EFIKASI DIRI PADA ALUMNI UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA YANG SUKSES DALAM PERSAINGAN UNTUK MEMPEROLEH PEKERJAAN

Pendahuluan

Krisis moneter yang melanda Indonesia sejak tahun 1997, dampaknya masih dapat dirasakan hingga saat ini. Meningkatnya harga kebutuhan pokok, meningkatnya biaya pendidikan dan sempitnya lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah pencari kerja (job seeker), merupakan sebagian dampak dari krisis moneter yang sampai saat ini masih dirasakan oleh rakyat Indonesia.

Sempitnya lapangan pekerjaan yang tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja, mengakibatkan peningkatan pengangguran. Fenomena pengangguran juga berkaitan erat dengan terjadinya pemutusan hubungan kerja, yang disebabkan antara lain karena perusahaan yang menutup atau mengurangi bidang usahanya akibat krisis ekonomi atau keamanan yang tidak kondusif, peraturan yang menghambat investasi, hambatan dalam proses ekspor impor dan lain- lain (Depnakertrans, 2004). Secara faktual jumlah pengangguran di Indonesia dari tahun ke tahun memang semakin membumbung tinggi. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Nuwa Wea (2003) menyatakan pengangguran terbuka di tahun 2004 diperkirakan mencapai 10,8 juta, sedangkan 31,9 juta orang lainnya merupakan setengah pengangguran. Menurut istilah umum ketenagakerjaan pengangguran terbuka adalah orang tidak mampu mendapatkan pekerjaan. Sementara setengah pengangguran adalah orang yang bekerja kurang dari jam kerja normal 35 jam per minggu.

Catatan dari Center for Labour and Development Studies (CLDS) (2003), Jakarta, menyatakan bahwa perkiraan total pengangguran pada 2001 berjumlah 40,2 juta orang. Angka yang terdiri dari pengangguran resmi, pencari kerja, dan setengah pengangguran ini akan terus membengkak pada 2002- 2004 menjadi 45,2 juta orang. Angka tersebut akan diperberat dengan meningkatnya jumlah putus sekolah yang menjadi kurang lebih 1,7 juta per tahun. Lebih memprihatinkan lagi di antara pengangguran ini terdapat prediksi pembengkakan pengangguran terdidik, lulusan perguruan tinggi sebanyak 2,56 juta orang sampai 2004.

Perguruan tinggi sebagai salah satu institusi yang melahirkan sarjana- sarjana yang terdidik dan akan memasuki dunia kerja. Universitas Islam Indonesia sebagai salah satu perguruan tinggi terkemuka di Yogyakarta, akhir Desember 2004 kembali mewisuda mahasiswa yang telah selesai menempuh studi di bangku kuliah. Nuryati (Pikiran Rakyat, 2003) menyatakan bahwa sejumlah harapan dan kecemasan terbayang di wajah para wisudawan ini. Harapan akan segera memperoleh pekerjaan yang layak dibalut kecemasan jika ternyata dirinya hanya akan menambah panjang daftar pengangguran.

Kesempatan kerja yang semakin kecil menyebabkan lulusan pendidikan yang jumlahnya cukup besar itu tidak dapat terserap ke dunia kerja. Masalah klise yang dihadapi adalah adanya kenyataan bahwa para sarjana yang baru lulus (fresh graduate) itu belum mampu menunjukkan kompetensi yang jelas dan siap pakai. Kasali (Kedaulatan Rakyat, 2004) berpendapat para lulusan perguruan tinggi yang notebene pencari kerja ini masih banyak yang kurang percaya diri karena kurang memiliki wawasan yang luas, kurang tekun, kurang memiliki keberanian sebelum mencoba.

Lebih lanjut Kasali (Kedaulatan Rakyat, 2004) menjelaskan bahwa situasi sekarang ini bukan lagi datang ke kantor jam delapan dan pulang jam lima sore (eight to five) melainkan industry service. Diperlukan sumber daya manusia (SDM) yang siap kerja, yang adaptif terhadap kebutuhan, siap bekerja keras, siap kerja lembur, dan pulang malam. Kurang profesional, kurang percaya diri, kurang memiliki keberanian dan keyakinan, disebabkan kurang wawasan. Gelar sarjana tidak menjamin bahwa ia memiliki wawasan luas. Pengalaman kerja dan organisasi akan mampu memperkaya wawasan sehingga nantinya siap untuk menghadapi dunia kerja.

Novriyanto (2004), salah seorang pembicara dalam sebuah seminar pembekalan kerja yang diselenggarakan oleh Alumni Career Center (ACC) mengemukakan banyaknya sarjana yang masih menganggur dikarenakan mereka tidak yakin dan tidak siap dengan kemampuan di bidang masing- masing. Menurutnya, perusahaan sulit mencari tenaga kerja atau pegawai profesional, karena banyak pelamar yang tidak yakin terhadap dirinya dan kemampuan yang dimiliki.

Sementara Setiadhie (2004), seorang Sarjana Hukum yang saat ini menjabat sebagai Dirut sebuah perusahaan Agribisnis mengemukakan, banyaknya sarjana yang masih menganggur adalah karena ketidakmampuan dalam menggali potensi yang ada pada dirinya dan yang ada di lingkungan sekitarnya. Ketidakmampuan ini berpengaruh pada sikap, sehingga banyak dari mereka ingin bekerja pada sebuah perusahaan yang besar, sementara potensi sumber daya alam di sekitarnya terabaikan.

Bekerja tidak lepas dari pekerjaan sebagai aktivitas yang dilakukan, Magnis (Anoraga, 2001) berpendapat bahwa pekerjaan adalah kegiatan yang direncanakan, yang memerlukan pemikiran khusus, dilaksanakan tidak hanya karena pelaksanaan kegiatan itu sendiri menyenangkan melainkan karena individu bersedia dengan sungguh- sungguh mencapai suatu hasil karya yang dapat dimanfaatkan oleh individu itu sendiri atau masyarakat luas. Bekerja sebagai sarana untuk meningkatkan taraf kehidupan manusia. Secara substansi dalam diri setiap individu selalu ada keinginan agar kehidupannya meningkat, lebih baik daripada yang kemarin (Kedaulatan Rakyat, 2004).

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: