TEMA-TEMA PENGALAMAN KEAGAMAAN KONSELOR (STUDI EKSPLORASI PADA PENANGANAN KLIEN)

Pendahuluan

Agama diturunkan tidak lain adalah untuk memperbaiki ahlak manusia, dimana ahlak manusia merupakan cerminan dari pikiran dan perasaan (mental) seseorang. Psikologi agama menilai kepribadian manusia dipengaruhi oleh faktor-faktor mental spiritual. Hal ini disebabkan karena agama merupakan fitrah bagi setiap manusia. Oleh sebab itu, dalam proses pembentukan kepribadian, agama memiliki faktor fundamental (Hawari, 1999).

Melihat pentingnya agama yang pada dasarnya merupakan kebutuhan bagi setiap diri manusia, dalam ilmu apapun seharusnya agama bisa sejalan, apalagi ilmu psikologi yang langsung menyangkut prilaku umat manusia. Sangat disayangkan, seiring dengan perkembangan sains dan teknologi, sekulerisasi menyeret agama ke pinggiran kehidupan, seperti halnya psikologi sekuler yang secara umum hanya melihat kepribadian manusia dari segi fisik-biologi dan psiko-edukatif. Di Eropa, dalam tinjauan literatur yang dilakukan oleh Hallahmi (1977), disimpulkan bahwa ilmuan dan para akademisi kurang beragama dibandingkan dengan penduduk lainnya.

Pada survey yang lebih belakangan, ditemukan bahwa 30% diantara para dosen menyatakan tidak menganut agama apapun, dibandingkan dengan 5% dari seluruh penduduk (Gallup, 1994). Di antara para ilmuan tersebut, para psikolog menyatakan agama kurang penting dibandingkan dengan penduduk lainnya. Jika penelitian ini dibandingkan dengan studi yang dilakukan Leuba, salah seorang perintis psikologi agama, ditemukan bahwa profil para ilmuan itu tidak mengalami perubahan. Dalam kesimpulan umumnya, Leuba menunjukkan bahwa semakin terkemuka seorang ilmuan, semakin rendah keberagamaannya. Ia juga menemukan bahwa psikolog paling kecil kemungkinannya dan ilmuan fisika paling besar kemungkinannya untuk “percaya kepada tuhan yang menjawab do’a” (Rahmat, 2003).

Berdasarkan data di atas dapat dilihat bahwa ternyata psikolog juga merupakan salah satu bagian akademisi yang memungkinkan untuk melupakan agama, padahal bagi seorang psikolog, menurut James (1902), kecenderungan beragama seseorang setidak-tidaknya mesti merupakan bagian menarik dari sekumpulan fakta yang berkaitan erat dengan konstitusi mentalnya.

Banyak orang yang datang kepada psikolog ataupun psikiater namun tidak mengalami kesembuhan yang berarti. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya klien membutuhkan bimbingan psikologi yang diperkaya dengan ajaran Islam, bukan hanya dengan teori psikologi atau psikiatri yang kering dari agama (Djamal, 1999). Banyak kasus yang terjadi di mana seorang psikolog tidak mampu membantu kliennya sampai tuntas, apalagi jika sudah menyangkut dalam ranah agama, sehingga tidak jarang para psikolog tersebut harus merujuk kepada ulama, seolah-olah ulama adalah tempat pembuangan kasus-kasus berat yang sulit dipecahkan. Fenomena seperti ini dapat dilihat pada kasus-kasus selebritis yang ditayangkan ditelevisi, mereka bukannya berkonsultasi kepada psikolog, namun justru lari ke ulama atau kiyai.

Konseling dalam Islam adalah satu dari berbagai tugas manusia dalam membina dan membentuk manusia ideal. Bahkan bisa dikatakan bahwa konseling merupakan amanat yang diberikan Allah kepada rasul dan nabinya. Dengan adanya amanat konseling inilah maka mereka menjadi demikian berharga dan bermanfaat bagi manusia, baik dalam urusan agama, dunia, pemenuhan kebutuhan, pemecahan masalah, dan banyak hal lainnya. Konselingpun akhirnya menjadi satu kewajiban bagi setiap individu muslim, khususnya alim ulama (Az-zahrani, 2005)

Sesungguhnya tujuan utama dari adanya konseling Islam adalah menumbuhkan sikap konsisten akan ajaran agama Islam. Allah berfirman,
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Kuridhai islam itu jadi agama bagimu.”(Almaa’idah: 3)

Psikoterapi Islam berdasarkan beberapa pemikiran yang sempat muncul, mempunyai ruang lingkup dan jangkauan yang lebih luas. Selain menaruh perhatian pada proses penyembuhan, psikoterapi Islam sangat menekankan pada peningkatan diri. Subandi (1994) menyebutkan tujuan psikoterapi berwawasan Islam menyangkut juga usaha membersihkan kalbu, menguasai pengaruh dorongan primitif, meningkatkan derajat nafs, menumbuhkan akhlaqul karimah dan meningkatkan potensi untuk menjalankan tugas kalifatulloh. Mappiare (1996) menekankan bahwa psikoterapi Islam bertujuan untuk mengembalikan seorang pribadi pada fitrahnya yang suci atau kembali ke jalan lurus. Lebih jauh lagi Adz-Dzaky (1996) menyebutkan psikoterapi juga perlu memberikan bimbingan kepada seseorang untuk menemukan hakikat dirinya, menemukan Tuhannya dan menemukan rahasia Tuhan. Ini semua memang sesuai dengan tuntutan masyarakat sendiri, seperti dinyatakan oleh Bergin bahwa semakin banyak pasien yang terlibat dalam psikoterapi yang tidak sekedar menginginkan kesembuhan bagi gangguan atau simtomnya, tetapi bertujuan untuk mencari makna hidupnya, aktualisasi diri atau memaksimalkan potensi diri mereka (Subandi, 2000)

Dzarrad (Az-zahrani,2005) berpendapat bahwa terapi keagamaan sangat bermanfaat di saat harus bersinggungan dengan keadaan dan perasaan khawatir, takut, ataupun bimbang, juga perasaan sakit dan putus asa, juga pada saat menangani masalah ketagihan dalam berbuat jahat, penyimpangan dan juga segala permasalahan sosial.

Perilaku yang perlu diterapi dalam psikoterapi Islam tidak hanya terbatas pada persoalan psikologis tapi juga moral spiritual yang akan berdampak positif bagi usaha pengembangan dan penyempurnaan diri manusia. Orang menjadi tidak segan-segan mengatakan bahwa dia masih “sakit” (meskipun pada level moral-spiritual), yang selanjutnya akan memotivasi dia untuk mendapatkan psikoterapi. Melihat jangkauan yang luas tersebut, maka seorang konselor atau psikoterapi muslim tidak cukup hanya berbekal psikologi kontemporer saja yang memahami proses fisiologis-mental-sosial saja, tetapi harus juga memiliki pemahaman tentang dimensi spiritual-rohaniah (Subandi, 2000)

Jika memang istilah psikoterapi terpaksa harus mengacu pada konteks proses penyembuhan, maka psikoterapi berwawasan Islam akan memperluas pandangan tentang kriteria masalah yang harus diterapi. Psikoterapi Islam tidak hanya memberikan terapi pada orang-orang yang “sakit” sesuai dengan kriteria mental-psikologis-sosial, tetapi juga perlu ikut menangani orang yang “sakit” secara moral dan spiritual (Subandi, 2000).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: