HUBUNGAN KECERDASAN SPIRITUAL DENGAN ETIKA KERJA ISLAM PADA KARYAWAN BANK SYARIAH

Pendahuluan

Perbankan syariah sedang berkembang pesat di Indonesia. Lahirnya undang-undang perbankan nomor 10 tahun 1998 telah memberi peluang yang sangat baik bagi tumbuhnya bank-bank syariah di Indonesia. Undang-undang tersebut memungkinkan bank beroperasi sepenuhnya secara syariah atau dengan membuka unit syariah. Menurut Agustianto (2005) bank yang telah beroperasi secara syariah di Indonesia sebanyak 19 bank dan memiliki 472 kantor dengan aset (sampai Mei 2005) mencapai Rp. 17 Trilyun.

Bank syariah adalah bank umum yang memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran berdasarkan prinsip syariah. Prinsip syariah adalah aturan perjanjian berdasarkan hukum Islam antara pihak bank dan pihak lain untuk penyimpanan dana dan pembiayaan kegiatan usaha (divisi sumber daya insani BSM, 2005).

Bank syariah seperti halnya bank konvensional menjalankan kegiatan perbankan seperti menyimpan dana dan menyalurkan dana pada proyek yang menguntungkan. Namun bank syariah mempunyai karakteristik yang berbeda dengan bank konvensional. Bank syariah tidak menggunakan mekanisme suku bunga dalam usaha perbankan, tetapi menawarkan produk dan servis sesuai dengan ajaran Islam seperti mudharabah (pembiayaan berdasarkan prinsip usaha bagi hasil), musyarakah (pembiayaan berdasarkan prinsip usaha patungan), murabahah (jual beli barang dengan memperoleh keuntungan) dan ijarah (pembiayaan barang modal berdasarkan prinsip sewa). Sementara bank konvensional menggunakan mekanisme suku bunga dalam setiap usaha perbankan (Obaidullah, 2005).

Karyawan bank syariah sebagai salah satu unsur pengelola bank syariah, dalam menyelenggarakan tugas-tugasnya hendaklah memiliki etika kerja Islam yang tinggi. Etika kerja Islam adalah perilaku manusia baik individu maupun level sosial yang sesuai dengan petunjuk Allah SWT dalam kitab suci Al-Quran dan hadits Rasulullah saw dalam melakukan pekerjaan (Yousef, 2001 dan Smith, 2002). Perilaku pengelola bank syariah dalam menyelenggarakan kegiatan perbankan syariah yang sesuai dengan Quran dan hadits antara lain, menjauhi riba dan spekulasi penipuan dalam setiap usaha perbankan syariah, menegakkan dasar hak asasi manusia dalam kerjasama ekonomi, kedermawanan untuk mendukung sektor usaha sosial, meningkatkan saham yang adil, mendukung sektor usaha bagi yang kurang mampu, dan non diskriminasi dalam pekerjaan berdasarkan jenis kelamin, ras dan kebangsaan (Obaidullah, 2005).

Kenyataannya masih terdapat beberapa pengelola bank syariah yang berperilaku tidak sesuai dengan Quran dan hadits. Khalil (2005) mengungkapkan beberapa fakta kasus yang mengungkap persoalan ini antara lain, terdapat personel bank syariah yang cukup besar bermasalah dengan pihak Citi Bank karena terlibat dalam penjualan surat berharga secara riba atau bunga. Hal ini menunjukkan para pengurus tidak memperhatikan etika kerja Islam ketika melakukan transaksi yakni untuk menjauhi riba dalam transaksi perbankan.

Kasus lain yakni diskriminasi pelayanan. Terdapat personel bank syariah yang memilih hanya orang kaya saja yang menerima pengucuran dana melalui produk mudharabah (pembiayaan berdasarkan prinsip bagi hasil) dan musyarakah (pembiayaan berdasarkan usaha patungan). Hal ini menunjukkan etika kerja Islam yang dimiliki rendah. Selayaknya pengelola bank syariah berperilaku sesuai dengan Quran dan hadits yakni nondiskriminasi dalam memberikan pelayanan pada setiap nasabah. Manajemen bank syariah hendaknya membina dan menumbuhkan perekonomian rakyat, mestinya rakyat banyaklah yang lebih diutamakan sehingga tujuan perbankan sesuai dengan maqsidu syar’i bisa tercapai (Khalil, 2005)

Etika kerja Islam perbankan syariah sangat penting diterapkan oleh semua pengurus bank syariah. Sikap dan perilaku dalam bekerja melakukan kegiatan perbankan yang sesuai ajaran Islam, tidak hanya mewujudkan kemaslahatan umat (hablumminannas), tetapi juga meraih ridho Allah di dunia dan akhirat (hamblumminallah).

Etika kerja Islam maupun etika kerja lainnya seperti etika kerja protestan, etika kerja Jepang, dan etika kerja biasa, sama-sama menekankan menghindari spekulasi penipuan, non diskriminasi, menegakkan keadilan, menghargai hak asasi manusia, kepedulian sosial, dan meraih ridho Tuhan. Namun etika kerja Islam tidak seperti etika kerja lainnya yang disebutkan di atas, etika kerja Islam lebih menekankan pada niat dari pada hasil (Yousef, 2001 dan Smith, 2002).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: