EKPLORASI TERHADAP KEBIJAKAN YANG RAMAH TERHADAP WANITA (WOMEN FRIENDLY POLICY) DI PERUSAHAAN

Pendahuluan

Dalam dekade terakhir ini, wanita telah semakin banyak melakukan hal-hal yang semula dipandang “hanya untuk pria”. Khususnya, peran serta wanita dalam pekerjaan berupah meningkat dengan pesat, mengurangi eksklusivitas pria sebagai pencari nafkah bagi keluarga. Hal ini membuktikan bahwa pembedaan yang kaku antara apa yang harus dilakukan pria dan apa yang harus dilakukan wanita sedang di ambang kehancuran dan memperlihatkan bahwa wanita memperoleh kesempatan berdasarkan kemampuannya untuk menjalankan perannya seluas-luasnya baik sebagai ibu rumah tangga maupun wanita karier.

Di tahun 1940, hanya 15% wanita menikah yang bekerja mencari nafkah, tetapi pada tahun 1975 bilangan ini telah meningkat sampai 44% (Bane dalam Sears, 1991). Sedangkan di tahun 2006, di Indonesia tercatat presentase wanita yang memilih untuk berkarier sebanyak 31,2% dan pekerjaannya meliputi semua sektor bidang usaha (Tempo, 18-24 Desember 2006). Tidak jarang pula wanita yang sudah menikah dan mempunyai anak yang masih kecil ikut berperan dalam sektor publik atau memiliki pekerjaan berupah. Di sisi lain, wanita juga memperlihatkan peningkatan dalam dunia pendidikan tinggi. Pada tahun 1978, untuk pertama kalinya dalam sejarah Amerika Serikat, lebih banyak wanita daripada pria yang masuk di perguruan tinggi (Sears dkk, 1991).

Sedangkan di Indonesia, wanita yang memperoleh pendidikan tinggi sebanyak 91,5%, hanya selisih 5,1% dengan pria yang memiliki presentase 96,6% (Tempo, 18-24 Desember 2006). Hal ini merupakan perubahan pribadi dan sosial yang sangat berarti.
Walaupun demikian, masih jauh bagi wanita untuk menjadi rekan yang setara dalam dunia kerja. Dalam setiap masyarakat yang telah diteliti, kaum laki-laki dan perempuan memiliki peran gender yang berbeda. Ini dibuktikan oleh suatu studi yang meneliti mengenai pembagian kerja berdasarkan gender (gender division of labor), dimana hasil studi tersebut menemukan hanya 14 kegiatan dari 50 macam bentuk pekerjaan di 186 masyarakat yang secara mencolok dilakukan oleh laki-laki di hampir semua masyarakat (Mosse, 1991).

Gender itu sendiri mempunyai arti sebagai seperangkat peran yang, seperti halnya kostum dan topeng di teater, menyampaikan kepada orang lain bahwa kita adalah feminin atau maskulin. Perangkat perilaku khusus ini – yang mencakup penampilan, pakaian, sikap, kepribadian, bekerja di dalam dan di luar rumah tangga, seksualitas, tanggung jawab keluarga dan sebagainya – secara bersama-sama memoles “peran gender” kita. Salah satu hal yang paling menarik mengenai peran gender adalah peran-peran itu berubah seiring waktu dan berbeda antara satu kultur dengan kultur lainnya. Di samping itu, ada beberapa hal yang amat mempengaruhi peran, yaitu kelas sosial, usia dan latar belakang etnis. Kelas sosial hampir selalu berkaitan dengan urusan memutuskan peran gender yang pantas karena memiliki jenis kelamin (sex) biologis tertentu.

Oleh karena itu, jenis kelamin merupakan salah satu kategori yang paling mendasar dalam kehidupan sosial yang pada akhirnya menimbulkan suatu stereotip jenis kelamin, yaitu keyakinan tentang penggolongan-golongan ciri-ciri kepribadian pria dan wanita. Kemungkinan besar stereotip tersebut akan mempengaruhi persepsi terhadap orang lain bila kita memiliki informasi dan bila jenis kelamin seseorang tampil sangat mencolok. Salah satu masalah dari adanya stereotip jenis kelamin adalah bahwa hal tersebut dapat membiaskan prestasi kerja pria dan wanita.

Selama bertahun-tahun, gagasan mengenai pembagian kerja berdasarkan gender yang tepat memaksa banyak perempuan keluar dari pekerjaan dengan cara, misalnya, mencegah mereka melakukan giliran kerja malam. Menurut Fiske (dalam Bauer, 2002), dalam pekerjaan perempuan mendapatkan hasil yang lebih baik atau memuaskan dalam menyelesaikan pekerjaannya tetapi kurang mampu atau kompeten dalam proses penyelesaian pekerjaannya, namun pria lebih kompeten atau mampu dalam proses penyelesaian pekerjaannya tetapi hasilnya tidak begitu memuaskan atau sempurna. Penelitian yang dilakukan oleh Ancok dkk (dalam Ancok, 2004) dengan menggunakan sampel penelitian orang Indonesia, menemukan adanya bias di dalam menilai kemampuan pria dan wanita. Disini pria dianggap unggul dalam bidang perdagangan, arsitektur, kedokteran, kewartawanan, hukum, politik, dan musik.

Download Selengkapnya

Download Versi Lengkap

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: