ASERTIVITAS WANITA JAWA DITINJAU DARI PENDIDIKAN, USIA DAN STATUS PEKERJAAN

Pendahuluan

Indonesia merupakan negara kepulauan yang memiliki beranekaragam kebudayaan. Salah satu kebudayan yang paling menonjol di Indonesia adalah kebudayaan Jawa yang terbilang cukup unik. Kebudayaan Jawa menganut sistem patriarkhi yang memiliki pengelompokkan-pengelompokkan tertentu dalam menentukan kedudukan dan peran seseorang. Pengelompokkan tersebut menjadikan peran pria lebih dominan dari pada wanita. Misalnya dalam bidang pendidikan, pada masyarakat jawa yang berhak memiliki pendidikan yang lebih tinggi adalah kaum lelaki. Para wanita hanya dipandang sebagai kanca wingking, dalam arti dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas segala urusan dapur. R.A Kartini berkata bahwa ketika anak perempuan masuk sekolah merupakan suatu pengkhianatan besar terhadap adat kebiasaan dinegeriku (Toer,2003).

Wanita Jawa sangat terikat oleh adat istiadat yang harus mereka patuhi agar terhindar cemoohan masyarakat. RA Kartini berpendapat bahwa seorang gadis jawa adalah sebutir permata, bila ia pendiam tak bergerak-gerak seperti boneka kayu; bicara hanya bila benar-benar perlu dengan suara berbisik, sampai semut pun tak sanggup mendengarnya; berjalan setindak demi setindak seperti siput; tertawa halus tanpa suara membuka bibir; sungguh buruk nian kalau giginya nampak; seperti “luwak” (Toer, 2003).

Bahkan pada zaman dulu dalam adat Jawa wanita itu harus dipingit sampai ada seorang pria yang datang menjemputnya untuk dijadikan sebagai istri. Selama dipingit para wanita jawa tersebut dikucilkan dari dunia luar. Namun pada zaman sekarang sudah tidak ada lagi orang tua yang memingit anak perempuannya. Koentjaraningrat (dalam Widyorini,2005) mengungkapkan bahwa masyarakat Jawa mengutamakan tingakah laku dan adat sopan santun terhadap sesama dan sangat berorientasi kolateral dan mereka harus mengembangkan sikap tenggang rasa dan mengintensifkan solidaritas.

Dengan mengutamakan sopan santun dan kepatuhan maka pada masyarakat Jawa menolak spontanitas dalam mengungkapkan keinginan diri karena dianggap tidak etis(Widyorini,2005). Hal ini memberikan imbas yang tidak baik terhadap para wanitanya, karena para wanita posisinya adalah sebagai milik laki-laki yang harus patuh, tunduk dan pasrah kepada laki-laki. Sifat-sifat tersebutlah yang dijadiakan patokan didalam menilai kemuliaan hati seorang wanita Jawa. Hal tersebut dijadikan falsafah hidup oleh orang Jawa dalam memandang wanita, sehingga didalam masyarakat Jawa wanita tidak boleh terlalu banyak berbicara dan jarang yang berani untuk mengungkapkan perasaan dan isi pikirannya secara tegas dan lugas. Mereka takut dianggap sebagai wanita yang tidak sopan dan tidak tahu adat istiadat.

Dalam budaya Jawa perlakuan yang berbeda antara laki-laki dan perempuan sudah ditanamkan dari mereka masih bayi. Mereka juga memberikan perlakuan yang berbeda antara laki-laki dan wanita. Para laki-laki memperoleh prioritas pendidikan yang lebih tinggi dibandingkan perempuan. Laki-laki diharapkan untuk bekerja serta memiliki kedudukan yang cukup tinggi. Sementara wanita tidak diprioritaskan untuk mendapatkan pendidikan yang cukup tinggi karena dalam masyarakat Jawa telah tercipta suatu stereotype bahwa kaum wanita itu tidak perlu sekolah tinggi-tinggi karena mereka pada akhirnya hanya bertugas mengurus anak dan rumah tangga. Dengan adanya stereotype yang seperti itu para wanita cenderung mematuhi aturan tersebut untuk menghindari kesan buruk dari masyarakat. Mereka tidak berdaya untuk mengungkapkan keinginan mereka. De Jong (dalam Widyorirni, 2005) juga menuturkan bahwa seperti layaknya dalam keluarga Jawa, lingkungan keluarga dan masyarakat Jawa juga lebih memprioritaskan kesempatan dan fasilitas bagi anak laki-laki untuk mengembangkan kemampuannya daripada anak perempuan.

Pembedaan prioritas tersebut juga membedakan peran antara pria dan wanita. Misalnya dalam berumah tangga, suami berperan sebagai pencari nafkah dan wanita mempunyai peran yang berhubungan dengan kegiatan rumah tangga seperti memasak, mengurus anak dan lain-lain. Wanita tidak berhubungan dengan peran yang menghasilakan uang pengambilan keputusan didalam keluarga. Suamilah yang selalu mengambil peran dalam memutuskan sesuatu hal. Perbedaan peran itu membuat wanita semakin lemah dan tidak asertif (tidak berani mengungkapkan pendapatnya). Dilokasi penelitian diketahui bahwa masih ada sebagian dari wanitanya yang kurang asertif. Hal tersebut diketahui ketika penelitian sedang dilakukan. Maka dapat dikatakan bahwa desa tersebut timbul suatu masalah yaitu masih ada sebagian wanitanya yang kurang asertif.

Alberti dan Emmons ( dalam Devito, 1995) memberikan pengertian bahwa perilaku asertif adalah perilaku dimana seseorang bertindak sesuai dengan apa yang diinginkannya, menyatakan perasaannya serta melakukan haknya tanpa mengganggu hak orang lain. Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan atau pun merugikan pihak lainnya. Perilaku asertif memberikan kita keberanian untuk bersikap tegas dan tidak terpengaruh oleh lingkungan sekitar. Asertivitas dapat menghilangkan gap komunikasi. Dengan asertivitas kita dapat menyalurkan ide-ide serta pendapat kita sehingga orang lain juga dapat memahami apa yang kita inginkan dan kita pikirkan. Apapun yang dikatakan atau dilakukan wanita yang asertif, memberikan pengaruh secara mendalam pada orang lain.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: