DUKUNGAN SOSIAL DAN PENYESUAIAN DIRI PEREMPUAN PADA MASA MENOPAUSE

Pendahuluan

Sebagai makhluk hidup, manusia akan menghadapi berbagai macam hambatan dan persoalan disetiap tahap tumbuh dan kembangnya. Berbagai hambatan dan persoalan yang dihadapi disebut sebagai krisis. Sepanjang rentang hidup, manusia akan terus mengalami beraneka ragam dan macam-macam krisis. Seorang perempuan misalnya, ketika mengalami menstruasi yang membawa dampak pada perubahan fisik dan psikisnya akan mengalami persoalan bagaimana harus menghadapi perubahan tersebut. Lalu akan ada kehamilan dan kelahiran. Salah satu yang termasuk krisis dalam rentang hidup seorang perempuan kemudian adalah masa menopause yang terjadi dimasa setengah baya.

Menstruasi, kehamilan, dan melahirkan membawa perubahan-perubahan yang cepat pada hal fisik dan membawa akibat terhadap perilaku serta emosi individu, demikian juga menopause. Perubahan sebelum masa setengah baya lebih bersifat pertumbuhan dari anak-anak menuju dewasa, maka di masa setengah baya sifatnya adalah kemunduran karena mulai menuju masa tua (Mappiare, 1983 ).

Lazarus (1976), salah satu krisis yang timbul pada usia setengah baya pada kaum wanita adalah ketika menghadapi menopause. Dalam bukunya yang berjudul Psychologi Wanita, Kartono (1977) menyebutkan masa ini juga sebagai masa yang kritis. Disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam sistem hormonal turut secara keseluruhan mempengaruhi psikhosomatis (jasmani dan rohani), hingga terjadi proses kemunduran yang progresif dan total pada kondisi individu.

Mappiare (1983), menyebutkan usia setengah baya sebagai masa yang ditakuti, ini berhubungan dengan terjadinya proses menopause pada wanita dan konsep masyarakat yang keliru tentang menopause. Parker (Mappiare, 1983) mengungkapkan, timbulnya rasa sedih dan kurang gembira pada perempuan ketika menghadapi menopause karena kesalahan konsep tentang menopause yang selama ini beredar dimasyarakat. Adanya anggapan bahwa menopause merupakan takdir yang mengancam dan menyedihkan yang terlanjur dipercaya membuat perempuan menilai negatif terhadap menopause.

Hurlock (Christina dkk, 2000), menyatakan sudah menjadi kodrat alam bahwa dengan bertambahnya usia seseorang akan menimbulkan perubahan, baik perubahan fisik maupun perubahan mental karena menjadi tua adalah proses yang tak bisa dihindari. Menopause merupakan bagian dari perkembangan hidup perempuan yang seharusnya bisa diterima secara wajar sebagaimana awal terjadinya menstruasi, tapi kenyataan yang ada dalam masyarakat menunjukkan banyak kaum perempuan setengah baya mengalami masalah dalam menghadapi menopause. Menurut penelitian Robertson tahun 1985 diMenopause Clinic Australia, dari 300 pasien usia menopause terdapat 31,2% pasien mengalami depresi dan kecemasan (Christiani dkk, 2000).

Peneliti dalam pre survery menemukan beberapa kasus mengenai ibu-ibu yang mengalami masalah menghadapi menopause. Ibu D, tidak mau mengakui telah menopause. Menurut anak perempuan Ibu D, ibunya mengatakan pada dirinya sudah tujuh bulan tidak lagi haid tapi tidak ingin orang lain tahu karena tidak mau dikatakan tua. Kasus lain seorang ibu tidak lagi mau tidur sekamar dengan suaminya karena telah memasuki masa menopause. Salah satu kasus lagi adalah Ibu S (data dari pre survey tanggal 21 Maret 2005). Ibu S adalah wiraswasta, sulung dari tiga bersaudara yang semuanya perempuan dan tinggal berdekatan dengan ibu kandung. Dua tahun yang lalu, interval haid Ibu S mulai tidak teratur. Ketika terhenti selama tiga bulan, sempat khawatir hamil tapi kemudian haid lagi. Muncul rasa panas yang tiba-tiba diwajah dan menjalar keleher, sering susah tidur dimalam hari padahal siangnya harus bekerja. Ibu S merasa stres, kelelahan, merasa tidak menarik lagi, dan ada rasa takut ditinggal menyeleweng suami. Ibu S menjadi sering marah-marah pada suami dan anak-anak. Akhirnya Ibu S menceritakan keadaan yang sebenarnya kepada ibu kandungnya dan mengetahui sudah memasuki menopause. Ibu S semakin takut ditinggal suami menyeleweng, merasa sangat sensitif, dan semakin mudah marah. Ibu kandung Ibu S memberitahu kepada suami Ibu S. Mereka kemudian meyakinkan bahwa ketakutannya tidak beralasan dan menopause adalah hal normal serta memang sudah waktunya mengingat usia Ibu S saat itu 49thn. Ibu S mulai mencari informasi, berbagi cerita, dan tidak sungkan bertanya kepada saudara perempuan atau teman-teman yang telah mengalami hal sama. Ibu S merasa tidak ada perubahan sikap suami dan keluarga. Tetap bisa aktif dimasyarakat, seperti sebelum menopause. Ibu S mengatakan dukungan dari keluarga, terutama suami, membuatnya bisa melihat menopause sebagai hal normal bagi wanita. Ibu S bisa menerima dan menyesuaikan diri dengan kondisinya saat itu. Tidak lagi marah-marah dan tidak lagi merasa takut pada menopause.

Penelitian Bruck (Zanden, 1985), menunjukkan masih banyaknya kepercayaan mengenai mitos-mitos menopause sebagai masa yang mengancam, memberikan dampak timbulnya kecemasan pada beberapa perempuan ketika menghadapi masa tersebut. Penelitian Neugarten (Zanden, 1985), menyatakan hal yang paling sering dirasakan menyebalkan ketika menyinggung menopause lebih pada perasaan hati yang timbul sebelum masa tersebut datang. Kurang dari lima persen perempuan menopause menyatakan diri tidak merasa tertekan terhadap pernyataan psikoanalisis yang mengatakan kemampuan tidak lagi bisa melahirkan anak merupakan tekanan yang berdampak besar terhadap psikologis seorang perempuan.

Neugarten (Zanden, 1985), dalam penelitiannya juga menemukan bahwa yang paling dirasa mengganggu ketika menyangkut menopause adalah jika menopause dikaitkan dengan berakhirnya daya tarik, ketidak bergunaan, dan kemampuan seksualitas. Ini diperburuk dengan tradisi kita yang menyanjung keremajaan fisik.

Baziad (2003), lebih kurang 70% perempuan pada masa peri dan pasca menopause mengalami keluhan vasomotoris yaitu rasa panas yang tiba-tiba muncul, depresi, dan keluhan psikis dan somatis lainnya. Lebih kurang 90% lainnya mengatakan mudah tersinggung, merasa takut, gelisah, dan cepat marah. Kasus yang terjadi dan hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan dimasa menopause membutuhkan pemahaman lebih dalam agar perempuan bisa mudah menerima perubahan masa menopause.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: