada tahun 2003 lalu. Tiga soal untuk tiga mata pelajaran yaitu Bahasa Inggris, Matematika, dan Bahasa Indonesia dipasok dari pusat. Nilai kelulusan untuk tiga pelajaran itu minimal 3,01, jika kurang dari itu maka siswa tidak lulus tapi masih bisa ikut UAN ulangan. Pada tahun 2004, standar kelulusan UAN dinaikkan menjadi 4,01. Semula, tidak ada UAN ulangan, jadi siswa yang tidak lulus harus mengulang setahun di kelas tiga. Tapi, karena banyak pihak yang memprotes kebijakan ini, maka diadakanlah UAN ulangan.

Pada tahun pelajaran 2005/2006, UAN berganti istilah menjadi UN yaitu Ujian Nasional. Kebijakan yang berlaku juga berbeda dari tahun sebelumnya. Nilai minimal standar kelulusan yang semula 4,01 dinaikkan menjadi 4,26 untuk nilai setiap mata pelajaran dan rata-rata nilai ujian nasional harus lebih dari 4,5. Ini berarti nilai ketiga mata pelajaran jumlahnya minimal harus 13,5. Kebijakan ini sesuai dengan PP No. 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan. Ujian Nasional (UN) tahun 2006 hanya berlangsung satu kali dan direncanakan dilakukan serempak pada minggu ketiga bulan Mei 2006 untuk ujian utama, dan minggu keempat Mei 2006 untuk ujian susulan. Apabila tidak lulus pada ujian tersebut, siswa peserta harus mengulang ujian pada Ujian Nasional tahun berikutnya (Kompas, 2006).

Dari hasil sosialisasi Dirjen Dikdasmen Dr. Indra Jati Sidi kepada para Kepala Dinas Pendidikan Propinsi se Indonesia, standar kelulusan UN akan terus bertambah, hingga mencapai standar nilai minimal 6,00. Namun karena banyak protes tentang UN, pada 2008 pemerintah baru berani menargetkan standar nilai minimal 5,00. Padahal tahun lalu, Depdiknas menargetkan pada 2008 standar nilai minimal sudah mencapai 6,00. Peningkatan standar nilai kelulusan ini dilakukan secara bertahap, dengan tujuan agar mutu pendidikan di Indonesia mengalami peningkatan dari tahun ke tahun (Majalah Tokoh Indonesia, 2006).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: