SPIRITUALITAS SEBAGAI SALAH SATU CRITICAL FACTOR KEBERHASILAN WIRAUSAHA

Pendahuluan

Kesuksesan dunia wirausaha memiliki peran penting sebagai penggerak kemajuan ekonomi sebuah masyarakat. Pewirausaha, sebagai pelaku dari kegiatan wirausaha, dengan demikian menjadi agen yang diperlukan untuk memobilisasi modal, memanfaatkan sumber daya, menciptakan pasar serta menjalankan perdagangan (Itao, Bajaro, Lapuebla, tt). Industri yang berkembang besar, pada awalnya lebih sering diawali dengan semangat wirausaha. Kisah sukses Bill Gates dengan Microsoft, Steve Jobs dengan Apple, atau kisah sukses para taipan Cina di Asia Tenggara dalam mengelola bisnis merupakan petunjuk bagaimana industri besar berkembang dari semangat wirausaha tersebut.

Sukses ekonomi negara besar seperti Amerika Serikat, misalnya, lebih banyak dijiwai dengan semangat wirausaha yang tinggi pada masyarakatnya. Data tahun 1989 menunjukkan bahwa usaha yang terdaftar di kantor pendapatan pemerintah berjumlah 19.5 juta perusahaan, mayoritas merupakan usaha kecil, dengan penerimaan sampai dengan 100 ribu dolar (1 milyar) per tahun. Data dari SBA (Small Business Administration) mengatakan bahwa bila usaha kecil didefinisikan sebagai memperkerjakan kurang dari 100 karyawan, maka 36% pekerja di Amerika bekerja di sektor usaha kecil ini.

Meskipun merupakan motor penggerak ekonomi, kondisi kewirausahaan di tanah air lebih menunjukkan gambaran kurang menguntungkan (kewirausahaan.com. 17/9/2004). Hal ini ditengarai dari rendahnya kehendak wirausaha pada sebagian besar kelompok masyarakat kecuali, beberapa kelompok saja yang tekun berusaha yaitu dari kelangan minoritas Cina, Arab, serta suku tertentu seperti Padang. Sekian lama, kondisi ini masih belum berubah pesat, meskipun berwirausaha, dengan menjalankan usaha kecil-menengah terbukti handal di tengah tempaan krisis ekonomi.

Jauh sebelum krisis ekonomi 1998 terjadi, Muhaimin (1991) mengatakan bahwa semangat usaha di Indonesia seringkali lebih kental diwarnai dengan praktek kolusif antara bisnis dengan kekuasaan politik, sehingga pola wirausaha yang berkembang di Indonesia kurang bersandar pada semangat wirausaha murni. Kesuksesan usaha di Indonesia, disinyalir Muhaimin, sering kurang dapat didistribusikan pada prinsip-prinsip wirausaha yang sejati, karena kentalnya nuansa politik dan kekuasaan yang ikut bermain di dalamnya.

Lebih lanjut, melihat jumlah mayoritas penduduk Muslim di Indonesia, masalah kewirausahaan tersebut menjadi lebih menarik untuk digali. Meskipun jumlahnya mayoritas, kemandirian ekonomi masyarakat Islam dapat dikatakan belum berjalan dengan baik. Hal ini berkebalikan dengan pandangan agama Islam yang sangat menilai penting kemandirian ekonomi. Sebagai agama yang menekankan dengan kuat sekali tentang pentingnya keberdayaan ekonomi ummatnya, maka Islam memandang bahwa berusaha atau berwirausaha merupakan bagian integral dari ajaran Islam. Terdapat sejumlah ayat dan hadis Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan pentingnya aktifitas berusaha itu.

Diantaranya: Apabila telah ditunaikan sholat, maka berpencarlah kamu di muka bumi mencari karunia Allah. Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu berjaya (QS. Al Jumuah ; 62:10). Lalu, Umar bin Khatab pernah menegur seorang yang hanya berdoa saja tanpa berusaha dengan mengatakan “Sesungguhnya langit tidak akan menghujankan emas atau perak. Para nabipun bekerja untuk mencari rezeki.” (HR. Muslim). Sebuah hadist lain mengatakan : “Apabila salah seorang diantara kalian mengambil beberapa utas tali, kemudian pergi ke gunung kemudian kembali memikul seikat kayu bakar dan menjualnya, kemudian dengan hasil itu Allah mencukupkan kebutuhan hidupmu, itu lebih baik daripada meminta-minta kepada sesama manusia, baik mereka memberi maupun tidak (HR Bukhari).

Bahkan, tak dapat disangkal kedatangan Islam di tanah air pun terjadi melalui media perdagangan di daerah-daerah pesisir, seperti ujung Sumatera dan pantai utara Jawa. Selanjutnya dalam sejarah pergerakan bangsa Indonesia jaringan pewirausaha Muslim juga berkembang dari pantai utara Jawa, kota pedalaman seperti Solo, Yogya dan Jawa Barat melalui industri tekstil dan batik tradisional mereka yang juga berlangsung hingga hari ini. Hubungan perdagangan ini seringkali bersaling-silang dengan isu politik, misalnya dengan lahirnya SDI (Syarikat Dagang Islam) yang dipelopori H. Samanhudi di Solo (1912) yang salah satunya bertujuan memberikan daya tawar terhadap kebijakan perdagangan pemerintah kolonial terhadap pribumi.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: