RELIGIUSITAS REMAJA ACEH KORBAN BENCANA TSUNAMI PASCA 1 TAHUN

Pendahuluan

Bencana alam gempa dan tsunami pada tanggal 26 Desember 2004 merupakan musibah terbesar yang dialami oleh bangsa Indonesia. Musibah ini telah merenggut ratusan ribu jiwa manusia dan menghancurkan infrastruktur di Nanggroe Aceh Darussalam. Musibah ini telah menyisakan penderitaan yang mendalam bagi masyarakat Aceh. Mereka kehilangan keluarga yang tercinta, kehilangan tempat tinggal serta hal yang menyedihkan adalah mereka harus berjuang dengan maut untuk menyelamatkan diri dari musibah itu.

Bencana alam yang terjadi di Aceh, walaupun telah menghancurkan fisik bumi Aceh ternyata mereka mampu menerimanya dengan lapang dada dan menganggap musibah yang dialaminya adalah takdir Tuhan yang pasti akan ada hikmah di balik semua yang terjadi.

Salah seorang relawan asal Jepang menuturkan melalui wawancara dengan penulis bahwa dia merasa heran melihat masyarakat Aceh, mengapa di saat Aceh telah hancur, mereka masih bisa tertawa dan melakukan aktivitas seperti biasanya, seperti tidak ada kejadian apa-apa. Kalau di Jepang, mereka akan memperingati duka cita sampai setahun lamanya. Selain itu, relawan asal Jakarta pun sempat marah dengan masyarakat Aceh karena masih bisa tertawa dan duduk di warung kopi seperti tidak ada bencana.

Menurut Cucu Juantika Sari (Republika, 3 Januari 2005), musibah adalah buah dari kehendak sang Maha Kehendak. Maka pasti sang Maha Kehendak juga tahu jalan keluarnya. Tidak ada tempat kembali yang utama kecuali kepada Tuhan dikembalikan segala urusan dengan ikhtiar yang maksimal.

Bencana nasional yang memakan korban ratusan ribu jiwa di tanah rencong telah membelalakkan mata mayarakat internasional. Insan di berbagai belahan dunia semakin disadarkan antara perjuangan untuk hidup dan kematian yang pasti akan datang. Kematian, bahkan telah menghampiri dan menyeringai, melemaskan penghuni bumi, terutama di Aceh.

Seorang ahli psikologi, Ardiningtiyas Pitaloka (e-psikologi, 19 Januari 2005), mengatakan bahwa manusia tidak diciptakan hanya untuk merasakan kengerian. Setiap orang memiliki kemampuan mekanisme coping sendiri-sendiri seperti juga eksistensi manusia yang unik sebagai pribadi. Menurut TMT (Teror Management Theory), belief (keyakinan) akan bertindak sebagai cultural anxiety-buffer dalam mengatasi terror kehidupan tersebut di atas. Masyarakat Aceh yang selama ini telah dihimpit oleh konflik yang berkepanjangan terkenal dengan kehidupan yang kental dengan ajaran Islam. Islam telah menjadi nafas utama kehidupan di Aceh, ini menunjukkan internalisasi nilai-nilai keyakinan yang dianut masyarakat di tanah Serambi Mekah. Dalam bahasa TMT, Aceh yang terkenal religius memiliki penyangga kecemasan budaya yang menonjol yakni agama Islam.

Dari bencana tsunami, menurut Vebry (2005), masyarakat Aceh berkeyakinan bahwa musibah yang dialaminya merupakan ujian dari Tuhan, di mana sebagai hamba, manusia harus mampu bersabar dan menerima cobaan ini. Kekuatan dan ketabahan masyarakat Aceh menghadapi musibah ini juga dikarenakan mereka sudah terbiasa berada dalam penderitaan. Hal ini dimulai sejak zaman perang “kaphee” melawan invasi Belanda, penganugrahan status Daerah Operasi Militer sampai pada penumpasan GAM. Sungguh derita ini telah menghantui sejarah Aceh, sehingga masyarakat Aceh sudah sangat terbiasa dengan cobaan ini dan pukulan yang terus menghantui eksistensinya. Dengan demikian tidak ada pilihan lain selain menjadi orang-orang yang tabah dan kuat menghadapi cobaan hidup. Hal ini juga berpengruh pada remaja-remaja Aceh.

Keyakinan yang kental dan menjadi identitas masyarakat Aceh ini menyiratkan harapan di tengah suara sumbang akan pemulihan pasca bencana tsunami. Kristi Poerwandari (Kompas, 8 Januari 2005), mengatakan bahwa harapan itu tetap ada dan akan selalu ada, tentu dengan tidak mengecilkan berbagai resiko psikologis yang kemungkinan besar muncul pada sekian minggu, bulan, bahkan tahun ke tahun.

Pembentukan religiusitas remaja Aceh karena adanya pengaruh penderitaan yang terus-menerus dialami oleh masyarakat aceh karena konflik, membuat remaja belajar dari pengalaman orang-orang yang mengalami penderitaan tersebut untuk lebih tabah menghadapi cobaan yang datang bertubi-tubi. Selain itu pula kebudayaan yang melekat pada masyarakat aceh yang menjadi unsur keunikan orang aceh seperti hikayat. Hikayat aceh mengandung unsur hikayat agama, sejarah, safari, peristiwa jihad dan cerita. Adapun ciri khas hikayat-hikayat aceh dimulai dengan basmallah, kemudian tokoh-tokoh agama yang bermain dalam hikayat adalah manusia yang taat kepada Allah, berakhlak mulia, berwatak kepahlawanan, berhati budiman dan berpendidikan agama yang sempurna.

Secara tradisional, masyarakat aceh sangat menggemari hikayat aceh yang selalu diciptakan dalam bentuk puisi. Hkayat tersebut dibuat untuk menanamkan ajaran agama secara sederhana kepada anak-anak maupun untuk lingkungan yang lebih luas. Para ibu sering memetik lagu ratib (shalawat) sebagai lagu nina bobo secara tidak langsung, ikatan puisi yang dinyanyikan oleh ibu melekat ke dalam ingatan anak. (Oktavia, 2006)
Di antara korban bencana ini adalah remaja-remaja Aceh, di mana usia remaja adalah masa di mana perkembangan psikologi manusia sedang pada tahap pancaroba. Peneliti melakukan wawancara dengan salah satu remaja korban tsunami, yaitu Nora. Nora, seorang mahasiswa di Aceh, mengatakan bahwa dirinya hanya bisa pasrah pada saat kejadian dan di saat bisa selamat dari musibah, ia hanya berdoa bahwa pasti ada hikmah di balik kejadian tersebut. Walaupun masih trauma dengan kejadian tersebut, namun benar-benar membuat dirinya semakin dekat dengan sang Khalik.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: